Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts

Thursday, 29 March 2012

Jakarta Art Award 2012 : Dunia Ideal

Woroworo.. Jakarta Art Award mengadakan kompetisi Seni Lukis. Dengan hadiah Utama Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah).
Mantap tuh..

Untuk lebih jelas ini berita komplitnya:

Kompetisi Seni Lukis: Jakarta Art Award 2012
Tema

Pada tahun penyelenggaraan ke-empat Jakarta Art Award kali ini, Pihak penyelenggara telah menentukan tema kompetisi, yaitu Dunia Ideal (Menafsirkan Kehidupan yang Sempurna).

Syarat dan Ketentuan

Lukisan tidak dibatasi kategori (kontemporer, modern, post tradisional, tradisional, klasikal, dan lain-lain). Media bebas. Bersifat 2 dimensional. Boleh menggunakan bantuan kolasi atau instalasi.

Indonesia:
Berukuran minimal bersisi 50 cm. Maksimal bersisi total 200 cm.

Internasional:
Berukuran minimal bersisi 50 cm. Maksimal bersisi total 120 cm.

1. Peserta minimal berusia 15 tahun (terhitung sejak 1 Januari 2012).

2. Peserta menyertakan fotocopy KTP atau identitas lainnya dengan CV secara lengkap.

3. Peserta mengirimkan foto lukisan dalam ukuran 10 R (dalam kualitas sempurna), dengan disertai judul, ukuran, media, tahun pembuatan yang ditulis di belakang foto, dengan disertai konsep, isi atau muatan karya yang dikompetisikan.

4. Untuk peserta Internasional boleh mengirimkan lewat media on line, dengan alamat : jakartaartaward@yahoo.com

5. Tiap peserta boleh mengirimkan maksimal 5 (lima) karya. Karya yang boleh diikutkan adalah ciptaan tahun 2010 – 2012

6. Karya yang diikutkan dalam Jakarta Art Award tidak sedang diikutkan dalam kompetisi lain.

7. Karya yang dikompetisikan harus boleh dijual dalam pameran Jakarta Art Award.

8. Batas pengiriman foto lukisan adalah Jum’at 4 Agustus 2012, cap pos.

9. Nominator kompetisi akan dihubungi per telepon dan secara tertulis oleh Panitia.

10. Pemenang kompetisi akan diumumkan 28 September 2012 di Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta, dalam acara pameran “Jakarta Art Award 2012 : ”Dunia Ideal”.

Juri

Dewan Juri Jakarta Art Award 2012 :

- DR. Ing. Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta)
- Prof. Srihadi Soedarsono, MA (pelukis)
- Dr. Oei Hong Djien (kolektor, pengamat seni)
- Agus Dermawan T. (kritikus)
- Agung Rai (direktur museum)
- Prof. DR. M. Dwi Marianto (kurator, pendidik)
- Seno Joko Suyono (wartawan seni budaya)
- Frans Sartono (wartawan seni budaya)
- Wang Zhineng (Christie’s International Hongkong, Singapura)

Penghargaan & Hadiah Jakarta Art Award 2012:

Memperebutkan 9 penghargaan:

Indonesia:

1 (satu) Karya Utama Rp. 100.000.000,-
5 (lima) Karya Juara @ Rp. 75.000.000,-

Internasional:

3 (tiga) Karya Terbaik @ US$. 7000,-
Semua juara disertai Trofi dan Piagam


Korespondensi

Alamat Panitia Lomba :

Karya-karya yang disertakan dikirim ke :

Panitia Jakarta Art Award 2012
NORTH ART SPACE
PASAR SENI ANCOL
Jalan Lodan Timur no.7 – Jakarta Utara 14430

Telpon/fax : +62 21 6411874
Email : jakartaartaward@yahoo.com

Tuesday, 10 January 2012

Menikmati karya franz Wilhelm Junghuhn



Franz Wilhem Junghuhn yang dianggap sebagai “Humbolt pulau Jawa” mengabdikan dirinya pada alam tanah Jawa yang dianggapnya sebagai rumah kedua dan telah menghasilkan banyak penemuan-penemuan penting, salah satunya ditulis dan digambar dalam bukunya “ Lukisan Alam Jawa” yang memiliki kontribusi cukup besar bagi kenyataan-kenyataan ilmiah mengenai pulau Jawa saat ini.



Lahir pada 26 Oktober 1809 di kota Mansfeld, Jerman, dari seorang ayah yang berwatak keras dan seorang ibu yang lemah lembut, menjadikan Junghuhn seorang yang juga berwatak keras, berkepribadian bebas dan tidak suka terikat, dan bersifat penyendiri. Kecintaannya pada pengetahuan alam, menyebabkan kuliah kedokterannya berjalan kurang baik karena Junghuhn lebih fokus untuk merancang buku tentang mikologi (ilmu jamur-red) dan botani (ilmu tumbuhan-red).

Setelah lulus ujian kedokteran dan berkiprah sebagai seorang dokter militer kelas III pada pasukan kolonial Belanda, mengantarkan Junghuhn tiba di Batavia (sekarang Jakarta-red) pada 13 Oktober 1835. Namun, ketertarikannya pada bidang botani terutama mikologi mendorongnya untuk melakukan ekspedisi di beberapa tempat di Yogyakarta (seperti: pantai selatan, Rongkop Imogiri, Prambanan, Salatiga, Magelang, Borobudur) dan Jawa Barat (seperti: Pelabuhan Ratu, Priangan, Cirebon).
Setelah lulus ujian dokter militer kelas II di Batavia, Junghuhn tinggal di Tanah Priangan (Cianjur, Pangalengan, Lembang, Garut) dan menyusun manuskipnya tentang Tanah Batak yang dapat diterbitkan dalam bahasa Belanda (1844) dan bahasa Jerman (1847).


Artikelnya yang berjudul “Beiträge zur Geschichte der javanischen Vulkane (Sumbangan untuk Sejarah Gunung-Gunung Vulkanik di Jawa-red)”, diterbitkan oleh van Hoevell yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerlands Indie (TNI), namun menjadi pemicu konfrontasi dengan ahli holtikultural Taman Botani Bogor, Johan Elias Teysmann, yang Junghuhn sudah menganggapnya sebagai “Professor of Vegetables (Profesor Sayuran-red).

Penelitian Junghuhn di pulau Jawa, ia fokuskan mengenai geografi gunung berapi dan pengamatannya tentang pengrusakan pulau Jawa oleh kolonial Belanda. Awalnya, ia ingin menerapkan ilmu mikologinya yang dipelajarinya di Sidney, tetapi tidak terlaksana karena Junghuhn terlalu terpesona pada kekayaan tumbuhan segala jenis yang hidup di tanah Jawa.



Junghuhn sempat mendaki 43 gunung berapi di pulau Jawa dan menjadi pendaki Eropa pertama. Pengamatan Junghuhn adalah penting karena menawarkan hipotesis baru bahwa gunung berapi terbentuk dengan sendirinya dalam waktu yang lama dengan penumpukan batuan dan lava. Adanya gunung berapi dengan lingkaran kawah yang besar, terbentuk karena adanya kekuatan dari dalam gunung berapi yang sangat besar. Hal ini terjadi di Sumatera, dimana Danau Toba merupakan hasil dari letusan gunung berapi.



Penelitiannya di Jawa Tengah yang dihabiskannya selama setahun penuh, menerbitkan buku pertamanya yaitu “Topographische und naturwissenschaftliche Reisen (Perjalanan Topografi dan Ilmu Alam-red)”.



Dokumentasi dari karya-karya Junghuhn dapat diperoleh di Foto Buku di Belanda. Yang masih tidak berubah adalah belum adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia sehingga hanya diketahui oleh orang Eropa saja sehingga masih bisa dikatakan sebagai proyek kolonial. Pada saat ini, sudah tidak ada lagi proyek kolonial dan diharapkan kedepannya semua orang terutama masyarakat Indonesia dapat mengetahui informasi ini.

Monday, 9 January 2012

Menikmati karya Walter Spies


Spies mengembangkan kesenian Bali. Bersama Beryl de Zoete, Spies menulis Dance & Drama in Bali, salah satu catatan paling awal tentang tari dan drama di luar budaya Barat. Dia juga terlibat dalam pembuatan film The Island of Demons bersama Baron Viktor van Plessen. Spies mendanai pembuatan film itu dari uang warisan pemberian Friederich Murnau yang meninggal pada 1931. Film itu punya pengaruh besar pada persepsi dunia tentang Bali.


Pada 1923, Spies bertolak meninggalkan Eropa dan berlabuh di Hindia Belanda, tempat yang dulu kerap dia kunjungi bersama Murnau. Selama sekira dua tahun dia menetap di Pulau Jawa, dia menjadi teman baik Sultan Djojodipuro, putra mahkota Kesultanan Yogya, dan bahkan tinggal di keraton. Dia memimpin orkes Keraton Yogya dan sesekali menjadi pemain piano pengiring di acara pagelaran musik. Dia juga mempelajari gamelan dan menciptakan notasi khusus yang memungkinkan musik gamelan dimainkan pada piano, dan sebaliknya. Pada 1925 Spies mengunjungi Bali dan kemudian jatuh cinta pada alam dan orang-orang di sana. Dia pun menetap di Bali.

Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.

Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939.

Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya






Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu, yang mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda dibom armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara..

Walter spies pun tewas.. meninggalkan karya-karyanya yang indah.

Monday, 19 December 2011

dari JAKARTA BIENNALE#14.2011



Jakarta Biennale XIV 2011 mengangkat tema besar "Maximum City: Survive or Escape?" Dengan tema ini, kami ingin mengajak para seniman untuk merespons fenomena Kota Jakarta yang sudah sesak. Sebab di saat yang bersamaan masyarakat Jakarta juga menempuh jalannya sendiri dalam mencoba bertahan atau malah kabur dari semua kesesakan ini. Apakah nantinya terjadi paralelisme antara tanggapan seniman dengan sikap masyarakat Jakarta terhadap kotanya, itulah yang akan teruji dalam biennale ini.


Di jakarta ini jadi orang harus tahan banting. Jika tidak kuat lebih baik menyingkir. Karena kota inilebih kejam dari ibu tiri. Makan minum dan tidur semua berlangsung cepat. Pagi macet sore macet. Malam terang siang hiruk pikuk. Warga kaya di gedung mewah hidup bersebelahan dengan kaum miskin di tenda-tenda kumuh pinggir sungai. Budaya modern-rasional berdiri sejajar dengan yang tradisional-mistis. Begitu pula antara semangat komunal dan individual, paham sektarian-fundamentalis dan multikultursalis-liberalis

Kota yang sangar dan sumpek. Penduduknya mencapai 9 juta orang, tetapi bisa membengkak menjadi sekitar 12 juta orang jika memperhitungkan para pekerja dari pinggiran yang memenuhi Jakarta siang hari.

Jadi mana mau dipilih : bertahan di sini atau pulang kampung? Survive or Escape?