Showing posts with label indonesianis. Show all posts
Showing posts with label indonesianis. Show all posts

Tuesday, 10 January 2012

Menikmati karya franz Wilhelm Junghuhn



Franz Wilhem Junghuhn yang dianggap sebagai “Humbolt pulau Jawa” mengabdikan dirinya pada alam tanah Jawa yang dianggapnya sebagai rumah kedua dan telah menghasilkan banyak penemuan-penemuan penting, salah satunya ditulis dan digambar dalam bukunya “ Lukisan Alam Jawa” yang memiliki kontribusi cukup besar bagi kenyataan-kenyataan ilmiah mengenai pulau Jawa saat ini.



Lahir pada 26 Oktober 1809 di kota Mansfeld, Jerman, dari seorang ayah yang berwatak keras dan seorang ibu yang lemah lembut, menjadikan Junghuhn seorang yang juga berwatak keras, berkepribadian bebas dan tidak suka terikat, dan bersifat penyendiri. Kecintaannya pada pengetahuan alam, menyebabkan kuliah kedokterannya berjalan kurang baik karena Junghuhn lebih fokus untuk merancang buku tentang mikologi (ilmu jamur-red) dan botani (ilmu tumbuhan-red).

Setelah lulus ujian kedokteran dan berkiprah sebagai seorang dokter militer kelas III pada pasukan kolonial Belanda, mengantarkan Junghuhn tiba di Batavia (sekarang Jakarta-red) pada 13 Oktober 1835. Namun, ketertarikannya pada bidang botani terutama mikologi mendorongnya untuk melakukan ekspedisi di beberapa tempat di Yogyakarta (seperti: pantai selatan, Rongkop Imogiri, Prambanan, Salatiga, Magelang, Borobudur) dan Jawa Barat (seperti: Pelabuhan Ratu, Priangan, Cirebon).
Setelah lulus ujian dokter militer kelas II di Batavia, Junghuhn tinggal di Tanah Priangan (Cianjur, Pangalengan, Lembang, Garut) dan menyusun manuskipnya tentang Tanah Batak yang dapat diterbitkan dalam bahasa Belanda (1844) dan bahasa Jerman (1847).


Artikelnya yang berjudul “Beiträge zur Geschichte der javanischen Vulkane (Sumbangan untuk Sejarah Gunung-Gunung Vulkanik di Jawa-red)”, diterbitkan oleh van Hoevell yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerlands Indie (TNI), namun menjadi pemicu konfrontasi dengan ahli holtikultural Taman Botani Bogor, Johan Elias Teysmann, yang Junghuhn sudah menganggapnya sebagai “Professor of Vegetables (Profesor Sayuran-red).

Penelitian Junghuhn di pulau Jawa, ia fokuskan mengenai geografi gunung berapi dan pengamatannya tentang pengrusakan pulau Jawa oleh kolonial Belanda. Awalnya, ia ingin menerapkan ilmu mikologinya yang dipelajarinya di Sidney, tetapi tidak terlaksana karena Junghuhn terlalu terpesona pada kekayaan tumbuhan segala jenis yang hidup di tanah Jawa.



Junghuhn sempat mendaki 43 gunung berapi di pulau Jawa dan menjadi pendaki Eropa pertama. Pengamatan Junghuhn adalah penting karena menawarkan hipotesis baru bahwa gunung berapi terbentuk dengan sendirinya dalam waktu yang lama dengan penumpukan batuan dan lava. Adanya gunung berapi dengan lingkaran kawah yang besar, terbentuk karena adanya kekuatan dari dalam gunung berapi yang sangat besar. Hal ini terjadi di Sumatera, dimana Danau Toba merupakan hasil dari letusan gunung berapi.



Penelitiannya di Jawa Tengah yang dihabiskannya selama setahun penuh, menerbitkan buku pertamanya yaitu “Topographische und naturwissenschaftliche Reisen (Perjalanan Topografi dan Ilmu Alam-red)”.



Dokumentasi dari karya-karya Junghuhn dapat diperoleh di Foto Buku di Belanda. Yang masih tidak berubah adalah belum adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia sehingga hanya diketahui oleh orang Eropa saja sehingga masih bisa dikatakan sebagai proyek kolonial. Pada saat ini, sudah tidak ada lagi proyek kolonial dan diharapkan kedepannya semua orang terutama masyarakat Indonesia dapat mengetahui informasi ini.

Monday, 9 January 2012

Menikmati karya Walter Spies


Spies mengembangkan kesenian Bali. Bersama Beryl de Zoete, Spies menulis Dance & Drama in Bali, salah satu catatan paling awal tentang tari dan drama di luar budaya Barat. Dia juga terlibat dalam pembuatan film The Island of Demons bersama Baron Viktor van Plessen. Spies mendanai pembuatan film itu dari uang warisan pemberian Friederich Murnau yang meninggal pada 1931. Film itu punya pengaruh besar pada persepsi dunia tentang Bali.


Pada 1923, Spies bertolak meninggalkan Eropa dan berlabuh di Hindia Belanda, tempat yang dulu kerap dia kunjungi bersama Murnau. Selama sekira dua tahun dia menetap di Pulau Jawa, dia menjadi teman baik Sultan Djojodipuro, putra mahkota Kesultanan Yogya, dan bahkan tinggal di keraton. Dia memimpin orkes Keraton Yogya dan sesekali menjadi pemain piano pengiring di acara pagelaran musik. Dia juga mempelajari gamelan dan menciptakan notasi khusus yang memungkinkan musik gamelan dimainkan pada piano, dan sebaliknya. Pada 1925 Spies mengunjungi Bali dan kemudian jatuh cinta pada alam dan orang-orang di sana. Dia pun menetap di Bali.

Di sinilah ia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga menjelang kematiannya. Di bawah perlindungan raja Ubud masa itu, Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan apa yang dikenal sebagai gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.

Sering kali dikatakan bahwa ia adalah orang yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Ia memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang ternama di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu. Di bulan Desember 1938 Spies sempat dipenjara karena dituduh homoseksual. Ia baru dibebaskan karena bantuan beberapa temannya, di antaranya Margaret Mead, pada September 1939.

Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib buruk. Sebagai orang Jerman, ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Ia meninggal 19 Januari 1942 karena tenggelam bersama-sama dengan kapal 'Van Imhoff' yang ditumpanginya






Kapal yang seharusnya berlayar ke Srilanka itu, yang mengangkut orang-orang Jerman yang diusir dari Hindia Belanda akibat serangan Jerman ke Belanda dibom armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di perairan barat Sumatera Utara..

Walter spies pun tewas.. meninggalkan karya-karyanya yang indah.