Showing posts with label banjarmasin. Show all posts
Showing posts with label banjarmasin. Show all posts

Tuesday, 18 December 2012

Mancing udang di sungai Martapura Banjarmasin



Siang menjelang sore adalah saat terbaik untuk memancing disini. Namun tetap saja keberuntungan adalah yang menentukan dapat tidaknya.

Memancing di banjarmasin dibedakan antara menancing di rawa-rawa dan disungai. Jika dirawa atau sawah maka dipakai galah pancing yang panjang-panjang. Bisa sampai 3 meter panjangnya. dan ikan yang dicari adalah ikan Haruan atau gabus. (Channa striatus). Ikan ini adalah ikan favorit urang banjar. dimanapun pasti ada. untuk umpan biasanya digunakan katak atau anak lebah tabuan, umpan ikan pepuyu anak lebah kerawai atau ulat bumbung, umpan ikan sepat anak semut merah, ikan sanggiringan umpannya anak lebah madu,”

Sedangkan jika memancing disungai malah bisa hanya benangnya saja. tanpa kayu-atau galah. cukup mata pancing , timah pemberat dan umpan. Jika tanpa pemberat maka umpannya akan mengalir jauh mengikuti arus sungai. Disini ikannya banyak dan beragam. Dari yang kecil sampai besar. Namun yang paling dicari dan ditunggu adalah udang-udang sungainya. udang galah yang cukup besar-besar.  Ikan yang dipancing antara lain kelabau, patin, puyau, baung, lawang, dan udang. Jika mau menangkap udang gunakan  udang kecil hidup sebagai umpan. jika mau menangkap haruan atau  ikan lainnya gunakan pelet atau cacing.

Dua jam memancing ternyata panas dan bosan yang didapat. Baru tahu ternyata memancing di sungai lebih susah dari yang diperkirakan. Apalagi di sungai Martapura yang berarus cukup deras.  Selain itu jika ada perahu kelotok lewat maka ombak yang ditimbulkannya  cukup besar dan merepotkan umpan dan pancinganku. Sementara temenku berulang kali menarik pancingnya yang dimakan udang , saya malah sibuk sendiri dengan    mata kail yang tersangkut kayu-kayu dan sampah yang ada didasar sungai. Arus sungai sore hari terlalu deras membuat umpan mengelinding ke pinggir sungai. Karena itu rata-rata orang banjarmasin jika mancing mereka menggunakan perahu kecilnya dan memarkirnya di sepanjang sungai.  Jadi  jangan kaget jika sore tiba terlihat perahu-perahu kecil melintang di pinggir sungai. karena memancing sudah menjadi kebiasaan warga kota ini.

Jika anda mau mancing maka tempat penjualan alat pancing ada banyak, ada di Pasar Lama, Kayu Tangi, Teluk Dalam, Pasar Antasari, Pasar Kuripan, dan pusatnya ada di di kertak Hanyar kilometer 7 Banjarmasin ini.

Untuk sementara saya pulang dulu.. benangya putus dan mata kailnya hilang.

Saturday, 8 December 2012

Galam : pondasi rumah di Banjarmasin




Membangun rumah di kota Banjarmasin sangat berbeda dengan kota-kota besar lain di Indonesia.

Karena kota ini ada di seribu sungai, maka kota ini lebih banyak terdiri dari air. Tanah yang kering dan keras sangat sulit dijumpai di kota ini. Karena itu wajar jika membangun sebuah rumah dikota ini bisa dikatakan lebih sulit dari kota-kota lain di Indonesia , khususnya di pulau Jawa.

Letak kota ini ternyata 0,6 meter dibawah permukaan laut. Sehingga wajar jika melihat air tergenang dimana-mana. Wajar jika melihat kanan dan kiri kita semua rawa. Namun anehnya kota Banjarmasin tidak pernah ada berita banjir,  itulah hebatnya orang Banjar. 

Lalu bagaimana mereka membangun rumah sebagai  tempat tinggal mereka?

Berapa banyak urugan yang diperlukan untuk membangun rumah di kota ini? Saya rasa berapapun banyaknya tetap kurang.  Karena orang Banjar menggunakan kayu galam.

Saya  pernah berfikir: “apakah pancangan galam di Kota Banjarmasin harus sampai tanah keras?” Ternyata Jawabnya: “tidak, karena sifat lempung di tanah rawa Kota Banjarmasin memiliki daya kohesi (daya rekat) horisontal yang mampu menahan kayu galam tidak melesak ke dalam”. Selain itu kayu galam pun memiliki daya serap yang cocok dengan tanah lempung di rawa tersebut.

Ternyata tiang pancang pondasi rumah rakyat menggunakan galam pada bagian bawahnya (sub structure) kemudian bertumpu di atasnya kayu ulin dengan konsep kalang sunduk. Kayu galam harmonis dengan rawanya sehingga tahan lama hingga puluhan tahun.

Namun umumnya mereka sering menyebutkan rumah orang Banjar pakai pondasi ulin, padahal galam tidak kalah pentingnya. Maklum ulin yang terlihat galam yang tenggelam. Jadi, urang bahari itu pintar-pintar. Mereka tidak sekolah tapi mampu memahami alam dengan baik. 




Wednesday, 20 June 2012

dari suatu pojok di banjarmasin


Kehidupan di pinggir sungai adalah kehidupan yang nyata. 
Makan , mandi, main, bekerja, berak..

jadi ingat sajak Sapardi Joko Damono..
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi sungai itu,
salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu .."


Banjarmasin memiliki sungai yang banyak dan selalu berair dalam, Sayang sekali jika harus diurug dan dibiarkan. Saya perkirakan lambat laun perahu dan kapal kecil disini akan terus berkurang. Digantikan oleh motor dan mobil yang mulai gagah berjalan di jalan raya. Apalagi uang untuk daerah Kalimantan sebetulnya bukan masalah. Negeri ini kaya namun belum bisa diambil kekayaanya buat daerahnya sendiri. 
Jika punya niat sebetulnya negeri ini bisa menjadi Venesia di Asia.. Semoga 

Tuesday, 14 February 2012

Jukung : Banjarmasin tempo doeloe

Tidak ada orang Banjar jika tidak ada jukung.”

Banjarmasin sebagai kota seribu sungai tidak bisa dipisahkan dari perahu. Sebagai kendaraan rakyat yang sangat ramah lingkungan ini ternyata sudah tersisihkan kemajuan zaman. sayang memang..

Melihat kembali Banjarmasin tempo doeloe ternyata menarik terutama mengamati perahu atau jukung mereka saat itu. Ternyata perahu kecil model jukung di banjarmasin zaman baheula sangat artistik bentuknya dibandingkan sekarang. Model dan gayanya sangat klasik dan bermacam-macam ada yang ada atapnya dan lebar-lebar juga.

Dibandingkan yang saat ini ada ternyata jauuuhhh sekali beda dan selera seninya.






Budaya jukung sebenarnya dikenal pada 2000 tahun sebelum masehi, yaitu dari migrasi pertama orang-orang proto melayu (melayu tua) dari Sungai Mekong, Yunan, Cina Selatan ke Kalimantan. Saat itu para imigran dari proto melayu yang merupakan asal usul suku Dayak, telah mengenal peralatan dari logam. Baru pada abad 6-7 pembuatan jukung semakin berkembang di Kalimantan.

Dahulu diketahui banyak jenis jukung yang dikenal berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Jukung dibuat selaras dengan kondisi alam Kalimantan pada waktu itu. Yang paling tua jenisnya diperkirakan adalah jukung sudur. Jukung ini menjadi pondasi terciptanya jukung-jukung jenis baru

Perkembangan jukung yang sampai ke Kalsel akhirnya menjadi identitas budaya saat berdirinya kerajaan Dipa di Amuntai, lalu kerajaan Daha di Negara, Hulu Sungai Selatan, hingga kerajaan Banjar di Kuin, yang menjadi tonggak lahirnya Suku Banjar. Budaya sungai dan alat transportasinya tidak bisa dipisahkan dalam sistem sosial masyarakat Banjar ketika itu.

Sah saja tentunya jika sebuah idiom menyebut “Tidak ada orang Banjar jika tidak ada jukung.” Sebab sejarah mencatat, Kerajaan Banjar di Kuin lahir setelah Pangeran Samudera lari mengasingkan diri menggunakan jukung dari Daha di Negara.


Foto ini didapatkan dari Koleksi Musium Tropen, Belanda.
foto-foto lama Banjarmasin ini, sekitar tahun 1880 sampai 1940.

Tuesday, 7 February 2012

foto from banjarmasin (lagi)

Banjarmasin adalah kota yang unik dan Ini beberapa keunikannya..

Mancing di rawa:

Pak ogah kecil:

Jalan ke rumah :


Sunday, 18 December 2011

Mancing mancing..



Menikmati siang yang panas dengan membuang waktu
Di belakang rumah melamun
hidup tidak usah ngoyo
buang marah dan iri
kedamaian dan kekayaan pasti kan datang
dan
mudahmudahan udang atau papuyu, atau mungkin haruan yang datang kali ini

Wednesday, 2 November 2011

Dari Jembatan Barito



Mengunjungi Jembatan Barito di Kalimantan Selatan rasanya tidak ada yang istimewa.
Sunyi ketika hari kerja, dan ramai ketika sabtu minggu. Dengan kondisi bangunan penunjang pariwisata yang sedikit terbengkalai, hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan yang berada di bagian bawah jembatan ini yang terlihat kosong seperti tidak ada penghuninya.

Jangan membayangkan tempat yang menyenangkan untuk melepas lelah. Namun cukuplah jika hanya untuk melihat kebesaran ciptaan Tuhan. Dan melihat usaha manusia dalam hidup dan mencoba membuat surga di bumi.



Jembatan ini panjangnya 1082 meter dan lebar 10 meter, berdiri diatas Sungai Barito dan menghubungkan jalan Trans Kalimantan, terletak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Tepatnya 30 menit dari kota Banjarmasin, dekat memang.


Jembatan Barito sering disebut pula jembatan Pulau Bakut, sesuai nama delta (pulau kecil) yang ada di bawahnya atau jembatan pulau Bakumpai, sesuai nama daerah tepi barat sungai Barito (sungai Banjar).

Jembatan ini diresmikan pada tahun 1997 oleh Presiden Soeharto.

Friday, 7 October 2011

Menikmati kota Banjarmasin


Menikmati kota Banjarmasin adalah menikmati sungainya yang jujur. Dengan hilir mudik jukung dan klotok. Isi atau sarat muatan. Bercampur dalam kesibukan hari yang panas karena jarang turun hujan.




Menikmati kota Banjarmasin adalah ada di tepi sungai. Memandang sampan yang melaju kencang dan juga lambat terbawa arus. Melihat keringat dan harapan yang keluar dan bersarang di hati. Sambil mencoba menyapa tujuan yang masih jauh.




Menikmati kota Banjarmasin adalah ada di sungai. Entah untuk makan atau bekerja, atau hanya sekedar lewat. Menyusuri sempit dan lebarnya. Menyelami dalam dan kuatnya arus.  Menyentuh bening dan kotornya air.



Menikmati Banjarmasin adalah ada di atas perahu, diatas sungai. Dan mencoba meraih mimpi. Dengan tenaga dan tekad. Dan juga doa.






Menikmati Banjarmasin adalah sebuah tekad untuk tetap hidup. Walau kerjaan tak kunjung datang. Walau ujian gagal terus. Walau perut menjerit lapar. Walau pacar ke lain hati. Walau mancing gak dapat-dapat.


Menikmati kota Banjarmasin adalah tetap semangat dan bersabar.. Roda itu berputar. Rezim pasti berganti. Hujan esok kan datang. Sabar tidak ada batasnya. Karena hanya kau sendiri yang membuat batas itu.

Tuesday, 4 October 2011

Peta Kelurahan Mantuil

Ini adalah peta kelurahan Mantuil. Diambil dari kantor kelurahan.


Nampak sungai Barito di sebelah kanan. Dan Sungai Martapura melingkari tanah mantuil ini. Tanah tanah yang terpotong sungai itu diberi nama Pulau Bromo dan Pulau Benteng, nama-nama tersebut diakui berasal dari pengakuan warga setempat.

Daerah ini masih rawan dan sepi.

Monday, 26 September 2011

Konversi minyak tanah ke gas usai sudah..



Konversi minyak tanah ke gas sebagai program pemerintah kali ini mungkin sudah dianggap selesai.. Tak ada lagi tender baru, tidak terdengar lagi wilayah mana berikutnya yang akan di jalankan program ini. Pemerintah sudah tidak fokus lagi dengan hal ini. Sudah terlalu sibuk dengan Nazzarudin dan urusan intern partai masing-masing. Belum lagi bom baru meledak kemarin.

Banyak program pemerintah sekarang jalan sendiri. Syukur-syukur sukses , mudah-mudahan lancar. Tenggat waktu dan titik mulai juga hari date line sudah dilupakan. Istilahnya kemarau biarlah berlalu.

Contohnya adalah program konversi minyak tanah ke gas di Banjarmasin yang telah selesai dilaksanakan 3 bulan lalu. Masyarakat yang awalnya menolak sudah memakainya. Ada yang unik dari kota ini. Dimana awalnya susah sekali untuk mendapatkan izin menjalankan konversi ini. Banyak masalah dan sebabnya. Diantaranya masyarakat yang cenderung menolak karena seringnya kebakaran yang didaerah mereka. Pendataannya yang kacau balau dan lama sekali, yaitu perlu 7 bulan untuk mendapatkan nama-nama yang harus mendapatkan kompor gas dan tabung gratis ini, sehingga semakin menghambat jalannya program ini. Padahal untuk wilayah lain rata-rata hanya perlu waktu 60 hari. Itu ditambah ketakutan yang besar dari penduduk Banjarmasin dan instansi terkait dengan kemungkinan ledakan atau terjadinya kebakaran yang diakibatkan program ini. Sehingga banyak usaha dan banyak rapat koordinasi dijalankan, sehingga akhirnya program ini bisa berjalan.

Sekarang hasil konversi minyak tanah ke gas sudah dinikmat imasyarakat Banjarmasin. Kebakaran tetap banyak, namun alhamdulillah belum ada yang berasal dari tabung gas. Dan honor konsultan apakah sudah dibayar oleh Pertamina. Ternyata belum. Ternyata bekerja dengan pemerintah sekarang susah. Banyak instansi saling terkait. Perusahaan yang satu tergantung hasil perusahaan yang lain. Salah satu jeblok hasilnya maka hancur semuanya. Sandera menyandera pekerjaan menjadi hal yang jamak. Dan akibatnya karyawan tidak jelas kapan menerima gajinya.

Kabar baru didengar tadi pagi.. Kerjaan mu di Banjarmasin belum tentu dibayar. Karena ada masalah di pekerjaan. Lemess jadinya. Jauh-jauh kerja ke kalimantan dan berbulan-bulan sengsara di negeri orang akhirnya pulang dengan tangan kosong.

Bluk nyuuh blak nangkarak .. namun hasilna nol besar,

Monday, 15 August 2011

Oleh oleh Banjarmasin: Mandau

Mandau Apang Birang Bitang Ayun Kayau 
yang artinya kurang lebih  adalah 
“senjata lelaki yang dipunyai  kaum pemenggal kepala”



Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak di Kalimantan, Indonesia. mandau masa kini terbuat dari besi-besi (atau baja) yang kurang ampuh dan aura kedigdayaannya pun dianggap tidak terlalu istimewa. ‘Mandau-mandau’ tersebut hampir setara dengan pisau ambang (parang laki) dan dijual dengan bebas di toko-toko cinderamata di pinggir-pinggir jalan

Padahal dalam kehidupan Orang Dayak, mandau bukan saja sebagai sebuah senjata dari besi semata, namun ia diyakini memiliki aura sebagai pendamping yang disebut panekang hambaruan (pemberi motivasi dan semangat; spirit). Mandau merupakan senjata utama dari sekitar puluhan jenis senjata tradisional Suku Dayak yang mematikan. Menurut Tjilik Riwut (Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan,1993:309), nama asli mandau dalam Bahasa Sangen (Dayak Kuno) adalah Mandau Apang Birang Bitang Ayun Kayau yang artinya kurang lebih secara etimologis adalah “senjata yang dipakai kaum lelaki yang dipunyai oleh kaum kayau/para pemenggal kepala”(-pen) di zaman dulu.

Sebuah mandau tidak digunakan secara sembarangan mengingat fungsionalitasnya dalam setiap upacara adat merupakan salah satu prasyarat. Ia tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti alat untuk memotong kayu, menebas semak dan

Konon, apabila sebilah mandau telah ditarik dari kumpang/sarung-nya, ia akan menuntut darah, dan itu mutlak dipenuhi. Dalam proses pembuatannya, mata mandau diambil dari batu besi dari gunung yang berusia puluhan abad yang dikenal dengan sanaman mantikei. Konon menurut cerita turun-temurun, ada dua tempat di Kalimantan Tengah di mana besi tersebut dapat ditemukan, yang pertama di Wilayah Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan; dan kedua, di daerah Montallat, Kabupaten Barito Utara. Besi dari kedua tempat tersebut dikenal pula sebagai besi yang beracun sehingga apabila melukai kulit akan berujung kepada kematian. Melalui proses panjang, sebuah mandau ditempa dan dilengkapi dengan gagang yang terbuat dari tanduk rusa dan diberi ornamen bulu burung atau rambut manusia serta aneka ukiran yang mengandung unsur pelemahan semangat atau penunduk musuh yang dalam Bahasa Dayak Ngaju disebut parunduk.

Begitu pula pada bagian sarungnya, selain dilengkapi tali pengikat dari anyaman rotan pilihan, biasanya diikatkan juga dengan aneka benda fetis yang disebut penyang sangkalemo.

Perlengkapan lain yang kecil namun tak kalah penting adalah langgei kuai atau sejenis pisau kecil yang bertangkai sepanjang kurang lebih 20—30cm mengikuti panjang mata mandau. Langgei ini memegang fungsi sebagai senjata cadangan dalam keadaan darurat. Ia memerankan fungsi lebih ‘akrab’, di mana secara fungsionalitas boleh digunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan hal-hal biasa (bukan dalam konteks sakral).

Pada masa lalu, peran sebuah mandau menjadi sangat vital. Mandau merupakan simbol dari sebuah kekuasaan. Kekuasaan tersebut terkait erat dengan mitologi Dayak bahwa semakin banyak kepala musuh yang dipenggal, maka akan semakin tinggi status sosial seseorang yang disebut sebangai mamut menteng. Seseorang yang mamut menteng dapat secara aklamasi menjadi seorang pemimpin.

Hal ini bukan tanpa dasar mengingat kegigihannya dalam membela komunitas sukunya agar selamat dari berbagai serangan yang memunahkan. Namanya juga masih zaman primitif, kegiatan hasang-maasang (saling teror) dan kayau-mangayau(saling bunuh dengan penggal kepala) adalah sebuah pertarungan mempertahankan entitas dan eksistensi. Kesemuanya tidak dilakukan tanpa dasar, melainkan karena persoalan politik kekuasaan dan pertahanan eksistensi dan jatidiri yang terancam. Seseorang yang sudah cukup ilmu barulah turun ke kancah pertarungan ini dan persoalannya pun bukan persoalan yang ringan, sehingga jalan damai mungkin sudah tidak mendapat kata sepakat lagi.

Ada banyak aturan dalam hal peperangan,diantaranya tidak melibatkan anak-anak menjadi korban begitu juga dengan para ibu. Kesemuanya dilakukan secara jantan; satu lawan satu, atau perang terbuka secara massal. Dalam kamus peperangan Suku Dayak kuno, tidak ditemui istilah keroyokan atau membunuh dalam keadaan terjepit. Apabila korban sudah menyerah, maka ia akan ditawan sebagai budak/jipen yang akan mengabdi pada pihak yang menang selama hayatnya, kecuali ditebus atau dibeli/ditukar dengan barang berharga berupa guci yang disebut balanga atau benda berharga lainnya. Berkaitan dengan fungsi utama sebagai senjata perang di masa lalu, mandau warisan leluhur diyakini suku Dayak sebagai penjelmaan diri sang empunya. Artinya, ia dapat menjelma secara fisik di tengah-tengah peperangan atau sebaliknya, tidak kasat mata (nonvisual) sehingga dikenal dengan “mandau terbang”. Ia bisa dikontrol oleh yang empunya untuk melakukan serangan balasan, jadi hanya bersifat reaktif atas sesuatu yang terjadi. Ia tidak bersifat aktif dan agresif.

Bagi masyarakat suku Dayak, mandau menyisakan sejuta misteri yang tak terpecahkan hingga kini. Konon di masa lalu sebuah mandau seolah memiliki aura,seolah sesuatu yang dapat dipelihara, disuruh atau tunduk atas kekuasaan pemiliknya. Ia seolah dapat menjadi ‘kawan’ yang sangat patuh dan sangat jarang mencelakai ‘tuannya’. Hal ini mungkin secara asumtif berkait erat dengan patei-ongoh atau kiprahnya di masa lalu, sehingga semuanya diyakini sebagai “budak yang harus tunduk atas perintah tuannya” atau “kawan setia yang tahu membalas budi”. Mandau juga dapat menjadi sarana pengobatan, misalnya air cucian asahannya dapat mengobati semacam alergi gatal-gatal yang disebut “kalalah” atau “kicas-kihal” (sejenis tulah/kutukan). Dalam konteks kekinian, mandau telah menjadi sebuah pusaka tradisional yang cukup langka. Kelangkaan tersebut sangat disayangkan dikarenakan oleh ketiadaan pandai besi yang menurunkan ilmunya kepada generasi setelahnya.

Para pemilik mandau warisan leluhur juga dianggap kian berkurang. Sebagian sudah tidak dirawat lagi dan sebagian lain telah berpindah kepemilikannya kepada orang asing dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah alasan ekonomi. Biasanya yang memiliki dan merawat benda-benda tradisional adalah para tetuha adat atau para basir berkaitan dengan kepemimpinannya pada setiap upacara-upacara adat. Di samping itu, komponen material sebagai bahan utamanya juga sangat sulit ditemukan. Alhasil, kalaupun dibuat itu sudah pasti tiruan dan replika saja.

Tuesday, 9 August 2011

Banjarmasin dari atas



Melihat Kalimantan adalah melihat kota Banjarmasin. Karena walaupun letaknya di selatan pulau kalimantan tetapi kota ini adalah kota pembuka di pulau ini.



Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Banjarmasin merupakan salah satu kota besar yang berukuran kecil di Indonesia, luasnya lebih kecil daripada Jakarta Barat. Banjarmasin merupakan sebuah kepulauan yang terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang dipisahkan oleh sungai-sungai diantaranya pulau Tatas, pulau Kelayan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain-lain.



Sejak zaman dulu hingga sekarang Banjarmasin merupakan bandar pelabuhan terpenting di pulau Kalimantan. Pelabuhan kota Banjarmasin adalah pelabuhan Trisakti yang terletak 12,5 mil dari muara sungai Barito.


salah foto nih.. gapapa. bonus.


Tuesday, 2 August 2011

Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Berikut ini adalah daftar nama-nama Kelurahan / Desa dan Kecamatan beserta nomor kode pos (postcode / zip code) pada Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Republik Indonesia.

Negara : Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Provinsi : Kalimantan Selatan (Kalsel)
Kota Administrasi/Kotamadya : Banjarmasin

1. Kecamatan Banjarmasin Barat
 
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Barat di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) :
- Kelurahan/Desa Telawang (Kodepos : 70112)
- Kelurahan/Desa Teluk Tiram (Kodepos : 70113)
- Kelurahan/Desa Belitung Selatan (Kodepos : 70116)
- Kelurahan/Desa Belitung Utara (Kodepos : 70116)
- Kelurahan/Desa Pelambuan (Kodepos : 70118)
- Kelurahan/Desa Telaga Biru (Kodepos : 70119)
- Kelurahan/Desa Kuin Selatan (Kodepos : 70128)
- Kelurahan/Desa Kuin Cerucuk (Kodepos : 70129)
- Kelurahan/Desa Basirih (Kodepos : 70245)

2. Kecamatan Banjarmasin Selatan
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Selatan di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) :
 
- Kelurahan/Desa Kelayan Barat (Kodepos : 70241)
- Kelurahan/Desa Kelayan Dalam (Kodepos : 70242)
- Kelurahan/Desa Kelayan Tengah (Kodepos : 70242)
- Kelurahan/Desa Pekauman (Kodepos : 70243)
- Kelurahan/Desa Mantuil (Kodepos : 70244)
- Kelurahan/Desa Kelayan Selatan (Kodepos : 70246)
- Kelurahan/Desa Kelayan Timur (Kodepos : 70247)
- Kelurahan/Desa Murung Raya (Kodepos : 70247)
- Kelurahan/Desa Tanjung Pagar (Kodepos : 70247)
- Kelurahan/Desa Pemurus Dalam (Kodepos : 70248)
- Kelurahan/Desa Pemurus Baru (Kodepos : 70249)
- Kelurahan/Desa Basirih Selatan (Kodepos : …….)


3. Kecamatan Banjarmasin Tengah
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Tengah di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) :
- Kelurahan/Desa Kertak Baru Ilir (Kodepos : 70111)
- Kelurahan/Desa Kertak Baru Ulu (Kodepos : 70111)
- Kelurahan/Desa Mawar (Kodepos : 70112)
- Kelurahan/Desa Antasan Besar (Kodepos : 70114)
- Kelurahan/Desa Pasar Lama (Kodepos : 70115)
- Kelurahan/Desa Teluk Dalam (Kodepos : 70117)
- Kelurahan/Desa Gadang (Kodepos : 70231)
- Kelurahan/Desa Seberang Masjid (Kodepos : 70231)
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Baru (Kodepos : 70233)
- Kelurahan/Desa Melayu (Kodepos : 70234)
- Kelurahan/Desa Pekapuran Laut (Kodepos : 70235)
- Kelurahan/Desa Kelayan Luar (Kodepos : 70241)

4. Kecamatan Banjarmasin Timur
 
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Timur di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) :
- Kelurahan/Desa Karang Mekar (Kodepos : 70234)
- Kelurahan/Desa Pekapuran Raya (Kodepos : 70234)
- Kelurahan/Desa Kebun Bunga (Kodepos : 70235)
- Kelurahan/Desa Kuripan (Kodepos : 70236)
- Kelurahan/Desa Pemurus Luar (Kodepos : 70236)
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Bilu (Kodepos : 70236)
- Kelurahan/Desa Pengambangan (Kodepos : 70237)
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Lulut (Kodepos : 70238)
- Kelurahan/Desa Benua Anyar (Kodepos : 70239)

5. Kecamatan Banjarmasin Utara
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Utara di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) :
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Jingah (Kodepos : 70121)
- Kelurahan/Desa Surgi Mufti (Kodepos : 70122)
- Kelurahan/Desa Antasan Kecil Timur (Kodepos : 70123)
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Miai (Kodepos : 70123)
- Kelurahan/Desa Pangeran (Kodepos : 70124)
- Kelurahan/Desa Alalak Utara (Kodepos : 70125)
- Kelurahan/Desa Alalak Selatan (Kodepos : 70126)
- Kelurahan/Desa Alalak Tengah (Kodepos : 70126)
- Kelurahan/Desa Kuin Utara (Kodepos : 70127)

Monday, 1 August 2011

Banjarmasin dalam foto: di sungai kelayan

Banjarmasin memiliki banyak sungai. Dan salah satu sungai utamanya adalah sungai kelayan.  Di sungai ini hidup banyak orang dan menjadi urat nadi perekonomian masyarakat kota Banjarmasin.
Dengan Pasar  Utama sudimampir di Pusat kota Banjarmasin yang merupakan pusat perdagangan terbesar di Banjar masin maka sungai ini merupakan jalur lalulintas perdagangan yang ramai. Juga merupakan alternative  jalan selain jalan darat yg sudah mulai padat dengan kendaraan  beroda.

Perumahan disekitar sungai ini bertumpuk dan padat sekali. Memang  lahan kosong masih tersedia, tetapi karena tidak ada jalan yang bisa dilewati. . karena harus buat sendiri maka masyarakat enggan mendirikan bangunan rumah di lahan yang kosong tersebut. 

 “Kami akui sungai Kelayan memang memiliki keunikan yang khas, sebab di sana aktivitas kehidupan sungai sangat terlihat, termasuk dengan pemandangan kekumuhannya bisa menjual. Hanya saja mungkin kebersihannya yang perlu diperbaiki,”  ujar Ketua Dewan Tata Krama Daerah ASITA Kalsel Hj Armistyani di sela-sela kegiatan Musda ASITA di Hotel Rattan Inn.
Bangunan tua yang masih ada ini berfungsi sebagai rumah dan gudang.
Ramainya hilir mudik perahu dan klotok.
Tempat bertemuanya sungai kelayan dan Sungai Martapura.
Perumahan di pinggir sungai.
Menunggu pembeli di pinggir sungai.
Door to door.

Tuesday, 26 April 2011

Dipaksa naik klotok di Banjarmasin

Karena sebuah tugas saya harus menyusuri sungai di kalimantan. Untungnya kotanya adalah Banjarmasin. Kota yang mempunyai banyak sungai besar dan ratusan sungai kecil. Dengan induk sungainya sungai barito dan sungai martapura kota ini mempunyai prasarana yang sangat memadai untuk dijadikan kota wisata air. Namun dengan banyak dibangunnya jalan jalan beraspal yang licin dan keras. Juga dengan semakin mudahnya warga kota ini untuk memiliki kendaraan bermotor maka perlahan lahan kendaraan air semisal perahu dan klotok mulai ditinggalkan.

Namun demikian, Banjarmasin pada dasarnya adalah kota air. Tanahnya dikelilingi rawa. Untuk tanah yang keras dan kering adalah sangat jarang. Aslinya semua daratan di kota ini basah. Jika air pasang datang jangan heran jika halaman rumah tergenang air. Sungai-sungainya pun masih cukup dalam untuk dilayari dengan perahu kecil ataupun klotok. Selain itu masih banyak wilayahnya yang hanya bisa didatangi hanya dengan perahu ataupun kendaraan air lainnya.

Seperti ketika saya harus mengunjungi daerah yang terpencil. Masih diwilayah kota ini juga, tepatnya di Banjarmasin Timur. Saat itu saya memerlukan data RT 25 dan 26 kelurahan Basirih selatan. Dan untuk mendapatkannya kami harus Pergi ke RT 25 Basirih selatan, karena data yang kami butuhkan tidak ada di kelurahan. Dan berdasarkan info yang kami terima ada 2 cara untuk ke tempat itu, yaitu lewat hutan kecil di belakang Tempat pembuangan Sampah Akhir (TPA) Basirih. Atau altenatif kedua lewat sungai besar di Mantuil. Karena kami saat itu mengendarai sepeda motor jenis matik, kami langsung mencoba menempuh jalur darat. Saat itu yang ada dalam bayangan kami adalah hutan kecil mah bukan halangan. Jaraknya pun hanya 2 jam saja kata orang situ.

Namun ketika kami mulai memasuki Tempat Pembuangan Sampah akhir di Basirih. Nyali mulai ciut. Tanah nya berlumpur. Basah. Hitam. Bau. Kami pun ragu untuk melanjutkan jalan ini. Ketika bertemu seorang petugas Sampah kami bertanya.Apakah betul jalan ini menuju RT 25 Basirih.

Bukan. Bukan ini tetapi ke arah sana. Katanya sambil tersenyum.

Ternyata ada pertigaan kecil yang telah kami lewati. Jadi kesimpulannya kami nyasar.

Alhamdulillah bukan jalan tadi kataku dalam hatiku. Kemudian balik lagi.. sambil berjalan lebih hati-hati. Kemudian kami menyusuri jalan yang ditunjuk bapak tadi. Jalan selebar 1 meter cukup mulus. Kiri kanan semak belukar. Seperempat jam menyusuri jalan itu awalnya mulus. Tanah berbatu. Seperempat jam kemudian memasuki hutan dengan tanah berlumpur. Sepuluh menit selanjutnya tanah berair dengan genangan kecil setinggi 20 cm. Busyet apa lagi nih berikutnya. Pikir ku.

Ketika sudah berjalan 1 jam motor kami dihadapkan pada jalan yang berlumpur basah. Coklat dan superlicin. Untuk sekedar berdiri saja sulit. Berhenti dulu. Ngebayangin parahnya seperti jalan apa jalan yang akan dilalui nanti. Melihat kiri kanan dan bertanya ke sebuah rumah kecil satusatunya ditempat itu.

Pak kalau jalan ke RT 25 Basirih itu apakah betul lewat sini?

Betul. Tetapi sebaiknya jangan diteruskan jika menggunakan motor seperti ini.

Kenapa?

Jalannya mantap sekali ancurnya. Licin berlumpur dan banyak genangan air setinggi lutut. Dan kalau motor mogok di tengah jalan. Jangan harap ada bantuan. Jarang ada orang yang lewat. Jalannya sepi. Karena hampir semua penghuni RT 25 itu kemana-mana menggunakan perahu. Jika pun ada yang pakai motor lewat situ paling hanya petugas hutan atau Pak RT 25 sendiri.

Bujug buneng . pikir ku.. ”Makasih pak. Assalammualaikum..”
Tanpa banyak fikiran kami pun membatalkan ke rumah RT itu lewat darat. Dan langsung ke jembatan Mantuil untuk menyewa klotok.

Dengan menitipkan kendaraan kami disebuah warung kopi ,pinggir jembatan baru Mantuil, kami pun berangkat naik klotok. Sebuah perahu kecil bermesin diesel. Ongkosnya Rp 20.000 perorang untuk bulak balik. Dengan rute Mantuil - RT 25. Tinggal katakan mau kerumah siapa , mereka akan tahu lokasinya. Dan akhirnya kami pun naik klotok.

Ternyata pergi menggunakan klotok cukup menyenangkan. Walau sedikit takut.. maklum ada yang tidak bisa berenang. Dengan lebar sungai kira-kira 20 meter dan kedalaman 10 meter Sungai mantuil ini cukup ramai oleh lalu-lalang klotok. Air nya yang coklatpenuh dengan hilir mudiknya perahu dan klotok. Banyak rumah-rumah disepanjang pingir sungai. Rumah panggung sederhana dari kayu. Semua rumah menghadap ke air. Jadi artinya jalan kalau mau bertamu ya lewat air. Jalan darat sudah pasti susah. Disepanjang rumah ada yang mandi. Mancing. Ngelamun. Masak dan lain-lain.

Sebagai catatan jika naik klotok. Hati hati ketika 2 buah klotok dari arah yang berlawanan saling melewati.. karena perahu membawa ombak masig-masing jadi jika salah satu ngebut maka akan menciptakan ombak yang lebih besar dan ombak ini cukup membuat perahu yang satunya goyah dan tenggelam. Kita tidak pernah tahu seberapa jagonya tukang perhu menguasai perahunya. Dan kejadian perahu tenggelam walau jarang selalu ada tiap tahunnya.

Oke. 30 menit lewat sudah. Kami pun sampai di persimpangan. Tempat ini adalah pertemuan 2 sungai besar. Rumah rumah lebih banyak dari pada di perjalanan tadi. Kami ambil kiri. 40 menit menysusuri sungai yang lebih kecil dan lebih sepi dan akhirnya sampai di perkampung RT 25 ini. Beberapa jembatan kayu kecil melintang di atas jalan yang kami lewati. Jembatan ini menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain. Setelah menambatkan klotoknya kami pun bertamu ke rumah pak RT 25.

Assalammualaikum... Tidak ada sahutan.. setelah bertanya ke tetangga kiri kanan Rumahnya ternyata kosong. Pak Rtnya sedang ke kota.

Capekdeh.


Mangkanya telepon.. hari gini ga pake telepon.

Emang punya nomornya? Kagak..

Setelah kami minta nomor hpnya kami pun pamit. Kemana sekarang.. Ke RT 26. Tidak jauh dari sini tetapi di sungai yang satunya lagi. Untung pakai klotok. Coba pakai motor nggak kebayang jalannya ke RT 26. Tidak ada jalan darat kesana. Rumahnya sih dekat. Gentengnya saja kelihatan. Namun, rumahnya dikelilingi air.

Setelah negosiasi harga klotok untuk tempat berikut kami pun siap berangkat, namun hujan turun. Cukuplebat dan kami pun berteduh di sebuah rumah kosong di pinggir sungai. Melamun menunggu hujan berhenti..

Wednesday, 23 March 2011

Banjarmasin : Kota 1000 sungai

Banyak sungai mengalir di Kota Banjarmasin. Yang paling besar adalah sungai Barito. Yang paling terkenal adalah sungai Matapura. Nama sungai lainnya sangat banyak dan tidak semua tahu namanya. Sungai Kuin dan Kelayan salah satunya.

Banyak kehidupan dan banyaknya perahu lalulalang disini.

Mancing udang di sungai Martapura.

Berteduh di pedalaman Basirih..

Menuju pasar ..

>

KONVERSI MITAN KE GAS DI BANJARMASIN DITUNDA : Melihat Lebih dalam Banjarmasin



Konversi minyak tanah ke gas 3 kg di Indonesia sudah berjalan 3 tahun lebih semenjak digulirkan tahun 2007 di Jakarta. Seiring berjalannya waktu masyarakat makin akrab dan kenal tentang gas. Pemakaian gas untuk rumah tangga sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Terlebih lagi masyarakat perkotaan karena Harga Minyak tanah mahal dan terbatas jumlahnya. Namun di tahun sepanjang tahun 2010 sesuatu. Ketika tabung-tabung yang sudah waktunya ditarik dan seiring banyaknya oplosan gas 3 kg ke tabung gas12 kg akibat dari perbedaan harga karena subsidi pemerintah untuk tabung 3Kg menyebabkan banyak masalah. Kebakaran akibat dari kebocoran Tabung gas tidak pernah berhenti beritanya. Semua media massa berlomba untuk menceritakan dan mengabarkan, tentu dengan bumbu drama. Membuat panik masyarakat dan pemerintah. Dan di akhir tahun 2010 cerita kebakaran akibat pemakaian tabung gas mulai reda, menyisakan trauma bagi pemakai dan calon pemakai tabung gas 3kg.

Banjarmasin awal Januari 2011 ini seharusnya sudah menikmati kompor gas 3kg, namun pemerintah kotanya belum mengizinkan. Setelah melalui rapat yang panjang dan berestafet selama 2 bulan penuh (dari akhir Januari awal Maret 2011). Akhirnya Bapak walikotanya dalam rapat hari Sabtu 11 Maret 2011 di Banjarmasin memutuskan untuk menunda Konversi Minyak Tanah Ke gas di kota Banjarmasin sampai batas waktu yang tak terbatas. Alasannya adalah sosialisasi dan edukasi di masyarakat banjarmasin belum cukup. Harus ada iklan layanan masyarkat di setasiun TV lokal di Banjarmasin. Harus ada Surat Pernyataan dari masyarakat bahwa barang konversi, yaitu kompor, tabung gas dan acesoriesnya tidak akan dijual. Harus ada surat permohonan dari masyarakat untuk meminta barang konversi itu. Harus ada daftar nama calon penerima yang sudah ditandatangani oleh setiap anggota masyarakat.

Kalau dilihat lebih dalam, sebetulnya yang ditakuti oleh walikota Banjarmasin adalah terjadinya kebakaran yang diakibatkan oleh tabung gas 3 kg. Masyarakat Banjarmasin adalah masyarakat perkotaan dengan nilai plus. Nilai plusnya terletak pada sungainya yang banyak dan dapat ditelusuri dengan perahu. Sungai Martapura, Sungai Kelayan , sungai Kuin dan masih banyak lagi. Banyak rumah berdiri di atas sungai. Banyak rumah berdiri di atas rawa. Dan jika kita membayangkan kota Banjarmasin sebetulnya mirip kota Jakarta di wilayah Kelurahan Tambora dan Kelurahan Tanah Tinggi dengan rumah penduduknya terbuat dari kayu dan papan. Tanah ukuran 2 x 10 meter bisa jadi 4 rumah. Ditambah tanahnya adalah rawa-rawa yang banjir ketika air sungai pasang.. Kebayang sekarang kumuh dan padatnya. Dan sebagaimana Tambora di Jakarta, Kota banjarmasin pun sering terjadi kebakaran. Saking seringnya terjadi kebakaran, mayarakat banjarmasin dengan swadaya sendiri membentuk Barisan Pemadam Kebakaran di setiap kelurahan. Mobil seukuran kijang kotak dengan bak terbuka yang dilengkapi alat penyemprot airnya selalu siap siaga menyusuri jalan-jalan kecil sebagai jawaban jika terjadi kebakaran. Salut untuk hal ini.

Entah kenapa.. Saat ini program Program Konversi Minyak tanah ke gas 3 kg diambil alih oleh Kementrian ESDM. Bukan oleh Pertamina seperti yang selama ini kita yakini. Pertamina sekarang hanya bertugas membagikan saja paket perdana. Sedangkan pendataan dan Sosialisasi dilakukan oleh kementrian ESDM. Dan hasilnya.. Walaupun sosialisasi dan edukasi sudah dilakukan oleh konsultan Edsos (Edukasi dan sosialisasi) sebagai perpanjangan tangan Kementrian ESDM.. Namun hasilnya kurang menempel. Pendataannya saja lama, 3 bulan, hasilnya banyak yang menolak karena takut terhadap tabung gas 3 kg dan kemudian pendataan tambahan, selama 1 bulan, sehingga mencapai angka yang ditargetkan. Namun ketika angka 75% calon penerima dari kepala Keluarga Kota Banjarmasin didapat seperti yang diminta pemerintah kota inginkan, ternyata Pemkot dalam hal ini walikota tidak juga mau memberikan izin distribusikan paket di wilayahnya. Karena ternyata ketakutan berlebihan pemkot terhadap tabung gas 3 kg belum juga hilang.

Jadi mau bagaimana sekarang? Siapa yang untung dengan kejadian ini? Ini bukan film koboy The Good, The Bad and The Ugly dimana 3 unsur saling bertemu bertemu untuk memperebutkan sesuatu. Ini program pemerintah untuk kesejahteraan masyarakatnya. Sebetulnya lucu juga melihat ini, dari Medan di sumatera sampai Malili di Sulawesi orang-orang sudah sangat akrab dengan tabung gas 3 kg. Disana kompor gas sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Tetapi jika dipikir lebih dalam lagi malah kasihan. Banyak pekerjaan sia-sia. ESDM kebingungan mau diapakan datanya. Pemerintah Kota Banjarmasin malah tambah takut, karena merasa harus menerima bom. Pertamina bengong mau diapakan kompor gas dan tabung yang menumpuk di gudang. Masyarakat banjarmasin harus siap sengsara dengan susahnya mencari minyak tanah karena di luar kota Banjarmasin distribusi paket konversi sudah berjalan. Di Jakarta Pemerintah pusat heran karena program kerjanya berantakan. kok tidak jalan, padahal di tempat lain lancar-lancar saja.

Penduduk banjarmasin sebetulnya terbuka dan egaliter. Mereka juga sangat mandiri. Alamnya kaya. Sungainya penuh udang dan ikan. Mereka mau belajar dan bisa diajak diskusi. Namun satu hal yang kurang.. untuk soal dagang kekeluargaannya mereka kurang. Mungkin karena sifat mandirinya yang terlalu kuat. Sehingga kita susah menemukan pengusaha sukses dari Kalimantan yang mumpuni. Yang mampu berbicara di tingkat nasional dan internasional. Padahal semua kayu asalnya dari Kalimantan. Semua batubara asalnya dari kalimantan. Dan intan terbaik didapat dari Kalimantan.

Sebagai usulan, sekali-kali Bapak walikota perlu di ajak jalan-jalan ke kelurahan Tanah Sereal Jakarta. Untuk melihat bahwa ada wilayah yang lebih kumuh dari Kelayan. Tanah seluas 2 x 10 meter bisa jadi 12 rumah. Enggak kebayang gimana mereka tidurnya.. Jika terjadi kebakaran disitu, jangan harap mobil pemadam bisa masuk. Paling Cuma parkir di ujung jalan. Dan rasanya jadi kasihan melihat satgas LPG-nya sudah jauh-jauh meninjau program konversi di Jakarta namun hasilnya mentah lagi, karena rasa itu masih ada.

Tetap semangat! Banjarmasin.. Ayo.. Kayuh baimbai..