Showing posts with label Journey to Celebes. Show all posts
Showing posts with label Journey to Celebes. Show all posts

Friday, 8 March 2013

Foto Luwu Timur : sebuah negeri di awan







ayo ke luwu timur.. 
tempatnya jauh 
12 jam naik bus dari Makassar
3 jam naik pesawat dari Makassar
disinilah tempat lahirnya bangsa bugis







Thursday, 29 November 2012

kelurahan di Kendari, Sulawesi Tenggara


Kendari adalah nama salah satu kota di pinggir pantai di Sulawesi Tenggara.

dibawah ini adalah kelurahan yang ada di kota ini.

1. Kecamatan Abeli
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Abeli di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Abeli (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Anggalomelai (Anggolomelai) (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Benua Nirae (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Bungkutoko (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Lapulu (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Puday (Pudai) (Kodepos : 93234)
- Kelurahan/Desa Poasia (Kodepos : 93235)
- Kelurahan/Desa Talia (Kodepos : 93235)
- Kelurahan/Desa Nambo (Kodepos : 93236)
- Kelurahan/Desa Petoaha (Kodepos : 93236)
- Kelurahan/Desa Tobimeita (Kodepos : 93237)
- Kelurahan/Desa Sambuli (Kodepos : 93238)
- Kelurahan/Desa Tondonggeu (Kodepos : 93238)

2. Kecamatan Baruga
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Baruga di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Baruga (Kodepos : 93116)
- Kelurahan/Desa Lepo-Lepo (Kodepos : 93116)
- Kelurahan/Desa Watubangga (Kodepos : 93116)
- Kelurahan/Desa Wundupopi (Kodepos : 93116)
3. Kecamatan Kadia
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kadia di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Kadia (Kodepos : 93117)
- Kelurahan/Desa Pondambea (Kodepos : 93117)
- Kelurahan/Desa Wowawanggu (Kodepos : 93117)
- Kelurahan/Desa Anaiwoi (Kodepos : 93118)
- Kelurahan/Desa Bende (Kodepos : 93118)

4. Kecamatan Kambu
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kambu di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Kambu (Kodepos : 93231)
- Kelurahan/Desa Lalolara (Kodepos : 93231)
- Kelurahan/Desa Mokoau (Kodepos : 93231)
- Kelurahan/Desa Padaleu (Kodepos : 93231)

5. Kecamatan Kendari
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kendari di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Jati Mekar (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Kampung Salo (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Kessilampe (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Purirano (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Gunung Jati (Kodepos : 93125)
- Kelurahan/Desa Kendari Caddi (Kodepos : 93126)
- Kelurahan/Desa Kandai (Kodepos : 93127)
- Kelurahan/Desa Mangga Dua (Kodepos : 93128)
- Kelurahan/Desa Mata (Kodepos : 93129)

6. Kecamatan Kendari Barat
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kendari Barat di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Kemaraya (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Watu-Watu (Kodepos : 93121)
- Kelurahan/Desa Tipulu (Kodepos : 93122)
- Kelurahan/Desa Benu-Benua (Kodepos : 93123)
- Kelurahan/Desa Punggaloba (Kodepos : 93123)
- Kelurahan/Desa Sodohoa (Kodepos : 93124)
- Kelurahan/Desa Dapu-Dapura (Kodepos : 93127)
- Kelurahan/Desa Lahundape (Kodepos : 93127)
- Kelurahan/Desa Sanua (Kodepos : 93127)

7. Kecamatan Mandonga
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Mandonga di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Anggilowu (Kodepos : 93111)
- Kelurahan/Desa Korumba (Kodepos : 93111)
- Kelurahan/Desa Mandonga (Kodepos : 93111)
- Kelurahan/Desa Alolama (Kodepos : 93112)
- Kelurahan/Desa Labibia (Kodepos : 93113)
- Kelurahan/Desa Wawombalata (Kodepos : 93113)

8. Kecamatan Poasia
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Poasia di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Anduonohu (Kodepos : 93231)
- Kelurahan/Desa Anggoeya (Kodepos : 93231)
- Kelurahan/Desa Rahandouna (Kodepos : 93232)
- Kelurahan/Desa Matabubu (Kodepos : 93233)

9. Kecamatan Puuwatu
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Puuwatu di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Puuwatu (Puwatu) (Kodepos : 93114)
- Kelurahan/Desa Watulondo (Kodepos : 93114)
- Kelurahan/Desa Abeli Dalam (Kodepos : 93115)
- Kelurahan/Desa Lalodati (Kodepos : 93115)
- Kelurahan/Desa Punggolaka (Kodepos : 93115)
- Kelurahan/Desa Tobuuha (Kodepos : 93115)

10. Kecamatan Wua-Wua
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Wua-Wua di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) :
- Kelurahan/Desa Wua-Wua (Kodepos : 93117)
- Kelurahan/Desa Anawai (Kodepos : 93118)
- Kelurahan/Desa Bonggoeya (Kodepos : 93118)
- Kelurahan/Desa Mataiwoi (Kodepos : 93118)

dan ini peta dari kota Kendari

Wednesday, 28 November 2012

Konversi Minyak tanah ke gas 3kg berlanjut : Poso, Kendari, Banggai, Padang


Konversi Minyak tanah ke gas 3 kg akhirnya bisa dilanjutkan.
Untuk akhir tahun 2012 ini daerah yang akan dilaksanakan konversinya adalah Kabupaten Poso, Kendari, Banggai juga Padang di Pulau sumatera.

Pendataan ternyata tetap dilaksanakan oleh konsultan dari ESDM, sedangkan pendistribusian dilakukan oleh konsultan dari pertamina. Semoga semuanya berjalan lancar. Aman dan bermanfaat.

Diperkirakan hajatan ini akan berlangsung selama 3 bulan. Itu karena melihat keadaan bahwa sampai saat ini Stasiun Pengisian Bahan bakar Elpiji masih sedikit. Mungkin Palopo dan mungkin dari Palu. Sedangkan yang di Padang kemungkinan dari Jambi atau Pekan baru.

Sebaiknya pendataan dan pendistribusian dilaksanakan oleh pihak yang sama sehingga bisa mempercepat pekerjaan. Jika ada masalah bisa langsung ketahuan dimana titik permasalahannya. Namun kepala boleh sama hitam .. pikiran nya tetap lain-lain. Apapun itu mudah-mudahan tim pendata dan pendistribusi bisa bekerja sama dengan baik dan cepat. sehingga pekerjaan ini bisa terlaksana dengan cepat dan rakyat didaerah bisa segera merasakan manfaatnya.

Wednesday, 27 June 2012

Menengok perpustakaan di Parepare

Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi

Jl. Alwi Abdul Djalil Habibie No. 1, Parepare, Sulawesi Selatan 91114, telepon +62 421 26606  
adalah Perpustakaan di kota Parepare yang sangat nyaman tempatnya. Ruangnya ber AC. Bahan bacaannya cukup banyak. Lokasi pun sangat strategis. Tepat di bibir pantai di Pasar Senggol Parepare.



Sebetulnya di parepare ini ada perpustakaan mobil yang kecil yang biasa disebut perpustakaan keliling, Staf Pengelola Perputakaan Keliling Kota Parepare, Andi Ida mengatakan, perpustakaan dimaksud beroperasi setiap harinya yakni pada pukul 07. 30 hingga pukul 12.00 siang di empat kecamatan yang tersebar di Kota Parepare.

Namun tempat yang paling enak dan pas buat santai cuma yang di pasar senggol ini.

kita bisa membaca sambil memandang laut biru dari jendela perpustkaan ini. 


masuknya gratis.. namun hanya di hari kerja saja. Mari mi..

Tuesday, 26 June 2012

Jembatan diatas sungai Walanea Soppeng


Jembatan yang menghubungkan desa-desa di kecamatan Citta dengan kecamatan Liliriaja Soppeng ini adalah jembatan yang sangat penting bagi masyarakat daerah ini. Tanpa jembatan ini hubungan dan lalulintas antar daerah ini harus memutar jauh ke Macanre di Cabenge. Jauh dan menanjak, juga memutari gunung dan kebun kakao yang lebat. Sempit dan juga menurun. Tanpa cahaya lampu jalanan di sepanjang jalannya.

Jembatan diatas sungai Walanea ini ada 2. Yang satu di Macanre dan yang satu lagi yang ini, di Kampiri Citta.

Jembatan yang dekat Macanre terakhir saya lihat bolong ditengahnya. Besarnya cukup menenggelamkan sebuah sepeda motor. Namun untungnya sudah diberi plat baja diatasnya untuk menambal lubang diatas jembatan itu.

Sedangkan jembatan yang ini, melihat wujud dan fisiknya rasanya perlu direhab dan dibuatkan lagi jembatan di atas sungai ini. Karena jembatan ini kekuatannya maksimum hanya 5 Ton, dan terbuat dari kayu.

Masyarakat sangat berharap jembatan mereka benar dan kokoh. Karena setiap harinya mereka menggunakannya untuk berkatifitas.

Indonesia kaya namun tidak pernah mampu bikin jembatan yang benar.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU)  Soppeng, HM Jabir mengatakan, dalam lintasterkini.com "jalan kabupaten yang dalam kondisi baik sekarang ini hanya sepanjang 327,121 km. Sedangkan panjang jalan yang dalam kondisi sedang 110,400 km. Jika ditotalkan berarti  panjang jalan kabupaten yang kondisi masih bagus hanya 437,521 km. dari jalan kabupaten saja yang panjangnya
 890, 338 kilometer (km),

Khusus jembatan kabupaten, sebut Jabir, dari 155 buah dengan panjang sekitar 2.290 meter, 19 buah diantaranya atau sepanjang 793 meter kini dalam kondisi rusak berat.





Untungnya saat ini  sedang direncanakan akan dibangun sebuah jembatan penyeberangan di kelurahan Pajalesang sepanjang 18 meter. Mudah-mudah benar dan awet seperti jembatan-jembatan peninggalan Belanda.


Saturday, 12 May 2012

Foto Jadul Indonesia : Penduduk asli Tabarano Luwu Timur


Tabarano adalah satu desa di kecamatan wasuponda, Luwu Timur.
Dulu disini banyak tinggal orang-orang Padoe.. namun ketika Kahar Muzakar dan gerombolannya Berjaya, maka banyak orang-orang Padoe yang tinggal disini mengungsi dan pergi.
15 tahun kahar muzakar menguasai daerah ini.. 15 tahun pula orang-orang Padoe ini menyingkir.

Wednesday, 9 May 2012

destinasi wisata Luwu Timur



Berikut adalah daftar obyek wisata yang terdapat di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan:

1. Wisata Bahari Danau Matano di Kec.Nuha, kedalaman sekitar 500 meter
2. Cagar Alam Perburuan di Desa Matano Kec. Nuha
3.  Mata Air Matano di Desa Matano Kec. Nuha
4.  LAA Mengoro di Desa Matano Kec. Nuha
5.  Nganga Rano di Desa Matano Kec. Nuha
6.  Pantai Ide di Desa Magani Kec.Nuha. 

     Kita bisa berenang dengan bebas dan gratis disini.
7. Wisata Bahari Pantai Pomua Dahu-Salonsa di Desa Magani Kec.Nuha
8. Wisata Bahari Pantai Impian-Old Camp di Desa Sorowako Kec. Nuha
9. Wisata Bahari Pantai Kupu-Kupu di Desa Magani Kec.Nuha
10. Wisata Budaya Makam Mokole Lakamandiu di Desa Matano Kec. Nuha
11.  Danau Towuti di Desa Timampu kec.Towuti . 

       sayangnya disini kita hanya bisa memandang alamnya 
       saja yang indah. tidak ada tempat untuk berenang dan bersantai.
       Danau Towuti Tercatat sebagai danau air tawar terluas kedua setelah danau Toba.

12.  Mata Dewa Desa Loeha Kec. Towuti.

       Menyebrang dulu dari Timampu dengan naik perahu ketingting. Siap-siap degdegan..
       perahu penyebrangannya tanpa pelampung.
       Perlu diingat jika kesini anda harus menginap,
       karena perahu ketinting hanya 1 x sehari berlayar  menyebrang danau.
13.  Danau Mahalona Desa Mahalona Kec. Towuti ke dalaman sekitar 70 meter. 
       Namun disini kita harus menempuh jalan yang rusak dan hancur oleh air hujan dan
       kendaraan  berat yang mengangkut kayu hutan.
       Jalan disini tanpa aspal. hanya jalan tanah merah dengan  
       pengerasan. Motor atau mobil siap-siap terjebak disini. 
       Rasanya apa yang didapat nantinya tidak sebanding dengan perjuangan menuju kesini.
14.  Air Terjun Mata Buntu Desa Ledu-Ledu Kec. Wasuponda. 
       ini rasanya yang wajib didatangi. 
       pengunjung bisa merasakan kesejukan air Bumi Batara Guru.
        Kesejukannya yang menusuk tulang sudah
       bisa dirasakan ketika masih berada di kaki bukit.
       Ratusan anak tangga mengantar pengunjung menjajaki satu demi satu tingkatan air terjun.
      Selama di lokasi permandian alam, 
      pengunjung disuguhi pemandangan alam yang masih sangat asri.
      Air yang mengalir cukup deras namun tetap bersahabat 
      menambah kepuasan pengunjung sambil belajar berenang.
      Pengunjung bisa melepas penat sambil menggelar tikar alas daun pandan
      sambil menikmati  undak-undakan air terjun bersusun 33 yang terbentuk alami.
15.  Air Terjun Rongko Bulu Desa Kawata Kec. Wasuponda
16.  Pantai Batu Menggoro di Desa Harapan Kec. Malili.. sepi sekali disini..
17.  Wisata Bahari Pulau Bulu Poloe di Desa Harapan Kec. Malili

       Biota di Bawah laut di sekitar Pulau Bulu’ Poloe yang belum tereksploitasi
       mengajak kita untuk
       berkenalan lebih jauh. Letak Pulau ini berada di ujung utara Teluk Bone,
       dibutuhkan waktu 30 menit menggunakan perahu jenis Katinting
        untuk dapat menikmati keindahan bawah laut pulau ini
18.  Air Terjun Atue di Desa Atue Kec. Malili
19.  Sungai Malili di Desa Malili Kec. Malili|.

       Sungai Malili adalah ikon Ibukota Kabupaten Luwu Timur, 
       terletak di jantung Kota Malili membelah kota.
       Menikmati keindahan sunset muara menjadi pesona dan
       daya tarik tersendiri bagi pelancong
       terlebih disisi kanan sungai berjejer penginapan, restoran dan rumah makan 
       menggugah selera untuk 
       menikmati wisata kuliner andalan kota ini. 
       Masakan Parede, Kapurung, Dange dan lainnya terasa
       nikmat bila dipadukan dengan suasana sungai
       diiringi alunan Klotok dari perahu kecil dan 
       cepat yang melintasi tanpa putus dengan membelah sungai. 


20.  Hutan Magrove di Desa Malili Kec. Malili
21.  Sumur Sawerigading di Desa Baruga Kec. Malili
22.  Air Terjun Mantadulu di Desa Mantadulu Kec. Angkona
23.  Air Terjun Saloanuang di Desa Kasintuwu Kec. Mangkutana.

       Air Terjun Salu Anuang terletak 30 km arah utara Mangkutana di poros TransSulawesi
       arah Poso.
       Tidaklah sulit menemukan karena tepat di sisi kanan jembatan yang melintas di atasnya.
       Banyak pengunjung yang selalu menyempatkan singgah untuk refreshing
       dalam perjalanan panjang dari Sulawesi Tengah manuju ke Sulawesi Selatan.
       Derasnya air yang mengalir memberihkan bulir-bulir air terbang tersapu angin

       menciptakan kesegaran disekitarnya.
24.  Pantai Sere Bissue di Desa Lera Kec. Wotu
25.  Makam Puang Sanro di Desa Lampenai Kec. Wotu.
       Wotu adalah negeri pertama Luwu purba berdiri.
       Disini kita bisa melihat asal-usul penduduk asli Luwu.26.  Pantai Lemo di Desa Mabunta Kec. Burau. Pantai berpasir dengan nyiur melambai.
       ditambah rumput       jepang yang hijau.
       benar-benar tempat yang ideal untuk bersantai bersama keluarga.
       Berenang dan menikmati teduhnya pohon kelapa. benar-benar mantap disini..
27.  Gua Batu Putih di Desa Batu Putih Kec. Burau
28.  Permandian Air Panas di Desa. Cendana Kec. Burau
29.  Pantai Ujung Susu di Desa Mabonta Kec.Burau. 

      Apa yang pertama terpikirkan mendengar kata ujung susu..? 
      Itu lah yang mungkin yang bakal didapat disini.. hehehehe


Selamat berlibur..

Tuesday, 8 May 2012

Journey to celebes:luwu timur : mencari gudang..


MENCARI GUDANG

Kami tidur di rumah makan kenalan bernama stevi. Sebuah warung kopi harum manis di jl.incoiro no.46. Rumah makan ini menyediakan makanan dan minuman biasa seperti rumah makan umunya. Namun jangan berharap banyak. Tidak  mirip rumah makan padang atau rumah makan yang kita bayangkan. Hanya  semacam café. Tidak lebih. Namun yang menghidupi rumah makan ini adalah adanya catering untuk para karyawan Inco. Namun jika kita ingin merasakan rumah makan khas Luwu yang menyediakan berbagai makan tradisional disini Stevi ini mempunya sebuah restoran yang terletak di pinggir gunung. Tersembunyi diantara hutan pohon sagu. Rumah makan limboto.. lupa saya.. nanti saya cek lagi.
Dari Stevi ini kami berencana menyewa sebanyak 8 buah motor untuk opearsional di luwu timur ini. Setelah jelas perlu dan niat kami juga sekalian memberinya down paintmen untuk motor yang akan disewa, kami segera tidur. Gaya bacpaker lagi.. di bangku restorannya yang dingin karena ac dan cuaca diluar juga sedang hujan deras.

Disudut kafe ada tulisan.."Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, tetapi mereka yang tetap bangkit ketika jatuh". Hmm..
Sinyal hp bagus .. maka bisa internetan dan bikin status..

Pagi-pagi setelah diberi hidangan kopi susu hangat kami sarapan. Gratis.. Pukul 08.00 Para karyawannya sudah berdatangan. 2 orang wanita dan 1 pria. Yang pria langsung kedapur memasak dan menyiapkan  catering untuk dibawa ke Inco. Tidak semua makanan dimasak disini, namun ada juga yang dimasak di restoran pribadinya yang terlteak di  belakang gunung sebelum Sorowako. Jam 10.00 semua bungkusan catering siap dan semua masakan yang sudah matang  segera dimasukan ke dalam mobil kecil. Avansa.  Setevi pamit… kami juga pamit. Setelah sebelumnya sepakat untuk bertemu lagi 3 hari kedepan.
Tujuan sekarang adalah mencari basecamp di kota Malili dan sekitarnya.  Kami langsung cabut menuruni pegunungan verbeek. Jalan yang licin akibat hujan deras semalam membuat kami extra hati-hati. Hendra di belakang dengan santainya mengendarai satria barunya.
Jalan yang berliku-liku, serta hutan yang sepi membuat kami akhirnya tancap gas. Debu bercampur air menerpa muka kami yang sudah 2 hari ini tidak mandi.
Tabarano lewat.. Pembangkit listrik Karebbe lewat.. akhirnya Malili. Disini kami pelan karena mulai mencari –cari rumah atau ruko yang pantas untuk dijadikan gudang. Cerekang  lewat dan akhirnya Manurung.. Disini kami mulai Tanya-tanya “adakah rumah yang bisa disewa untuk dijadiakan gudang”.
Dan atas petunjuk yang punya ruko di Manurung kami berangkat ke pertigaan Lakawali. Disini ada rumah Toko yang luas namun sedang kosong. Kami pun bertemu dan mengajukan keinginan kami untuk menyewa tempat itu. Setelah tawar menawar.. akhir deal. Kami putuskan basecampnya disini.
Sebuah rumah took dengan luas 10mX20m.  Tinggi sedang.  Dasarnya dari kramik dan  ubin. Cocok sekali untuk dijadaikan gudang. Pemiliknya pensiunan polisi.

Ada kata-kata yang akan menjadi masalah pada kami saat deal-dealan ini.
“Kami akan sewa tempat Bapak selama 2 bulan. Nanti jika kami  merasa masih memerlukan tempat ini maka akan diperpanjang lagi selama 1 bulan lagi. Jika lewat satu hari misalnya dari tanggal yang disepakati, maka kami akan memperpanjang lagi selama 1 bulan.. Bagai mana pak? Tanya Dadang kepada pemilik rumah itu.

“ Maksud bapak Dadang jika lewat dari hari yang sudah disepakati maka akan dibayar dengan harga 1 bulan?” Tanya bapak itu.. Aneh saja dia. Kok ada orang yang mau bernego seperti itu.

“iya Pak.. jika misalkan hari ini sudah habis masa kontraknya, terus ternyata kami masih perlu maka kami akan memperpanjang lagi selama 1 bulan.” Tegas Dadang.

Saya juga meng iyakan . Karena dalam fikiran saya setelah kontrak habis dan jika diputuskan akan memperpanjang lagi pasti hitungan kontrak selama satu bulan. Nggak mungkin sehari.
“Oke.. setuju” Kata bapak itu.

Alhamdulillah akhirnya kami malam itu bermalam dibasecamp.  Motor dimasukan ke gudang dan kamipun mandi. Setelah makan di baso diseberang jalan kamipun beristirahat.  Tidur beralaskan tikar pandan, diberi bantal di lantai keramik yang dingin.  Nyamuk tidak sebanyak sidrap, cukup autan sebagai pengusir nyamuk dan Kami bertiga tidur dengan nyenyaknya.

Thursday, 12 April 2012

Peta Etnis di Sulawesi Selatan

Selama ini yang kita hanya tahu dari Sulawesi Selatan hanya ada suku bugis saja, padahal masih banyak suku-suku lain yang ada di Sulawesi Selatan ini seperti suku makasar, mandar dan toraja. Mungkin karena pada zaman dulu ketika orang-orang bugis di jajah orang makassar yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin yang menyebabkan suku ini menyebar luas hampir ke seluruh Indonesia. Contohnya adalah Arung Palakka yang malang melintang di Batavia dan Sumatera Barat bertahun-tahun.

Adapun Suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan sebagai berikut:

SUKU BENTONG = Suku Bentong tinggal di perbatasan Kabupaten Maros dan Bone, mereka mendiami daerah Bulo-Bulo, bagian dari wilayah Kecamatan Tenete Riaja. Kabupaten Barru, Propinsi Sulawesi Selatan.

SUKU BUGIS = Suku tersebut berpusat di Sulawesi Selatan. Suku ini mendiami sebelas Kabupaten, yaitu Kab. Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Sidenreng-Rappang, Powelai-Mamasa, Luwu, Pare-pare, Barru, Pangkajene, dan Maros.

SUKU CAMPALAGIAN = Nama lain dari suku ini adalah Tulumpanuae atau Tasing, dan biasa disebut oleh pemerintah suku Mandar. Namun mereka menyebut diri mereka orang Campalagian. Mereka tinggal di sekitar Kabupaten Majene, tepatnya di kota Campalagian dan Kab. Polewali-Mamasa (Polmas) serta di Kabupaten Mamuju sepanjang sungai Mandar.

SUKU DURI = Suku Duri terletak di pedalaman Sulawesi Selatan, mendiami wilayah Kabupaten Enrekang yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kec. Enrekang, Maiwa, Baraka, Anggareja dan Alia, yang berbatasan dengan Tanah Toraja. Mereka menggunakan bahasa dengan dialek khusus yaitu bahasa Duri. 

SUKU ENREKANG = Suku Enrekang terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kurang lebih 259 Km dari kota Ujung Pandang .

SUKU KONJO PEGUNUNGAN = Suku ini mendiami hampir seluruh Kabupaten Gowa. Gowa bekas kerajaan yang menjadi obyek wisata, terletak sekitar 30 km dari Ujung Pandang . SUKU KONJO PESISIR = Suku Konjo tinggal di Kabupaten Bulukumbu, kurang lebih 209 km dari kota Ujung Pandang , Propinsi Sulawesi Selatan. Nama lain suku ini adalah Kajang - merupakan perkampungan tradisional khas suku Konjo.

SUKU LUWU = Suku Luwu tinggal di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur .

SUKU MAIWA = Suku Maiwa merupakan salah satu suku di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang.

SUKU MAKASAR = Wilayah suku Makasar berada di Kabupaten Takalar Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Maros dan Pakajene. Pada umumnya kehidupan orang Makasar dan orang Bugis berbaur, dengan penduduk terletak di pesisir pantai dan Teluk Bone, serta di sekitar Gunung Lompobatang.

SUKU MAMUJU = Mamuju terletak di tepi pantai timur Sulawesi , terbentang dari arah selatan ke utara. Suku ini dialiri oleh beberapa sungai, seperti Hua, Karamu, Lumu, Budung-Budung.

SUKU MANDAR = Suku Mandar terletak di Kabupaten Majene, Propinsi Sulawesi Selatan.

SUKU TOALA'/PANNEI = Sumpang Bita adalah obyek wisata gua yang terdapat di Kab. Pangkep, Sulsel. Pada dinding gua Sumpang Bita itu terdapat bekas gambar telapak tangan, dan telapak kaki manusia, perahu, rusa dan babi hutan. Mungkin unsur-unsur ini menunjukkan gaya hidup orang Toala/Pannei zaman dulu. Konon sejak 5000 tahun yang lampau merupakan tempat hidup nenek moyang suku Toala/Pannei. 

SUKU ULUMANDA = Masyarakat Ulumanda berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Suku ini merupakan salah satu anak suku Bungku.


Populasi (2010)[2]
 - Total8.032.551
 Kepadatan128,6/km²
Demografi
 - Suku bangsaBugis (41,9%), Makassar(25,43%), Toraja (9,02%),Mandar (6,1%) [3]
 - AgamaIslam (87.88%), Protestan(8.19%), Katolik (1.51%),Budha (0.88%), Hindu(0.02%)
 - BahasaBahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Toraja, Bahasa Mandar, Bahasa Luwu


 PS : - Konon kabarnya Suku Bentong adalah keturunan putra Raja Bone yang kawin dengan putri Raja Ternate.
- Berbicara tentang Makassar maka adalah identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Istilah Bugis dan Makassar adalah istilah yang diciptakan oleh Belanda untuk memecah belah kedua etnis ini. (Wikipedia)
- Di Luwu Timur sebetulnya ada suku padoe, namun sedikit jumlahnya.

 sumber utama :
 H.Muh. Nur Abdurrahman http://buginese.blogspot.com/2006/07/suku-di-sulawesi-selatan.html

Friday, 24 February 2012

JOURNEY TO CELEBES : Mengenal agama Tolotang Sidrap




Di Kabupaten Sidrap ada komunitas Hindu yang menganut kepercayaan yang sebetulnyamirip agama Hindu tetapi bukan hindu. Karena agama mereka ini bukan berasal dari India. Jika kita pernah membayangkan teori Oppeheimer tentang manusia atlantis yang hilang entah kemana maka cerita tentang asal usal usul agama To Lotang ini mungkin akan terlihat nyambung. Soal kebenarannya wallahualam.


To Lotang atau To Wani merupakan istilah yang pertama kali diucapkan oleh La Patiroi, Addatuang Sidenreng VII, untuk menyebut pendatang yang berasal dari arah Selatan, yaitu Wajo. Dimana To Lotang terdiri atas 2 (dua) kata yaitu kata To (bahasa Bugis) yang berarti orang dan kata lotang yang berasal dari bahasa Bugis Sidrap yakni Lautang yang berarti Selatan.


Penganut Tolotang percaya bahwa manusia pertama dibumi ini sudah musnah. Adapun manusia yang hidup sekarang adalah manusia periode kedua, setelah manusia pertama musnah. Menurut buku I Lagaligo begini ceritanya..

Suatu ketika, PatotoE (Dewata SeuwaE) tertidur lelap. Ketiga pengikutnya yang dipercayakan menjaganya, yakni Rukkelleng, Rumma Makkapong dan Sangiang Jung, pergi mengembara ke dunia lain. Ketika mereka sampai di bumi, ketiganya melihat bahwa ada dunia kosong. Sekembalinya dari pengembaraan, ketiganya bertemu dengan PatotoE, lalu menceritakan pengalaman yang mereka saksikan, bahwa masih ada dunia yang kosong. Mereka usulkan agar diutus seseorang untuk tinggal di dunia kosog itu. Rupanya PatotoE tertarik dengan cerita tersebut. PatotoE lantas berunding dengan istrinya Datu Palinge dan seluruh pimpinan di negeri Kayangan. Setelah istrinya setuju, maka diutuslah Batara Guru turun ke bumi. Masyarakat sekarang menyebutnya Batara Guru sebagai Tomanurung.

Setelah beberapa lama di bumi, Batara Guru merasa kesepian. Ia minta agar diturunkan satu manusia lagi ke bumi. Maka turunlah I Nyili Timo, putri dari Riseleang. Batara Guru kemudian kawin dengan I Nyili Timo. Hasil dari perkawinannya tersebut membuahkan seorang putra, namanya Batara Lettu. Setelah Batara Lettu dewasa, ia kemudian dikawinkan dengan Datu Sengngeng, putri dari Leurumpesai.

Hasil perkawinannya melahirkan dua anak kembar, satu putra dan satu putri. Yang putra bernama Sawerigading sedangkan yang putri bernama I Tenriabeng.

Sawerigading kemudian kawin dengan I Cudai, salah seorang putri raja dari Cina. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak, yang bernama Lagaligo.

Pada masa Sawerigading, negeri makin aman. Penduduk sangat tunduk pada perintahnya. Setelah Sawerigading meninggal, masyarakat menjadi kacau. Terjadi pertengkaran dimana-mana hingga banyak menelan korban. Peristiwa tersebut membuat Dewata SeuwaE marah. Dewata lantas menyuruh semua manusia agar kembali ke asalnya, maka terjadilah dunia kosong.

Setelah sekian lama dunia kosong, PatotoE kembali mengisi manusia di bumi ini sebagai generasi kedua. Manusia yang diturunkan oleh PatotoE inilah yang akan meneruskan keyakinan yang dianut oleh Sawerigading sebelum dunia dikosongkan oleh PatotoE.

Dalam keyakinan penganut Tolotang, ajaran Dewata SeuwaE itu diturunkan sebagai Wahyu pada La Panaungi. Wahyu yg didengar La Panaungi sbb : Berhentilah bekerja, terimalah ini yang saya katakan. Akulah DewataE, yang berkuasa segala-galanya. Aku akan memberikan keyakinan agar manusia selamat di dunia dan hari kemudian. Akulah Tuhanmu yang menciptakan dunia dan isinya. Tetapi sebelum kuberikan wahyu, bersihkanlah dirimu. Setelah wahyu ini diterima, sebarkanlah pada anak cucumu.

Suara itu turun tiga kali berturut-turut. Untuk membuktikan keyakinan yang diberikan itu, DewataE membawa La Panaungi ke tanah tujuh lapis dan ke langit tujuh lapis untuk menyaksikan kekuasaan DewataE pada dua tempat, yakni Lipu Bonga, yang merupakan tempat bagi orang-orang yang mengikuti perintah DewataE.


Ajaran yang diterima oleh La Panaungi ini kemudian disebarkan pada penduduk, hingga banyak pengikutnya. Dalam ajaran Tolotang, pengikutnya dituntut mengakui adanya Molalaleng yakni kewajiban yang harus dijalankan oleh pengikutnya.

Kewajiban dimaksud adalah : Mappianre Inanre, yakni persembahan nasi/makanan yang dipersembahkan dalam ritus/upacara, dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauk ke rumah uwa dan uwatta.

Tudang Sipulung, yakni duduk berkumpul bersama melakukan ritus pada waktu tertentu guna meminta keselamatan pada Dewata. Sipulung, berkumpul sekali setahun untuk melaksanakan ritus tertentu di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Biasanya dilakukan setelah panen sawah tadah hujan. Menyangkut kejadian manusia, Tolotang juga mengenal empat unsur kejadian manusia, yakni tanah, air, api dan angin.

Dalam acara ritual, keempat unsur tersebut disimbolkan pada empat jenis makanan yang lebih dikenal dengan istilah Sokko Patanrupa (nasi empat macam).

Yakni nasi putih diibaratkan air, nasi merah diibaratkan api, nasi kuning diibaratkan angin dan nasi hitam diibaratkan tanah. Itulah sebabnya, setiap upacara Mappeanre atau Mappano Bulu, sesajiannya terdiri dari Sokko Patanrupa.

Sebelum La Panaungi meninggal, ia sempat berpesan untuk meneruskan ajaran yang ia terima dari DewataE dan minta agar pengikutnya berziarah ke kuburannya sekali setahun. Itulah sebabnya, kuburan La Panaungi telah banyak diziarahi pengikutnya setiap saat. Penganut agama Tolotang ini sempat berkembang, tetapi pada abad ke-16,ketika Islam berpengaruh di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, jumlah penganut Tolotang cenderung menurun karena hampir semua kerajaan bugis masuk Islam.

Pada Tahun 1609, Addatuang Sidenreng, La Patiroi dan mantunya La Pakallongi, secara resmi menerima Islam sebagai agamanya dan menjadikannya sebagai agama kerajaan. Dan tahun 1610 di Wajo kerajaan Batu pun masuk Islam sehingga semua rakyatnya diwajibkan masuk Islam. Orang-orang Wani semua menolakmasukIslam sehingga mereka diusir dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke tempat lain yang mau menerima mereka.

dipimpin oleh I Goliga dan I Pabbere, meninggalkan tanah leluhurnya, Wajo dan hijrah ke Tanah Bugis lainnya. I Goliga akhirnya tiba di Bacukiki, Parepare dan I Pabbere sampai di Amparita yang kemudian mengadakan perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi.

Akhirnya I Pabbere diberikan izin untuk menetap di Loka Popang (susah dan lapar), sebelah selatan Amparita, dengan syarat :
1. Adat Sidenreng tetap utuh serta harus dipatuhi
2. Keputusan harus dipelihara
3. Janji harus ditepati
4. Suatu keputusan yang telah berlaku harus lestarikan
5. Agama Islam harus diagungkan dan dijalankan.

Setelah rombongan I Pabbere menetap dan bertani di Loka Popang, kemudian nama tersebut diganti dengan nama Perrinyameng, yang berarti setelah susah datanglah senang.

Di tempat inilah, I Pabbere meninggal dunia yang kemudian juga dimakamkan di Perrynyameng. Dalam versi lain disebutkan bahwa pendiri Toani Tolotang adalah La Panaungi. Penganut Toani Tolotang ini mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE.



Sekitar Tahun 1964-1965, terjadi Operasi Mappakaira yang dipimpin oleh Mayor Asap Marwan, yang bertujuan untuk menghentikan tradisi masyarakat To Lotang. Operasi ini dilakukan atas permintaan kaum legislatif (DPRD) waktu itu, oleh karena ajaran To Lotang tidak diakui sebagai agama yang berhak berkembang dan To Lotang diakui hanya sebagai kebudayaan.

Operasi Makkaira membuat sebagian masyarakat To Lotang masuk Islam dan sebagian lainnya tetap menjalankan tradisi nenek moyang, walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi.

Ajaran Tolotang bertumpu pada 5 (lima) keyakinan, yakni :
1. Percaya adanya Dewata SeuwaE, yaitu keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa
2. Percaya adanya hari kiamat yang menandai berakhirnya kehidupan di dunia
3. Percaya adanya hari kemudian, yakni dunia kedua setelah terjadinya kiamat
4. Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan
5. Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci Penyembahan To Lotang kepada Dewata
SeuwaE berupa penyembahan kepada batu-batuan, sumur dan kuburan nenek moyang.

Dalam masyarakat Tolotang terdapat 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Benteng dan Kelompok To Wani To Lotang. Kedua kelompok ini memiliki tradisi yang berbeda dalam beberapa prosesi, misalnya dalam prosesi kematian dan pesta pernikahan.

Bagi Kelompok Benteng, tata cara prosesi pernikahan dan kematian sama dengan tata cara dalam agama Islam. Sedangkan tata cara kematian kelompok To Wani To Lotang berupa pemandian jenazah yang kemudian dibungkus dan dilapisi dengan menggunakan daun Sirih. Untuk prosesi pernikahan Kelompok To Wani To Lotang dilaksanakan di hadapan Uwatta, yakni pemimpin ritual yang masih merupakan keturunan langsung dari pendiri To Wani To Lotang. Bagi Kelompok To Wani To Lotang, ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil tempat di Perrynyameng yang merupakan lokasi kuburan I Pabbere.

Pada waktu tersebut masyarakat To Wani To Lotang membawa sesajian berupa nasi dan lauk pauk yang diyakini merupakan bekal di hari kemudian. Dimana semakin banyak sesajian yang dibawa, maka semakin banyak pula bekal yang akan dinikmati di hari kemudian.


Bagi Kelompok Benteng, ritual Sipulung dilaksanakan di sumur PakkawaruE, dimana pada siang hari masyarakat berkumpul di kediaman Uwatta dan barulah pada malam hari melaksanakan prosesi Sipulung. Prosesi Sipulung berupa pembacaan lontaraq oleh Uwatta, dimana masyarakat yang hadir pada saat itu memberikan daun Sirih dan Pinang kepada Uwatta.


Upacara Adat To Lotang dilakukan oleh masyarakat To Lotang yang dilaksanakan di Bulu (Gunung) Lowa, berada di poros Kota Pangakajene dengan Kota Soppeng dan terletak di Amparita Kecamatan Tellu Limpoe. Daerah ini merupakan lokasi upacara adat Perrynyameng. Ritual tersebut dilakukan sekali setahun (Bulan Januari), dengan waktu pelaksanaan harus dimusyawarahkan oleh tokoh-tokoh (Uwa) Tolotang. Ritual adat dilaksanakan karena adanya pesan dari Perrinyameng. Apabila telah menghembuskan napas terakhirnya maka anak cucunya harus datang menziarahinya sekali setahun. Penyiraman minyak bau (berbau harum) oleh Uwa, atraksi Massempe (permainan adu kekuatan kaki).

Semua pengikut sealiran dari berbagai desa/kota berkumpul dengan berpakaian serba putih-putih, sarung dan tutup kepala (kopiah hitam) untuk para laki-laki, sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian seperti kebaya. Pada saat ritual upacara, mereka duduk bersila di atas tikar tradisional dengan penuh hikmat dan keheningan serta konsentrasi pemusatan jiwa dan raga kepada sang pencipta (Dewata SeuwaE). Selanjutnya dilanjutkan dengan penyembahan oleh wa, ditandai dengan penyiraman minyak bau (minyak berbau wangi-wangian) pada batu leluhur yang sangat disakralkan, kemudian dilanjutkan kegiatan Massempe.

Jarak lokasi upacara adat dengan Kota Pangkajene sebagai ibukota kabupaten sekitar 7 Km. Dalam konteks budaya To Lotang, mereka sangat menghormati makam tua Pammasetau. Makam Tua Pammasetau merupakan makam bagi ummat kepercayaan To Lotang yang dijadikan sebagai tempat ritual dan penyembelihan hewan untuk maksud-maksud tertentu (nazar). Pada umumnya kuburan yang ada batu nisannya masih berupa batu alami (batu sungai) yang bentuknya besar-besar.

Makam ini terletak di Desa Cenrana Kecamatan Panca Lautang. Jarak dari Kota Pangkajene sekitar 28 Km dan untuk sampai ke lokasi makam telah dibangun jalan pengerasan dari jalan poros Kota Pangkajene dengan Kota Soppeng. Untuk sampai ke lokasi makam dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.

Amparita : negeri orang-orang selatan



Amparita, begitulah namanya sebuah kampung yang tak jauh dari keramaian kota Pangkajene SIDRAP. Terletak di kecamatan Tellu Limpoe, sekitar 8 kilometer dari Pangkajene. Sangat mudah dijangkau karena jalan menuju tempat ini berkondisi mulus sebab jalur yang melintasi Amparita termasuk jalan poros Pangkajene-Soppeng. Jalanan yang menghubungkan dengan desa-desa tetangga juga relatif bagus.

Di tempat ini kita bisa melihat ibu-ibu bersarung ke pasar sambil membawa bawaannya di kepala. Juga bapak-bapaknya yang bersarung di jalan raya. Ibu dan bapak-bapak ini merupakan komunitas Hindu satu-satunya di Sulawesi Selatan. Sebetulnya bukan Hindu, tetapi oleh masyarakat disana sudah biasa disebut hindu, dan orang-orang ini sering juga disebut To Lotang (orang-orang selatan).

Jangan berharap ada candi atau pura disini, satu satunya landmark yang ada Cuma patung Bau Masseppe pahlawan Nasional Sidrap di pasar sentral Amparita . Menurut sejarahnya mereka adalah orang-orang yang terusir dari tanah airnya..
Abad ke 17, Islam menjadi agama resmi di hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, tidak terkecuali Kerajaan Wajo (1610). Matoa Wajo ketika itu langsung mengistruksikan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang baru tersebut. Namun sekelompok masyarakat yang tinggal di kampung Wani ingin mempertahankan kepercayaan yang sudah dianutnya secara turun temurun. Melihat pembangkangan orang Wani maka Matoa Wajo mengusir orang-orang tersebut keluar dari kampungnya, dan tidak memperbolehkan mereka tinggal dalam wilayah kerajaan Wajo.

Dan orang-orang Wani pun keluar meninggalkan kampungnya. Exodus ini terbagi atas dua rombongan yang dipimpin oleh I Paqbere dan I Goliga. (Ipabbere adalah seorang perempuan, makamkan saat ini ada di Perinyameng, sebuah daerah di sebelah barat Amparita. Makam Ipabbere inilah yang kemudian selalu dikunjungi dan ditempati untuk acara tahunan komunitas ini.)

Setelah berhari-hari berjalan ia melewati beberapa kerajaan di luar Wajo dan meminta untuk bermukim di wilayah tersebut akan tetapi tak ada yang memberinya lahan, karena kerajaan-kerajaan Bugis waktu itu sudah Islam. Akhirnya orang-orang Wani ini memasuki wilayah Amparita yang merupakan bagian Kerajaan Sidenreng. Orang-orang Wani yang sudah kelelahan dan kelaparan meminta izin kepada raja agar diperbolehkan tinggal di daerahnya, Addatuang Sidenreng saat itu tidak tega melihat mereka terlunta-lunta sehingga berbaik hati untuk memberikan tempat tinggal untuk orang-orang terusir itu di bagian selatan kerajaannya, yaitu di wilayah Amparita. Disini mereka hidup tentram dibawah lindungan Addatuang Sidendreng. Mereka saatini sering disebut dengan nama Tolotang atau orang selatan (to = orang, lotang = lautang =selatan).

Kelompok ini bertempat tinggal di sebelah selatan jalan raya (benteng) dalam kerajaan. Orang To Lotang dikenal dua kelompok. Kelompok pertama adalah Tolotang Towani yang hindu dan To lotang Benteng (sekarang lautang Benteng di kec. MARITENGNGAE ) yang menganut agama Islam.

Sejak tahun 1966, kepercayaan orang Tolotang kemudian diakui sebagai salah satu agama setelah ia terdaftar sebagai salah satu sekte dalam agama Hindu. Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha, No.2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966. Surat Keputusan tersebut di sempurnakan kemudian dengan Surat Keputusan No. 6 Tahun 66, tertanggal 16 Desember 1966.

Setiap tahun selalu saja ada upacara yang digelar di daerah Amparita dan sekitarnya, misalnya di Otting dan Bacukiki (masuk wilayah Kota Pare-pare). Acara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Januari itu juga merupakan pesan dari Ipabbere, sebab beliau berpesan ke anak cucunya bahwa jika kelak ia meninggal, kuburnya harus diziarahi sekali setahun.

Amparita secara administratif berbentuk kelurahan dan dipimpin oleh lurah yang diangkat oleh Bupati. Di sebelah timur, kelurahan Amparita berbatasan dengan dengan Desa Teteaji, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Allakuang dan Toddang Pollu, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Masseppe dan sebelah utara berbatasan dengan Arateng. Dari catatan BPS Kabupaten Sidenreng Rappang tahun 2005, luas wilayah Amparita adalah 6, 69 km2 . Pada musim kemarau seperti sekarang ini kawasan Amparita dan sekitarnya tampak berdebu, kering, kusam, dan sangat panas.

Kebanyakan penduduk Amparita saat ini adalah petani karena Tanah di kawasan Amparita dan secara umum di Sidenreng Rappang memang cocok untuk lahan pertanian. dari segi ekonomi, sejauh pengamatan sekilas saya, bisa dikatakan bahwa kalangan pemeluk tolotang—terutama elit-elitnya—adalah orang yang cukup berada. Mereka punya modal ekonomi dan modal sosial yang lebih dari memadai. Ada yang jadi pengusaha ternak sukses yang punya 7000 ayam petelor yang bisa punya omset sekitar 60 juta tiap bulan. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten selama dua periode. Ada yang mempunyai tiga buah usaha penggilingan padi besar di Pangkajene. Bahkan pada periode 2004-2009 ada dua pemeluk Tolotang yang menjadi anggota DPRD di kabupaten Sidenrang Rappang ini.

“Sebagai komunitas yang terbuka, memang tidak menutup kemungkinan ada warga kita yang keluar dari Tolotang. Memang dipersilakan. Tidak dipermasalahkan. Tapi sebaliknya, juga demikian. Ada juga penganut lain yang mau bergabung dengan kami. Hanya memang, hal itu sangat sulit. Bahkan, bisa jadi tidak bisa. Sebab, prinsip kami, Tolotang tidak berkembang dengan menerima orang lain. Kami tidak pernah seperti itu. Kita berkembang berdasarkan anak cucu.

Komunitas ini bertahan hingga kini, juga karena adanya doktrin dari nenek moyang kepada keturunannya. Sejak kecil, anak-anak Tolotang sudah diberi pemahaman dan pesan khusus soal Towani Tolotang. Para Wa-lah yang paling berperan untuk memberi pemahaman. Wa dikami ibarat ustad di Islam. Merekalah yang mengambil peran dalam memberi pencerahan agama di tolotang. Meski demikian, seiring perkembangan zaman, ada juga beberapa warga kami yang akhirnya berubah. Ada yang memeluk Islam.
Bahkan, banyak yang sudah berhaji. Setelah berpindah agama, tidak ada lagi kewenangan mereka di Tolotang. Pernikahan juga menjadi salah satu pemicu adanya pergeseran ini. Dan kami memang cukup ketat soal itu. Semua yang menikah di luar Tolotang, termasuk Islam, berarti sudah keluar. Mereka tidak diakui lagi,” kata Wa Eja, seorang tokoh masyarakat di Tolotang.

Saturday, 7 January 2012

Pertama kali melihat hantu



Selama ini saya tidak terlalu percaya dengan hantu. Dan sering dengar teman-teman cerita tentang hantu yang ada di basecamp kami. Namun tadi malam jam 3 pagi ada yang datang. Asap putih membentuk pocong muncul tepat didepan muka. Untungnya lagi tidur jadi langsung aja tutup pake selimut. Nggak berani ngintip..langsung merem. Nggak tahu lagi ceritanya itu hantu yang ada didepan muka.
Besoknya Adit langsung menanyakan hal semalam..

“Lihat tidak tadi malam di kamar?”

“Iya.”

“Itu yang nunggu kamar ini.”

“Oohh. Nggak ganggu kan?”

“Ya begitu aja.”

“Emang ada lagi yang lain?”

“Banyak. Dibelakang kamar nenek-nenek. Di pondok indah pas di pagarnya genderuwo. Trus di jembatan di depan. Semua baik kok, kecuali yang di atas jembatan sana. Itu yang paling dan sering usil.”

“Ooh begitu ya.”

“Sebetulnya masih banyak. Yang dikandang ayam ada. Yang di kolam tempat kita mancing juga ada.”

“Mau dibukakan matanya buat lihat ga?”

“Nggak. Terimakasih.”

Orang gede dan ganteng ini kemudian berlalu ke kamar mandi.

Sendirian disini jadi mikir. Memang sih.. selama kami tinggal di situ. Sering terjadi kecelakaan di satu titik. Bukan di jembatan besar. Namun di jembatan kecil dijalan poros Sidrap ini. Jika kita ada diatas jembatan itu kita malah tidak tahu bahwa disitu ada jembatan. Namun jika kita ke pinggir jalan baru lihat itu jembatan karena ada sungai kecil dibawahnya.

Di titik ini sering banget terjadi kecelakaan. Padahal jalan disekitar situ biasa saja. lurus mulus. Dan sering diberi lampu jalan. Cuman aneh kadangkadang lampunya suka mati mendadak.

Kecelakaan pertama yang kami lihat adalah ketika sebuah mobil sarat muatan nyebur ke sawah. Untuk tidak ada yang luka parah. Penegmudinya bilang kok aneh..tahutahu belok. Kami pikir sih supirnya ngantuk. Karena Saat terjadi jam 2malam.

Kecelakaan kedua truk fuso meletus ban belakangnya. Otomatis peleknya langsung mengukir keras di jalan poros itu. Membuat satu garis dalam di aspal. Tidak ada yang luka hanya truk jadi tidak bisa jalan, nyungsep di pinggir jalan.

Kecelakaan ketiga ini yang parah. Sebuah mobil Toyota kijang mendadak mati mesinnya tepat di atas jembatan itu. Supirnya bingung, otak atik sana-sini tetap tidak bisa nyala. Akhirnya kendaraan ditinggalkan untuk mencari bengkel. Beberapa saat kemudian lampu diatas jembatan itu mendadak padam. Sehingga Susana disitu gelap. Bisa kebayang sekarang.. jalan poros gelap gulita dengan sebuah mobil mogok dipinggir jalan, dengan mengambil sepertiga lebar jalan. Lalu lewatlah sebuah sepeda motor . Ngebut lagi. Mungkin karena kaget tiba-tiba melihat ada mobil didepannya dia langsung injak rem.

Iiitttt...

Nguiiingggg…

Jrott..

Tuesday, 3 January 2012

Namanya Juarsa




Makassar malam hari, kami langsung kirim email buat laporan, sekalian minta dikirim bekal buat kami, dana maksudnya. Malam itu langsung tidur karena cape dan badan harus segar lagi karena besok langsung ke Sidrap naik mobil.

Besok paginya ada sms masuk. Ada orang gila mau datang. Namanya Juarsa. Gede gendut dan item. Dia datang menyusul. Walau diberitahu bahwa pekerjaan masih lama dia sudah muncul di Makasar. Katanya ada di sebuah wisma di jalan onta. Ketika disusul kesana orang wisma bilang dia sudah keluar. Cape deh.

Setelah dicari kesana kemari, akhirnya ketemukan dia dipinggir jalan deket pasar. Sambil memegang tas hitam besarnya, berdiri melamun sambil merokok. Celingak.. celinguk. Begitu melihat kami langsung dia perlihatkan giginya yang item penuh nikotin. Senyum lebar selebar-lebarnya.

“Hallo bos. “ Serunya kegirangan karena melihat kami.
“Udah lama disini?”
“Dari pagi. “
“Kok bisa?”
“Iya lah..kalau lebih dari jam 9 nanti harus bayar sewa kamar lagi dong.”
“Ooh.. pantes.”
“Ya udah.. ayo naik motor..”

Langsung saja dibawa ke messnya aco.

Juarsa ini dulu anak buah saya dalam riset. Orangnya sebetulnya tekun dan jujur namun ada yang salah dengan orang ini. Setahun lalu pernah jatuh ke jurang di Garut saat bertugas disana. Untungnya selamat karena nyangkut di pohon bambu. Kepalanya bocor namun tetap sehat dan terlihat segar. Hobinya merokok. Itu rokok selalu ada dijari tangannya. Kapanpun dimanapun. Kecuali sat-saat resmi tentunya. Rokoknya merk apa saja yang penting wujudnya rokok. Dalam satu jam bisa menghabiskan 1 bungkus rokok isi 12 batang, apalagi jika sambil kerja. Bisa-bisa lebih sering nyalain rokok dari pada kerja. Bahkan suatu ketika pernah tidur sambil merokok. Tentu saja bibirnya sempat terbakar. Masih untung nggak ketelan tuh rokok. Yang ditakuti orang-orang yang kenal dia cuma satu jangan-jangan otaknya tertinggal di Garut waktu jatuh.

Senyam senyum mulu, langsung aja kami suruh mandi. Baunya terasa sampai ke sebrang.
Setelah mandi dia cerita kalau sudah datang dari kemarin pakai kapal laut dari Tanjung Priuk. Dibayarin sama pacarnya yang baru kenal lewat telepon saat polling survey.

“ Ini kebetulan atau kesempatan ya..”pikirku.

Sudah 3 hari dia di Makassar. Semuanya atas biaya dan akomodasi dari pacarnya. Hari pertama datang tinggal di hotel, hari kedua pindah ke mess di jalan onta. Dan hari ketiga tadi di pinggir jalan katanya. Jadi dia nelpon kami karena perlu tumpangan..
“ Oooh ternyata diusir dari mess.. Ya?” ujar ku..

“He he he he..” di Cuma nyengir.

Ngertilah kalau begitu.

*****

Monday, 26 December 2011

Melihat Indonesia dari Makasar sampai Malili

Sebuah catatan perjalanan.




Makasar yang dulunya bernama Ujung pandang adalah pintu gerbang Indonesia timur. Disini semua pesawat dan kapal laut berlabuh. Mengisi bensin. Rehat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Entah itu ke menado , Maluku ataupun merauke. Disini pula perjalananku menelusuri Sulawesi selatan bermulai.

Perjalanan menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan roda empat menyusuri Sulawesi selatan cukup melelahkan, pemandangan di perjalanan juga cukup membosankan. Antara Makasar sampai Parepare yang ada hanya jalan lurus dengan betonisasi buah karya yusuf kala yang belum selesai. Ide besarnya adalah membuat jalan panjang yang lebar dan mulus dari makasar sampai parepare agar daerah di pedalaman Sulawesi selatan turut serta terbangun. Terjamah dan terjangkau. Sehingga pembangunan di daerah terpencil bisa berlanjut.

Di awal awal pembangun jalan, tahun 2007, masih banyak terlihat pohon dan rumah disisi jalan. Rumah-rumah panggung khas bugis. Memang semenjak lepas dari maros suasana lapangnya jalan mulai terasa. Untung saya sempat merasakan rindangnya jalan di pare-pare sebelum hilang dan menjadi gersang seperti saat ini. Karena pembangunan harus jalan terus. Harus ada yang dikorbankan.

Sepanjang jalan, adalah biasa melihat penduduk bugis, mandi di pinggir jalan. Dengan menggunakan sarung yang diikat sampai ke leher jika ia wanita. Yang diikat dipinggang jika ia laki-laki. Mereka mandi seperti biasa kita mandi. Namun sambilberpakaian ,entah Cuma celana dalam atau ditutupi sarung. Setiap sore dan pagi rutin lah.. mandinya.

Ketika mampir di mesjid untuk shalat dan istirahat, baru menyadari. Tidak ada mesjid yang kecil di sepanjang jalan poros ini. Semua besar dan indah. Apakah ini membuktikan bahwa masyarkat Sulawesi selatan sudah sejahtera. Mungkin juga. Karena saya jarang menjumpai pengemis di perjalanan ini.

Makanan dan minuman adalah yang pertama dicari ketika istirahat. Hampir semua restoran menyajikan masakan laut. Mulai dari ikan bolu atau bandeng sampai ikan tongkol, tenggiri, udang dan lain-lain. Namun andalan hamper semua restoran adalah ikan bolu (dibaca bandeng). Dan yang membedakan orang bugis dengan orang jawa adalah, mereka orang bugis lebih menyukai kepala sedangkan orang jawa lebih menyukai ekor. Pas lah.

Satu lagi.. jangan kaget jika setiap makan disediakan jeruk nipis dan kuah sayur. Karena mereka mencampurkan hamper setiap masakan mereka dengan jeruk nipis. Walau itu air putih saja. Mungkin kebiasaan iini karena mereka harus menghilangkan amisnya ikan laut.

Pangkajene, Parepare, sidrap, soppeng, enrekang, makale, palopo, masamba, malili, sorowako. Semua sama. Jeruk nipis tidak pernah lupa.
Merangkum perjalanan ini. Pembangunan di Sulawesi terlihat maju apalagi ada rencana untuk membangun rel kereta api dari makasar sampai Malili. Dari daerah pantai di sepanjang perjalanan. Sampai daerah pegunungan . Padahal rasa-rasanya apa sih yang dicari di Sulawesi ini. Nikel di sorowako sudah menipis. Palopo masih belum memperlihatkan geliat ekonominya. Walau sidrap sudah maju dengan beras dan ayamnya, rasa-rasanya daerah lain disini masih tertinggal jauh. Walau ada tana toraja sebagai pintu ekonomi untuk pariwisata .

Sentra-sentra ekonomi masih belum bisa jauh dari makasar. Padahal potensi sentra ekonomi dan pembangunan di wilayah lainnya sangat banyak. Cocoa dan rumput laut berlimpah. Buah-buahan seperti langsat, rambutan dan duren banyak ditemui disini.

Namun karena presidennya masih orang jawa sehingga rasa-rasanya pembangunan tetap akan berkutat dipulau jawa. Mungkin aka nada saatnya jalan raya bertingkat-tingkat,karena jawa sudah padat. Dan jalan tol selalu padat pula. Sayang Habibie hanya sebentar jadipresiden,sayang juga Jusuf kala gagaljadi presiden. Suratan takdir memang lain. Rencana Tuhan kita tidak pernah tahu.

Thursday, 17 November 2011

Kamar mandi orang bugis



Bagi orang bugis di sulawesi selatan umumnya mandi adalah kebutuhan sehari-hari. Apalagi cuaca disana panas dan lembab. Jika hari panas dan debu plus keringat lengket terasa dikulit. Sehari mereka rata-rata mandi 2 kali sehari.

Umumnya masyarakat di Sulawesi Selatan ini sudah membuat kamar untuk MANDI CUCI KAKUS di dalam rumah. Namun jika kita sedikit masuk ke pedalaman, atau agak keluar dari kota-kota besarnya maka jangan heran jika menjumpai toilet atau kamar mandi yang terletak di halaman depan rumahnya. Biasanya lengkap dengan sumur timba. Kenapa bisa begitu? Karena umumnya rumah-rumah mereka berbentuk panggung sehingga kamar mandi harus ada diluar rumah. Sehingga menurut mereka perlu biaya besar untuk membuat kamar mandi di dalam rumah mereka.

Bagaimana mandinya? Bayangkan saja mandi dengan mengenakan celana dalam bagi laki-laki. Dan jika anda wanita.. Umumnya wanita bugis mandi menggunakan sarung. Kenapa? Karena mereka mandi di kamar mandi tanpa bilik atau pembatas. Tanpa dinding dan mudah terlihat oleh orang-orang. Yang lebih unik lagi umumnya kamar mandi ini terletak di depan rumah mereka. Di halaman depan. Kebayang bagaimana serunya acara mandi.

Namun jangan aneh-aneh. Biasa saja, karena ini sudah menjadi kebiasaan mereka.
Namun jika anda terpaksa mandi seperti ini dan masih sedikit malu maka sebaiknya mandi mejelang isya. Karena keadaan sudah gelap dan orang yang lalu lalang sudah sedikit.




Apapun itu nikmatilah..

Lain lagi jika anda mau buang air besar. Toiletnya tanpa dinding. Hanya ada jongkokan. Jadi terpaksa harus sarungan jika mau buang itu hajat.

Jadi jangan kaget jika anda sedang jalan-jalan melihat orang lagi jongkok di depan rumahnya.

Saturday, 22 October 2011

foto dari Luwu Timur : negeri di awan

Luwu timur. Sulawesi selatan. Sebuah wilayah yang sangat luas. suatu daerah asal nya suatu suku bangsa bugis. bangsa pelaut. Ketika pagi datang.. Banyak pemandangan indah di sekitar sini. Disini awan awan terlihat seperti dalam jangkauan tangan. Menggatung di udara.
Pemandangan pegunungan di Tomoni di dekat perbatasan poso.
Buah merah banyak dijumpai di hutan-hutan wilayah ini.

Jalan panjang dan lurus. Beraspal dan mulus
dengan awan awan menggantung di udara,
tepat diatas kepala kita. 

Tambahan saat ini banyak dijumpai buah merah di daerah pegunungan perbatasan poso.
Buah merah, salah satu buah endemi asal Papua, ternyata banyak tumbuh di daerah Luwu Timur (Lutim). Buah ini banyak tumbuh di dataran tinggi Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana,tepatnya di daerah perbatasan Lutim dengan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Kendati buah ini tumbuh liar di daerah pegunungan Kasintuwu, beberapa masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari menjual buah yang memiliki banyak khasiat menyembuhkan beragam penyakit, seperti diabetes dan kolesterol, termasuk HIV/AIDS.

Tuesday, 27 September 2011

Mengunjungi Gunung POrno (?) atau gunung Nona Indah



Pagi itu rencana mau ke Tana Toraja. Dari Sidrap pakai motor. Pagi jam 6 brangkat. Wuss..

Jalan berkelokkelok selepas kota Rappang benar-benar membuat harus konsentrasi. Namun setelah jalan panjang dan penuh kelokan hilang, yaitu sekitar 1 jam, kita akan sampai di kota Enrekang. Kota yang terkenal dengan kopinya. Kota enrekang lewat maka masuk ke jalan yang lebih berkelok lagi.

Namun pemandangannya sangat indah. Tebing gunung terlihat memagari jalan. Jurang disebelah kanan terjal dan cukup dalam. Jalannya berasapal namun banyak lubang disana-sini sehingga kita harus hati-hati ketika melewatinya.

Setelah melewati banya jalan berlubang tadi tiba-tiba saya menyadari kunci motornya tidak ada. kumungkinan jatuh di jalan yang berlubang tadi. Gimana ini cara berhentinya. buka dompet. kebetulan punya cadangan kunci motor honda, beda jenis , namun ternyata bisa membuat motor mati.

Melihat kekiri-kekanan mencari kunci.. tetep tidak ketemu. Kemudian mencoba menghidupkan motor pakai kunci cadangan palsu ini. oo lalala. tidak bisa hidup juga. Akhirnya terpaksa mendorong untuk mencari bengkel motor.

Setelah beberapa saat mendorong cukup jauh.. Jalannya menanjak lagi. Cape juga, akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah kedai yang banyak terdapat di pinggir jalan ini. Minum dulu ahh sambil tanya bengkel motor.

Bu.. minum kopi susu. itu yang sachet saja.
Ibu penjaga kedai segera membuatkan yang saya pesan.

Sambil menunggu kopi jadi saya duduk dan menikmati pemandangan di belakang kedai itu. Astaga ini gunung apa kok bentuknya aneh.

Ketika ibu yang jaga kedai datang dan membawa kopi pesanan saya saya coba tanya..
Bu.. ini gunung apa?

Ini gunung nona pak.. nama aslinya Gunung Buttu Kabobong. Gunung ini terkenal karena bentuknya yang unik, yakni menyerupai kelamin wanita. Coba aja lihat lagi, bener tidaknya.

Sambil minum kopi hangat akhirnya saya menikmati gunung nona. Memandang dan membayangkan yang dirumah..

catatan :
Buttu berarti gunung sedangkan Kabobong berarti alat vital wanita. Masyarakat setempat,memberi julukan Buttu Kabobong sebagai gunung porno,  bila dilihat sekilas bentuknya tidak terlalu jelas. Tapi, bila diperhatikan dengan lebih seksama, barulah bentuk yang dimaksud itu akan h jelas. Buttu kabobong merupakan daerah dataran tinggi yang berada di desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja