Showing posts with label Sidrap. Show all posts
Showing posts with label Sidrap. Show all posts

Friday, 24 February 2012

PIRAMID SIDRAP



Dilihat dari Gunung Malocci....
Piramid atau bukan Biar Ahli yang Menentukannya...
Saya cuma berharap Ada Piramid Di SULSEL, khususnya di AJATAPPARENG,
agar tidak jauh2 ke MESIR untuk Melihat PIRAMID..
Amien....


Pakar genetika dan antropologi dari Universitas Oxford Inggris, Professor Stephen Oppenheimer tidak dapat membenarkan temuan piramida di Gunung Sadahurip, Garut yang disebut-sebut sebagai bukti adanya induk peradaban manusia di Benua Atlantis.

Namun bukunya "Eden in The East" membuat insfirasi untk mencari lebih dalam kehidupan masa lalu Indonesia tidak masalah mau berhubungan atau tidak dengan cerita atlantis, yang jelas membuat rasa penasaran orang tentang asli asal dan bagaimana awal dari kita itu sendiri.

Tanggal 22 feb 2012 seseorang dengan nama Sejarah Indonesia menggunggah video tentang piramida. Video ini menarik karena membuat makin penasarannya saya tentang Piramida dan hubungannya dengan Indonesia. Gunung-gunung yang mirip piramida di Sidrap ini bernama gunung Lowa, gunung Ana Lowa dan gunung Padang. Yang jika sepintas dari nama ada kesamaan nama dengan situs Padang Bulan di Cianjur. Apakah kebetulan..kita tidak tahu. Sambil menunggu waktu membuka semua itu rasanya setiap kemungkinan adalah nyata. Namun untuk itu semua perlu dilakukan riset ilmiah untuk mencari bukti-bukti yang benar sehingga bisa memberikan penjelasan akademis yang bisa diterima semua pihak.

JOURNEY TO CELEBES : Mengenal agama Tolotang Sidrap




Di Kabupaten Sidrap ada komunitas Hindu yang menganut kepercayaan yang sebetulnyamirip agama Hindu tetapi bukan hindu. Karena agama mereka ini bukan berasal dari India. Jika kita pernah membayangkan teori Oppeheimer tentang manusia atlantis yang hilang entah kemana maka cerita tentang asal usal usul agama To Lotang ini mungkin akan terlihat nyambung. Soal kebenarannya wallahualam.


To Lotang atau To Wani merupakan istilah yang pertama kali diucapkan oleh La Patiroi, Addatuang Sidenreng VII, untuk menyebut pendatang yang berasal dari arah Selatan, yaitu Wajo. Dimana To Lotang terdiri atas 2 (dua) kata yaitu kata To (bahasa Bugis) yang berarti orang dan kata lotang yang berasal dari bahasa Bugis Sidrap yakni Lautang yang berarti Selatan.


Penganut Tolotang percaya bahwa manusia pertama dibumi ini sudah musnah. Adapun manusia yang hidup sekarang adalah manusia periode kedua, setelah manusia pertama musnah. Menurut buku I Lagaligo begini ceritanya..

Suatu ketika, PatotoE (Dewata SeuwaE) tertidur lelap. Ketiga pengikutnya yang dipercayakan menjaganya, yakni Rukkelleng, Rumma Makkapong dan Sangiang Jung, pergi mengembara ke dunia lain. Ketika mereka sampai di bumi, ketiganya melihat bahwa ada dunia kosong. Sekembalinya dari pengembaraan, ketiganya bertemu dengan PatotoE, lalu menceritakan pengalaman yang mereka saksikan, bahwa masih ada dunia yang kosong. Mereka usulkan agar diutus seseorang untuk tinggal di dunia kosog itu. Rupanya PatotoE tertarik dengan cerita tersebut. PatotoE lantas berunding dengan istrinya Datu Palinge dan seluruh pimpinan di negeri Kayangan. Setelah istrinya setuju, maka diutuslah Batara Guru turun ke bumi. Masyarakat sekarang menyebutnya Batara Guru sebagai Tomanurung.

Setelah beberapa lama di bumi, Batara Guru merasa kesepian. Ia minta agar diturunkan satu manusia lagi ke bumi. Maka turunlah I Nyili Timo, putri dari Riseleang. Batara Guru kemudian kawin dengan I Nyili Timo. Hasil dari perkawinannya tersebut membuahkan seorang putra, namanya Batara Lettu. Setelah Batara Lettu dewasa, ia kemudian dikawinkan dengan Datu Sengngeng, putri dari Leurumpesai.

Hasil perkawinannya melahirkan dua anak kembar, satu putra dan satu putri. Yang putra bernama Sawerigading sedangkan yang putri bernama I Tenriabeng.

Sawerigading kemudian kawin dengan I Cudai, salah seorang putri raja dari Cina. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak, yang bernama Lagaligo.

Pada masa Sawerigading, negeri makin aman. Penduduk sangat tunduk pada perintahnya. Setelah Sawerigading meninggal, masyarakat menjadi kacau. Terjadi pertengkaran dimana-mana hingga banyak menelan korban. Peristiwa tersebut membuat Dewata SeuwaE marah. Dewata lantas menyuruh semua manusia agar kembali ke asalnya, maka terjadilah dunia kosong.

Setelah sekian lama dunia kosong, PatotoE kembali mengisi manusia di bumi ini sebagai generasi kedua. Manusia yang diturunkan oleh PatotoE inilah yang akan meneruskan keyakinan yang dianut oleh Sawerigading sebelum dunia dikosongkan oleh PatotoE.

Dalam keyakinan penganut Tolotang, ajaran Dewata SeuwaE itu diturunkan sebagai Wahyu pada La Panaungi. Wahyu yg didengar La Panaungi sbb : Berhentilah bekerja, terimalah ini yang saya katakan. Akulah DewataE, yang berkuasa segala-galanya. Aku akan memberikan keyakinan agar manusia selamat di dunia dan hari kemudian. Akulah Tuhanmu yang menciptakan dunia dan isinya. Tetapi sebelum kuberikan wahyu, bersihkanlah dirimu. Setelah wahyu ini diterima, sebarkanlah pada anak cucumu.

Suara itu turun tiga kali berturut-turut. Untuk membuktikan keyakinan yang diberikan itu, DewataE membawa La Panaungi ke tanah tujuh lapis dan ke langit tujuh lapis untuk menyaksikan kekuasaan DewataE pada dua tempat, yakni Lipu Bonga, yang merupakan tempat bagi orang-orang yang mengikuti perintah DewataE.


Ajaran yang diterima oleh La Panaungi ini kemudian disebarkan pada penduduk, hingga banyak pengikutnya. Dalam ajaran Tolotang, pengikutnya dituntut mengakui adanya Molalaleng yakni kewajiban yang harus dijalankan oleh pengikutnya.

Kewajiban dimaksud adalah : Mappianre Inanre, yakni persembahan nasi/makanan yang dipersembahkan dalam ritus/upacara, dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauk ke rumah uwa dan uwatta.

Tudang Sipulung, yakni duduk berkumpul bersama melakukan ritus pada waktu tertentu guna meminta keselamatan pada Dewata. Sipulung, berkumpul sekali setahun untuk melaksanakan ritus tertentu di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Biasanya dilakukan setelah panen sawah tadah hujan. Menyangkut kejadian manusia, Tolotang juga mengenal empat unsur kejadian manusia, yakni tanah, air, api dan angin.

Dalam acara ritual, keempat unsur tersebut disimbolkan pada empat jenis makanan yang lebih dikenal dengan istilah Sokko Patanrupa (nasi empat macam).

Yakni nasi putih diibaratkan air, nasi merah diibaratkan api, nasi kuning diibaratkan angin dan nasi hitam diibaratkan tanah. Itulah sebabnya, setiap upacara Mappeanre atau Mappano Bulu, sesajiannya terdiri dari Sokko Patanrupa.

Sebelum La Panaungi meninggal, ia sempat berpesan untuk meneruskan ajaran yang ia terima dari DewataE dan minta agar pengikutnya berziarah ke kuburannya sekali setahun. Itulah sebabnya, kuburan La Panaungi telah banyak diziarahi pengikutnya setiap saat. Penganut agama Tolotang ini sempat berkembang, tetapi pada abad ke-16,ketika Islam berpengaruh di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, jumlah penganut Tolotang cenderung menurun karena hampir semua kerajaan bugis masuk Islam.

Pada Tahun 1609, Addatuang Sidenreng, La Patiroi dan mantunya La Pakallongi, secara resmi menerima Islam sebagai agamanya dan menjadikannya sebagai agama kerajaan. Dan tahun 1610 di Wajo kerajaan Batu pun masuk Islam sehingga semua rakyatnya diwajibkan masuk Islam. Orang-orang Wani semua menolakmasukIslam sehingga mereka diusir dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke tempat lain yang mau menerima mereka.

dipimpin oleh I Goliga dan I Pabbere, meninggalkan tanah leluhurnya, Wajo dan hijrah ke Tanah Bugis lainnya. I Goliga akhirnya tiba di Bacukiki, Parepare dan I Pabbere sampai di Amparita yang kemudian mengadakan perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi.

Akhirnya I Pabbere diberikan izin untuk menetap di Loka Popang (susah dan lapar), sebelah selatan Amparita, dengan syarat :
1. Adat Sidenreng tetap utuh serta harus dipatuhi
2. Keputusan harus dipelihara
3. Janji harus ditepati
4. Suatu keputusan yang telah berlaku harus lestarikan
5. Agama Islam harus diagungkan dan dijalankan.

Setelah rombongan I Pabbere menetap dan bertani di Loka Popang, kemudian nama tersebut diganti dengan nama Perrinyameng, yang berarti setelah susah datanglah senang.

Di tempat inilah, I Pabbere meninggal dunia yang kemudian juga dimakamkan di Perrynyameng. Dalam versi lain disebutkan bahwa pendiri Toani Tolotang adalah La Panaungi. Penganut Toani Tolotang ini mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE.



Sekitar Tahun 1964-1965, terjadi Operasi Mappakaira yang dipimpin oleh Mayor Asap Marwan, yang bertujuan untuk menghentikan tradisi masyarakat To Lotang. Operasi ini dilakukan atas permintaan kaum legislatif (DPRD) waktu itu, oleh karena ajaran To Lotang tidak diakui sebagai agama yang berhak berkembang dan To Lotang diakui hanya sebagai kebudayaan.

Operasi Makkaira membuat sebagian masyarakat To Lotang masuk Islam dan sebagian lainnya tetap menjalankan tradisi nenek moyang, walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi.

Ajaran Tolotang bertumpu pada 5 (lima) keyakinan, yakni :
1. Percaya adanya Dewata SeuwaE, yaitu keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa
2. Percaya adanya hari kiamat yang menandai berakhirnya kehidupan di dunia
3. Percaya adanya hari kemudian, yakni dunia kedua setelah terjadinya kiamat
4. Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan
5. Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci Penyembahan To Lotang kepada Dewata
SeuwaE berupa penyembahan kepada batu-batuan, sumur dan kuburan nenek moyang.

Dalam masyarakat Tolotang terdapat 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Benteng dan Kelompok To Wani To Lotang. Kedua kelompok ini memiliki tradisi yang berbeda dalam beberapa prosesi, misalnya dalam prosesi kematian dan pesta pernikahan.

Bagi Kelompok Benteng, tata cara prosesi pernikahan dan kematian sama dengan tata cara dalam agama Islam. Sedangkan tata cara kematian kelompok To Wani To Lotang berupa pemandian jenazah yang kemudian dibungkus dan dilapisi dengan menggunakan daun Sirih. Untuk prosesi pernikahan Kelompok To Wani To Lotang dilaksanakan di hadapan Uwatta, yakni pemimpin ritual yang masih merupakan keturunan langsung dari pendiri To Wani To Lotang. Bagi Kelompok To Wani To Lotang, ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil tempat di Perrynyameng yang merupakan lokasi kuburan I Pabbere.

Pada waktu tersebut masyarakat To Wani To Lotang membawa sesajian berupa nasi dan lauk pauk yang diyakini merupakan bekal di hari kemudian. Dimana semakin banyak sesajian yang dibawa, maka semakin banyak pula bekal yang akan dinikmati di hari kemudian.


Bagi Kelompok Benteng, ritual Sipulung dilaksanakan di sumur PakkawaruE, dimana pada siang hari masyarakat berkumpul di kediaman Uwatta dan barulah pada malam hari melaksanakan prosesi Sipulung. Prosesi Sipulung berupa pembacaan lontaraq oleh Uwatta, dimana masyarakat yang hadir pada saat itu memberikan daun Sirih dan Pinang kepada Uwatta.


Upacara Adat To Lotang dilakukan oleh masyarakat To Lotang yang dilaksanakan di Bulu (Gunung) Lowa, berada di poros Kota Pangakajene dengan Kota Soppeng dan terletak di Amparita Kecamatan Tellu Limpoe. Daerah ini merupakan lokasi upacara adat Perrynyameng. Ritual tersebut dilakukan sekali setahun (Bulan Januari), dengan waktu pelaksanaan harus dimusyawarahkan oleh tokoh-tokoh (Uwa) Tolotang. Ritual adat dilaksanakan karena adanya pesan dari Perrinyameng. Apabila telah menghembuskan napas terakhirnya maka anak cucunya harus datang menziarahinya sekali setahun. Penyiraman minyak bau (berbau harum) oleh Uwa, atraksi Massempe (permainan adu kekuatan kaki).

Semua pengikut sealiran dari berbagai desa/kota berkumpul dengan berpakaian serba putih-putih, sarung dan tutup kepala (kopiah hitam) untuk para laki-laki, sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian seperti kebaya. Pada saat ritual upacara, mereka duduk bersila di atas tikar tradisional dengan penuh hikmat dan keheningan serta konsentrasi pemusatan jiwa dan raga kepada sang pencipta (Dewata SeuwaE). Selanjutnya dilanjutkan dengan penyembahan oleh wa, ditandai dengan penyiraman minyak bau (minyak berbau wangi-wangian) pada batu leluhur yang sangat disakralkan, kemudian dilanjutkan kegiatan Massempe.

Jarak lokasi upacara adat dengan Kota Pangkajene sebagai ibukota kabupaten sekitar 7 Km. Dalam konteks budaya To Lotang, mereka sangat menghormati makam tua Pammasetau. Makam Tua Pammasetau merupakan makam bagi ummat kepercayaan To Lotang yang dijadikan sebagai tempat ritual dan penyembelihan hewan untuk maksud-maksud tertentu (nazar). Pada umumnya kuburan yang ada batu nisannya masih berupa batu alami (batu sungai) yang bentuknya besar-besar.

Makam ini terletak di Desa Cenrana Kecamatan Panca Lautang. Jarak dari Kota Pangkajene sekitar 28 Km dan untuk sampai ke lokasi makam telah dibangun jalan pengerasan dari jalan poros Kota Pangkajene dengan Kota Soppeng. Untuk sampai ke lokasi makam dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.

Amparita : negeri orang-orang selatan



Amparita, begitulah namanya sebuah kampung yang tak jauh dari keramaian kota Pangkajene SIDRAP. Terletak di kecamatan Tellu Limpoe, sekitar 8 kilometer dari Pangkajene. Sangat mudah dijangkau karena jalan menuju tempat ini berkondisi mulus sebab jalur yang melintasi Amparita termasuk jalan poros Pangkajene-Soppeng. Jalanan yang menghubungkan dengan desa-desa tetangga juga relatif bagus.

Di tempat ini kita bisa melihat ibu-ibu bersarung ke pasar sambil membawa bawaannya di kepala. Juga bapak-bapaknya yang bersarung di jalan raya. Ibu dan bapak-bapak ini merupakan komunitas Hindu satu-satunya di Sulawesi Selatan. Sebetulnya bukan Hindu, tetapi oleh masyarakat disana sudah biasa disebut hindu, dan orang-orang ini sering juga disebut To Lotang (orang-orang selatan).

Jangan berharap ada candi atau pura disini, satu satunya landmark yang ada Cuma patung Bau Masseppe pahlawan Nasional Sidrap di pasar sentral Amparita . Menurut sejarahnya mereka adalah orang-orang yang terusir dari tanah airnya..
Abad ke 17, Islam menjadi agama resmi di hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, tidak terkecuali Kerajaan Wajo (1610). Matoa Wajo ketika itu langsung mengistruksikan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang baru tersebut. Namun sekelompok masyarakat yang tinggal di kampung Wani ingin mempertahankan kepercayaan yang sudah dianutnya secara turun temurun. Melihat pembangkangan orang Wani maka Matoa Wajo mengusir orang-orang tersebut keluar dari kampungnya, dan tidak memperbolehkan mereka tinggal dalam wilayah kerajaan Wajo.

Dan orang-orang Wani pun keluar meninggalkan kampungnya. Exodus ini terbagi atas dua rombongan yang dipimpin oleh I Paqbere dan I Goliga. (Ipabbere adalah seorang perempuan, makamkan saat ini ada di Perinyameng, sebuah daerah di sebelah barat Amparita. Makam Ipabbere inilah yang kemudian selalu dikunjungi dan ditempati untuk acara tahunan komunitas ini.)

Setelah berhari-hari berjalan ia melewati beberapa kerajaan di luar Wajo dan meminta untuk bermukim di wilayah tersebut akan tetapi tak ada yang memberinya lahan, karena kerajaan-kerajaan Bugis waktu itu sudah Islam. Akhirnya orang-orang Wani ini memasuki wilayah Amparita yang merupakan bagian Kerajaan Sidenreng. Orang-orang Wani yang sudah kelelahan dan kelaparan meminta izin kepada raja agar diperbolehkan tinggal di daerahnya, Addatuang Sidenreng saat itu tidak tega melihat mereka terlunta-lunta sehingga berbaik hati untuk memberikan tempat tinggal untuk orang-orang terusir itu di bagian selatan kerajaannya, yaitu di wilayah Amparita. Disini mereka hidup tentram dibawah lindungan Addatuang Sidendreng. Mereka saatini sering disebut dengan nama Tolotang atau orang selatan (to = orang, lotang = lautang =selatan).

Kelompok ini bertempat tinggal di sebelah selatan jalan raya (benteng) dalam kerajaan. Orang To Lotang dikenal dua kelompok. Kelompok pertama adalah Tolotang Towani yang hindu dan To lotang Benteng (sekarang lautang Benteng di kec. MARITENGNGAE ) yang menganut agama Islam.

Sejak tahun 1966, kepercayaan orang Tolotang kemudian diakui sebagai salah satu agama setelah ia terdaftar sebagai salah satu sekte dalam agama Hindu. Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, No.2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966. Surat Keputusan tersebut di sempurnakan kemudian dengan Surat Keputusan No. 6 Tahun 66, tertanggal 16 Desember 1966.

Setiap tahun selalu saja ada upacara yang digelar di daerah Amparita dan sekitarnya, misalnya di Otting dan Bacukiki (masuk wilayah Kota Pare-pare). Acara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Januari itu juga merupakan pesan dari Ipabbere, sebab beliau berpesan ke anak cucunya bahwa jika kelak ia meninggal, kuburnya harus diziarahi sekali setahun.

Amparita secara administratif berbentuk kelurahan dan dipimpin oleh lurah yang diangkat oleh Bupati. Di sebelah timur, kelurahan Amparita berbatasan dengan dengan Desa Teteaji, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Allakuang dan Toddang Pollu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Masseppe dan sebelah utara berbatasan dengan Arateng. Dari catatan BPS Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2005, luas wilayah Amparita adalah 6, 69 km2 . Pada musim kemarau seperti sekarang ini kawasan Amparita dan sekitarnya tampak berdebu, kering, kusam, dan sangat panas.

Kebanyakan penduduk Amparita saat ini adalah petani karena Tanah di kawasan Amparita dan secara umum di Sidenreng Rappang memang cocok untuk lahan pertanian. dari segi ekonomi, sejauh pengamatan sekilas saya, bisa dikatakan bahwa kalangan pemeluk tolotang—terutama elit-elitnya—adalah orang yang cukup berada. Mereka punya modal ekonomi dan modal sosial yang lebih dari memadai. Ada yang jadi pengusaha ternak sukses yang punya 7000 ayam petelor yang bisa punya omset sekitar 60 juta tiap bulan. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten selama dua periode. Ada yang mempunyai tiga buah usaha penggilingan padi besar di Pangkajene. Bahkan pada periode 2004-2009 ada dua pemeluk Tolotang yang menjadi anggota DPRD di kabupaten Sidenrang Rappang ini.

“Sebagai komunitas yang terbuka, memang tidak menutup kemungkinan ada warga kita yang keluar dari Tolotang. Memang dipersilakan. Tidak dipermasalahkan. Tapi sebaliknya, juga demikian. Ada juga penganut lain yang mau bergabung dengan kami. Hanya memang, hal itu sangat sulit. Bahkan, bisa jadi tidak bisa. Sebab, prinsip kami, Tolotang tidak berkembang dengan menerima orang lain. Kami tidak pernah seperti itu. Kita berkembang berdasarkan anak cucu.

Komunitas ini bertahan hingga kini, juga karena adanya doktrin dari nenek moyang kepada keturunannya. Sejak kecil, anak-anak Tolotang sudah diberi pemahaman dan pesan khusus soal Towani Tolotang. Para Wa-lah yang paling berperan untuk memberi pemahaman. Wa dikami ibarat ustad di Islam. Merekalah yang mengambil peran dalam memberi pencerahan agama di tolotang. Meski demikian, seiring perkembangan zaman, ada juga beberapa warga kami yang akhirnya berubah. Ada yang memeluk Islam.
Bahkan, banyak yang sudah berhaji. Setelah berpindah agama, tidak ada lagi kewenangan mereka di Tolotang. Pernikahan juga menjadi salah satu pemicu adanya pergeseran ini. Dan kami memang cukup ketat soal itu. Semua yang menikah di luar Tolotang, termasuk Islam, berarti sudah keluar. Mereka tidak diakui lagi,” kata Wa Eja, seorang tokoh masyarakat di Tolotang.

Thursday, 5 January 2012

Kelurahan di Sidrap (Sindenreng Rappang)



1. Kecamatan Baranti

- Kelurahan/Desa Baranti (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Benteng (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Duampanua (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Manisa (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Panreng (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Passeno (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Sipodeceng (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Tonronge (Kodepos : 91652)
- Kelurahan/Desa Tonrong Rijang (Kodepos : 91653)

2. Kecamatan Dua Pitue

- Kelurahan/Desa Ajubissue (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Ana Banna (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Betao (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Betao Riase (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Bulu Cenrana (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Dongi (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Kalempang (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Lancirang (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Lasiwala (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Otting (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Ponrangae (Kodepos : 91683)
- Kelurahan/Desa Sumpang Mango (Kodepos : 91683)

3. Kecamatan Kulo

- Kelurahan/Desa Abbokongeng (Kodepos : 91653)
- Kelurahan/Desa Kampung Baru (Kodepos : 91653)
- Kelurahan/Desa Kulo (Kodepos : 91653)
- Kelurahan/Desa Madenra (Kodepos : 91653)
- Kelurahan/Desa Mario (Kodepos : 91653)
- Kelurahan/Desa Rijang Panua (Kodepos : 91653)

4. Kecamatan Maritengngae

- Kelurahan/Desa Allakuang (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Kanie (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Lakessi (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Lautang Benteng (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Majelling Watang (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Majjelling (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Pangkajene (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Rijang Pittu (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Takkalasi (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Tanete (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Wala (Kodepos : 91611)
- Kelurahan/Desa Sereang (Kodepos : 91615)

5. Kecamatan Panca Lautan / Lautang

- Kelurahan/Desa Allesalewoe (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Bapangi (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Bilokka (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Cenrana (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Corawali (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Lajonga (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Lise (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Wanio (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Wanio Timoreng (Kodepos : 91672)
- Kelurahan/Desa Wettee (Kodepos : 91672)

6. Kecamatan Panca Rijang

- Kelurahan/Desa Bulo (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Bulo Wattang (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Cipotakari (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Kadidi (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Lalebata (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Macorawalie (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Rappang (Kodepos : 91651)
- Kelurahan/Desa Timoreng Panua (Kodepos : 91651)

7. Kecamatan Pitu Raise / Pitu Riase

- Kelurahan/Desa Batu (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Belawae (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Bila Riase (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Bola Bulu (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Botto (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Buntu Buanging (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Compong (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Dengeng-Dengeng (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Lagading (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Leppangeng (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Lombo (Kodepos : 91691)
- Kelurahan/Desa Tanatoro (Kodepos : 91691)

8. Kecamatan Pitu Riawa

- Kelurahan/Desa Bila (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Kalosi (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Kalosi Alau (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Padangloang (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Padangloang Alau (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Salo Mallori (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Salobukkang (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Taccimpo (Kodepos : 91681)
- Kelurahan/Desa Tanrutedong (Kodepos : 91681)

9. Kecamatan Tellu Limpoe

- Kelurahan/Desa Amparita (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Arateng (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Baula (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Massepe (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Pajalele (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Polewali (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Teppo (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Teteaji (Kodepos : 91662)
- Kelurahan/Desa Todang Pulu (Kodepos : 91662)

10. Kecamatan Watang Pulu

- Kelurahan/Desa Arawa (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Bangkai (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Batulappa (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Buae (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Carawali (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Ciro-Ciroe (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Lainungan (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Lawawoi (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Mattirotasi (Kodepos : 91661)
- Kelurahan/Desa Uluale (Kodepos : 91661)

11. Kecamatan Wattang / Watang Sidenreng

- Kelurahan/Desa Aka-Akae (Kodepos : 91613)
- Kelurahan/Desa Empagae (Kodepos : 91613)
- Kelurahan/Desa Kanyuara (Kodepos : 91613)
- Kelurahan/Desa Talawe (Kodepos : 91613)
- Kelurahan/Desa Talumae (Kodepos : 91613)
- Kelurahan/Desa Mojong (Kodepos : 91614)
- Kelurahan/Desa Damai (Kodepos : 91616)
- Kelurahan/Desa Sidenreng (Watang Sidenreng) (Kodepos : 91682)

Monday, 26 September 2011

Balo : minuman memabukan dari sidrap



Ballo merupakan minuman keras khas daerah Sulawesi selatan hasil fermentasi dari bermacam buah. Didaerah lain dikenal sebagai tuak. Bahan-bahan dasarnya biasanya dari buah lontar yang diambil dari pohon lontar yang banyak tubuh di tanah sulawesi. Cara pembuatannya mudah. Air buah lontar difermentasi dan dipendam didalam tanah. Setelah terbentuk alkohol maka sudah bisa diminum. Mudah cara pembuatannya namun cepat efeknya bagi tubuh. Jika minum segelas saja cukup membuat pusing dan mabuk kepala. Biasanya disajikan dingin. Namun banyak yang hangatnya.

Harganya murah , cuma Rp 2000 perbotol aqua ukuran sedang. dan Rp 5000 perbotol ukuran Besar, 1 Liter. Ballo ballo ini banyak dijajakan di sepanjang jalan poros Sidrap soppeng. Jika dilihat kita akan berfikir ini air kelapa muda yang segar dan membuat badan sehat. Namun penampilan memang bisa menipu. Saya pertama membayangkan akan segar setelah minum ini. Ehh..malah pusing. mabok.

Sebenarnya ballo tersebar di begitu banyak daerah di Indonesia sehingga sering disebut dengan nama-nama lain, tetapi biasa dikenal sebagai tuak. Disini mengacu pada minuman hasil fermentasi dari buah yang manis.

Sama seperti temannya dari Manado ballo juga sangat memabukkan dengan kadar alkohol yang lebih ringan.

Sebelum minum ballo ini perlu diingat sebagai berikut.

1 gelas tuak penambah darah.
2 gelas, lancar bicara.
3 gelas, mulai tertawa-tawa.
4 gelas, mencari gara-gara.
5 gelas, hati membara.
6 gelas, membuat perkara.
7 gelas, semakin menggila.
8 gelas, membuat sengsara.
9 gelas, masuk penjara dan
10 gelas, masuk neraka.

Jadi minum seperlunya ya.. Atau jauhi sama sekali.

Journey to Celebes Part 10: Doleng-doleng = tari perut dari sidrap


Hampir seluruh wilayah di indonsia jika akan ada hajatan besar kita mempersembahkanhiburan. Ada tarian ada nyanyian.Ada dagelan ada misbar. Kita tahu di Karawang ada penari jaipong dan sanggar keseniannya yang bisa ditanggap ketika ada pesta kawinan atau pertunjukan wayang golek ketika ada sunatan, maka di Sidrap ada CanDoleng doleng dan musik electonnya saat ada hajatan.

Candoleng doleng atau biasa disebut doleng-doleng adalah pertunjukan tarian dengan diiringi musik elekton, musik keyboard . Biasanya yang menari adalah perempuan. Pertunjukan ini mempersembahkan tarian wanita di atas panggung mengikuti irama musik. musiknya apa saja, bisa dangdut bisa housemusik.. Lebih seringnya adalah lagulagu bugis yang sedang trend. Yang membuat doleng doleng ini menarik adalah kelakuan penarinya.

Doleng doleng berarti “berjuntai-juntai”, atau bergelantungan, bahasa betawinya mah gombal bambel. Jadi jangan kaget jika yang dipertontonkan adalah sesuatu yang gombal gambel..

Masyarakat Bugis dan Makassar mengenal pertunjukan ini sudah lama, biasanya pada bulan bulan tertentu pertunjukan ini sering show. Masyarakat Bugis mengenal adanya bulan baik dan bulan buruk untuk melangsungkan pernikahan. Penentuan bulan baik dan buruk tersebut berdasarkan pada perhitungan kalender Islam, atau kalender Hijriah. Bulan baik untuk melangsungkan pernikahan biasanya, jatuh pada bulan Sa’ban atau satu bulan menjelang Ramadhan, dan satu bulan setelah Ramadhan yaitu Syawal. Ramadhan tidak dipilih sebagai bulan untuk melakukan pernikahan karena dianggap sebagai bulan yang dikhususkan untuk memperbanyak amalan baik dan beribadah. Makanya tidak heran jika sebelum dan sesudah Ramadhan, banyak ditemui pesta-pesta pernikahan. bulan Zulkaidah dan Zulhijjah juga dianggap sebagai bulan yang tidak tepat untuk melangsungkan pernikahan. Alasannya karena pada saat itu banyak orang muslim yang sedang melakukan ibadah haji di Tanah Suci Mekah. Sehingga jika melangsungkan pernikahan pada saat itu, tentu saja banyak keluarga yang dikhawatirkan tidak melihat acara pernikahan sanak familinya. Bulan Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir, adalah bulan yang juga dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan.

Namun yang saya lihat kemarin adalah dalam rangka ulang tahun perkumpulan sopir di sidrap. Mereka menyajikan tarian ini.



Bagaimana tampilan goyang candoleng-doleng ala artis-artis electon?

Dalam aksinya, goyang candoleng-doleng biasanya diiringi dengan musik “house dangdut” yang berdurasi sekitar tiga puluh menit. Mereka biasanya tidak tampil sendiri, mereka biasanya tampil berdua atau bertiga. Dalam goyangannya, artis electon selalu tampil “seksi” dengan menggunakan baju ketat dan sangat minim. Aksi tersebut biasanya diiringi dengan goyangan “erotis” yang mampu mengalahkan aksi “goyang ngebor” Inul Daratista, atau “goyang gergaji” ala Dewi Persik, atau bahkan “goyang ngecor dan goyang vibrator” milik Denada. Sedikit gambaran yang mereka lakukan saat bergoyang adalah; meliuk-liuk seperi penari striptis, meraba-raba (maaf) payu darah dan kemaluan, dan memperagakan pasangan yang sedang melakukan (maaf) hubungan intim.

Jangan pula membayangkan suara merdu dan bernyanyi yang sesuai dengan teknik yang benar pada saat artis electon menampilkan goyang candoleng-doleng-nya. Dalam durasi tiga puluh menit, artis-artis electon hanya bernyanyi tidak lebih dari sepuluh menit. Sisanya, mereka hanya mengisi musik “house dangdut” tersebut dengan goyangan “erotis”, lenguhan, desahan, lengkingan atau teriakan yang berisi ajakan untuk berbuat mesum, atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, bahkan ada menggosok-gosokkan microphone pada (maaf) payu darah dan kemaluan.

Tetapi setelah menonton pertunjukan itu, yang ada malah kasihan dengan para penarinya. Bayangkan saja mereka harus menari dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore, dengan istirahat untuk makan siang. Walau menarinya bergantian tetep saja kasihan .. Karena Untuk wilayah Sidrap saat ini acara keramaian hanya boleh dari jam 9 sampai jam 6 sore. Sehingga acara ini diselenggarakan siang hari.


Sebetulnya saya ingin menunjukkan video can doleng doleng.. tapi takut kena pasal ariel..

Friday, 23 September 2011

Kemarau di Sidrap



Kemarau tahun ini memang panjang. Hari hari panas semakin terasa panjang jika kita ada diluar ruangan. Dan jika kita pernah berkunjung ke kota Sidrap di Sulawesi Selatan, dan merasakan panasnya kota ini ketika musim kemarau. Wuihhh.. benar-benar hot. Bukit-bukit dan gunung-gunung kering berdebu. Sungai-sungai tak berair, kering kerontang. Hutan-hutan berwarna coklat karena pohon meranggas. Sawah-sawah kering dan terancam puso. Danau Sidenrengnya kehabisan air sehingga kita bisa maju sampai ketengah danau. Belum lagi Danau Tempe yang semakin kecil karena airnya yang semakin habis menguap.

Panasnya alam ini diperparah jika muncul kupu kupu putih kecil yang menyerang di malam hari. Mereka datang dari sawah-sawah yang kering. Umurnya pendek hanya sehari, namun dari tubuhnya yang mati dan hancur ini akan menyebabkan gatal yang luar biasa jika menempel di kulit. Gatal Yang tidak bisa hilang oleh air atau obat . Kalau kupu-kupu ini mulai menyerang.. tidak ada tempat sembunyi. Salah satu nya jalan cuman matikan lampu. karena cahaya lampu akan mengundang mereka.

Walaupun begitu penduduknya tetap bersyukur. Walau sawah, sungai dan danau mengering. Dan juga belum lama ini penduduknya ditimpa musibah flu burung, ketika ayam ayam piaraan mereka banyak yang mati mendadak, sehingga peternak banyak merugi namun Sidrap adalah daerah yang sangat diberkahi oleh Allah.

Daerah ini adalah pusatnya peternakan ayam di sulawesi selatan. Pusatnya padi nasional dan pusatnya daging sapi di indonesia. Jika Kita mampir ke daerah pedalamannya tepatnya ke daerah Kecamatan Maritengngae dan Watang Pulu. Kita dapat melihat sapi-sapi yang kurus melahap rumput kecil di sepanjang sawah yang kosong dan retak. Jumlahnya ratusan. Hampir menutupi gunung itu. Sapi sapi disini selain dikembang biakan, digemukkan dan dijual, juga untuk menghasilkan pupuk organik. Iklim dan cuaca yang kering dan lembab sudah biasa. Jadi kemarau adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun. Hanya tinggal kita pintar dan siap menghadapinya.

Daerah lain rasanya perlu belajar dari kota ini dalam menghadapi kemarau yang panjang. Mungkin akibat pemanasan global ini kemarau akan terasa semakin panjang dan air menjadi susah didapat. Namun tugas kita adalah tetap hidup.

Mudah-mudahan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) benar, bahwa awal musim hujan jatuh pada awal Oktober khususnya di Pulau Sulawesi ini.

Jangan menyerah..

Thursday, 12 August 2010

Buka Puasa Gratis dan Sahur Gratis selama 1bulan full

Ini terjadi, dan benar-benar terjadi. Tahun lalu ketika kami sedang bertugas di kota Pangkajene Sidrap, Sidendreng Rappang, Sulawesi Selatan. Suatu kota kecil penghasil beras dan ayam nasional di Provinsi Sulawesi Selatan. Jika membayangkan kota ini kita membayangkan sebuah kota di dataran tinggi sekitar 26 kilometer atau setengah jam dari kota Pare-pare, dan di kota ini hanya mempunya 4 buah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU Pertamina. Orang Sulawesi menyebut SPBU dengan sebutan pertamina. Karena label Pertaminanya yang besar. Di kota yang makmur ini sangat sulit menemukan pengemis dan gelandangan. Kotanya bersih dan cukup rapih.
Di salah satu SPBU nya, yaitu yang terletak di jalan Jendral sudirman, tepatnya dipertigaan Rappang Pangkajene Lawawoi terdapat SPBU Sudirman. Setiap harinya memberi suplai BBM untuk kendaraan yang mau masuk ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan bagian utara. SPBU yang buka 24 jam ini mempunyai program khusus untuk menyambut bulan Ramadan yaitu menyediakan makanan dan minuman untuk buka puasa dan sahur secara gratis, tanpa biaya sepeserpun selama sebulan penuh.

Makanan yang dihidangkan pun bervariasi. Untuk buka puasanya Nasi dan lauk pauknya selalu berganti dan bergizi. Ikan bolu atau bandeng, tongkol, telur dadar, telur bulat, daging ayam dan lain-lain akan bergantian dihidangkan setiap harinya. Untuk Pembukanya biasanya kolak ubi, kolak pisang, bubur ketan hitam dan lainlain juga bervariasi setiap harinya. Sedangkan untuk sayurnya biasanya sayur sop, kacang panjang mi dan lain-lain.

Sedangkan makanan untuk sahurnya juga bervariasi tiap harinya, yang jelas nasi dan lauk pauknya selalu yang bergizi.
Pengunjungnya bermacam-macam. Biasanya penduduk sekitar tempat itu, namun ini jarang , lebih seringnya adalah para supir dan penumpang bus atau para pengendara kendaraan bermotor yang lewat di jalan itu. Dan kebetulan saya beserta teman-teman yang sedang bertugas di daerah situ.
Bisa dibayangkan jika setiap akan buka atau sahur tempat ini selalu ramai. Namun Jangan membayangkan suasana yang riuh ketika saatnya berbuka atau sahur. Kami bersantap biasa saja di kursi. Dengan cara ambil makanan model parasmanan , kita boleh mengambil semaunya, sepuasnya. Mau nambah 2 kali atau 3 kali juga silakan saja asal nggak malu. Walaupun diantara kami banyak yang tidak saling kenal kami tidak pernah berebutan dalam mengambil makanan ini. Tidak ada upacara, atau saling tunggu. Begitu makan ya makan, begitu sholat ya sholat. ini adalah pom bensin. bukan mesjid. jadi wajar jika setelah usai makan kamipun bubar jalan, ke tempat masing-masing.
Untuk sahurnya kira-kira pukul 3 pagi waktu setempat kami harus sudah ada dilokasi, karena namanya sahur, pasti tidak sebanyak berbuka makanan dan porsi yang disediakannya. Terlambat sedikit jangan harap ada sisa.

Hampir setiap hari selama 1 bulan pebuh kami dan teman teman buka dan sahur di tempat itu. Namun ada saat ketika 3 bus penuh rombangan yang mau jalan-jalan ke Tanah Toraja mampir berbuka . Dan makanan pun langsung habis. Sehingga kami yang terlambat hanya mengelus perut dan akhirnya ke warung makan yang terletak disebrang SPBU itu.

Bagi perantauan seperti kami, yang minim bekal dan uang disaku rasa-rasanya SPBU Sudirman di Sidrap ini sangat-sangat menolong bagi kelanjutan hidup kami. Tiap hari makan minum disitu secara gratis rasanya malu-maluin , tapi harus bagaimana lagi. Harga makanan dan minuman di daerah ini cukup mahal dan belum tentu enak. Sedangkan di depan muka kami tersedia semua yang enak-enak gratis.
Yang bisa saya lakukan kepada pengelola SPBU Sudirman adalah sekedar ucapan: Terima kasih atas semua makanan dan minuman selama buka dan sahurnya. Semoga Allah memberikan rahmat dan barokahnya. Amin.

Wednesday, 2 December 2009

Ayam gretek: Ayam jantan dari timur

Kalau ke sulawesi. jangan kaget bila tengah malam atau subuh subuh mendengar tawa. Bukan tawa orang atau tawa hantu. Karena ini adalah kokok ayam yang bangun kepagian.

Satu ayam berkokok, maka akan terdengar susul menyusul. saling bersahutan.

Berisik memang. tapi itu ciri khasnya.

Monday, 29 June 2009

sidrap map


if you want to tour in sidrap this map maybe you can use.

Wednesday, 17 June 2009

SIDRAP THE RICE CITY


If you think about celebes maybe you think this area is full with junggle.
but it is wrong.
this area are full with ricefield.