Showing posts with label oleh oleh. Show all posts
Showing posts with label oleh oleh. Show all posts
Monday, 26 September 2011
Balo : minuman memabukan dari sidrap
Ballo merupakan minuman keras khas daerah Sulawesi selatan hasil fermentasi dari bermacam buah. Didaerah lain dikenal sebagai tuak. Bahan-bahan dasarnya biasanya dari buah lontar yang diambil dari pohon lontar yang banyak tubuh di tanah sulawesi. Cara pembuatannya mudah. Air buah lontar difermentasi dan dipendam didalam tanah. Setelah terbentuk alkohol maka sudah bisa diminum. Mudah cara pembuatannya namun cepat efeknya bagi tubuh. Jika minum segelas saja cukup membuat pusing dan mabuk kepala. Biasanya disajikan dingin. Namun banyak yang hangatnya.
Harganya murah , cuma Rp 2000 perbotol aqua ukuran sedang. dan Rp 5000 perbotol ukuran Besar, 1 Liter. Ballo ballo ini banyak dijajakan di sepanjang jalan poros Sidrap soppeng. Jika dilihat kita akan berfikir ini air kelapa muda yang segar dan membuat badan sehat. Namun penampilan memang bisa menipu. Saya pertama membayangkan akan segar setelah minum ini. Ehh..malah pusing. mabok.
Sebenarnya ballo tersebar di begitu banyak daerah di Indonesia sehingga sering disebut dengan nama-nama lain, tetapi biasa dikenal sebagai tuak. Disini mengacu pada minuman hasil fermentasi dari buah yang manis.
Sama seperti temannya dari Manado ballo juga sangat memabukkan dengan kadar alkohol yang lebih ringan.
Sebelum minum ballo ini perlu diingat sebagai berikut.
1 gelas tuak penambah darah.
2 gelas, lancar bicara.
3 gelas, mulai tertawa-tawa.
4 gelas, mencari gara-gara.
5 gelas, hati membara.
6 gelas, membuat perkara.
7 gelas, semakin menggila.
8 gelas, membuat sengsara.
9 gelas, masuk penjara dan
10 gelas, masuk neraka.
Jadi minum seperlunya ya.. Atau jauhi sama sekali.
Monday, 15 August 2011
Oleh oleh Banjarmasin: Mandau
| Mandau Apang Birang Bitang Ayun Kayau yang artinya kurang lebih adalah “senjata lelaki yang dipunyai kaum pemenggal kepala” |
Mandau adalah senjata tradisional Suku Dayak di Kalimantan, Indonesia. mandau masa kini terbuat dari besi-besi (atau baja) yang kurang ampuh dan aura kedigdayaannya pun dianggap tidak terlalu istimewa. ‘Mandau-mandau’ tersebut hampir setara dengan pisau ambang (parang laki) dan dijual dengan bebas di toko-toko cinderamata di pinggir-pinggir jalan
Padahal dalam kehidupan Orang Dayak, mandau bukan saja sebagai sebuah senjata dari besi semata, namun ia diyakini memiliki aura sebagai pendamping yang disebut panekang hambaruan (pemberi motivasi dan semangat; spirit). Mandau merupakan senjata utama dari sekitar puluhan jenis senjata tradisional Suku Dayak yang mematikan. Menurut Tjilik Riwut (Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan,1993:309), nama asli mandau dalam Bahasa Sangen (Dayak Kuno) adalah Mandau Apang Birang Bitang Ayun Kayau yang artinya kurang lebih secara etimologis adalah “senjata yang dipakai kaum lelaki yang dipunyai oleh kaum kayau/para pemenggal kepala”(-pen) di zaman dulu.
Sebuah mandau tidak digunakan secara sembarangan mengingat fungsionalitasnya dalam setiap upacara adat merupakan salah satu prasyarat. Ia tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti alat untuk memotong kayu, menebas semak dan
Konon, apabila sebilah mandau telah ditarik dari kumpang/sarung-nya, ia akan menuntut darah, dan itu mutlak dipenuhi. Dalam proses pembuatannya, mata mandau diambil dari batu besi dari gunung yang berusia puluhan abad yang dikenal dengan sanaman mantikei. Konon menurut cerita turun-temurun, ada dua tempat di Kalimantan Tengah di mana besi tersebut dapat ditemukan, yang pertama di Wilayah Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan; dan kedua, di daerah Montallat, Kabupaten Barito Utara. Besi dari kedua tempat tersebut dikenal pula sebagai besi yang beracun sehingga apabila melukai kulit akan berujung kepada kematian. Melalui proses panjang, sebuah mandau ditempa dan dilengkapi dengan gagang yang terbuat dari tanduk rusa dan diberi ornamen bulu burung atau rambut manusia serta aneka ukiran yang mengandung unsur pelemahan semangat atau penunduk musuh yang dalam Bahasa Dayak Ngaju disebut parunduk.
Begitu pula pada bagian sarungnya, selain dilengkapi tali pengikat dari anyaman rotan pilihan, biasanya diikatkan juga dengan aneka benda fetis yang disebut penyang sangkalemo.
Perlengkapan lain yang kecil namun tak kalah penting adalah langgei kuai atau sejenis pisau kecil yang bertangkai sepanjang kurang lebih 20—30cm mengikuti panjang mata mandau. Langgei ini memegang fungsi sebagai senjata cadangan dalam keadaan darurat. Ia memerankan fungsi lebih ‘akrab’, di mana secara fungsionalitas boleh digunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan hal-hal biasa (bukan dalam konteks sakral).
Pada masa lalu, peran sebuah mandau menjadi sangat vital. Mandau merupakan simbol dari sebuah kekuasaan. Kekuasaan tersebut terkait erat dengan mitologi Dayak bahwa semakin banyak kepala musuh yang dipenggal, maka akan semakin tinggi status sosial seseorang yang disebut sebangai mamut menteng. Seseorang yang mamut menteng dapat secara aklamasi menjadi seorang pemimpin.
Hal ini bukan tanpa dasar mengingat kegigihannya dalam membela komunitas sukunya agar selamat dari berbagai serangan yang memunahkan. Namanya juga masih zaman primitif, kegiatan hasang-maasang (saling teror) dan kayau-mangayau(saling bunuh dengan penggal kepala) adalah sebuah pertarungan mempertahankan entitas dan eksistensi. Kesemuanya tidak dilakukan tanpa dasar, melainkan karena persoalan politik kekuasaan dan pertahanan eksistensi dan jatidiri yang terancam. Seseorang yang sudah cukup ilmu barulah turun ke kancah pertarungan ini dan persoalannya pun bukan persoalan yang ringan, sehingga jalan damai mungkin sudah tidak mendapat kata sepakat lagi.
Ada banyak aturan dalam hal peperangan,diantaranya tidak melibatkan anak-anak menjadi korban begitu juga dengan para ibu. Kesemuanya dilakukan secara jantan; satu lawan satu, atau perang terbuka secara massal. Dalam kamus peperangan Suku Dayak kuno, tidak ditemui istilah keroyokan atau membunuh dalam keadaan terjepit. Apabila korban sudah menyerah, maka ia akan ditawan sebagai budak/jipen yang akan mengabdi pada pihak yang menang selama hayatnya, kecuali ditebus atau dibeli/ditukar dengan barang berharga berupa guci yang disebut balanga atau benda berharga lainnya. Berkaitan dengan fungsi utama sebagai senjata perang di masa lalu, mandau warisan leluhur diyakini suku Dayak sebagai penjelmaan diri sang empunya. Artinya, ia dapat menjelma secara fisik di tengah-tengah peperangan atau sebaliknya, tidak kasat mata (nonvisual) sehingga dikenal dengan “mandau terbang”. Ia bisa dikontrol oleh yang empunya untuk melakukan serangan balasan, jadi hanya bersifat reaktif atas sesuatu yang terjadi. Ia tidak bersifat aktif dan agresif.
Bagi masyarakat suku Dayak, mandau menyisakan sejuta misteri yang tak terpecahkan hingga kini. Konon di masa lalu sebuah mandau seolah memiliki aura,seolah sesuatu yang dapat dipelihara, disuruh atau tunduk atas kekuasaan pemiliknya. Ia seolah dapat menjadi ‘kawan’ yang sangat patuh dan sangat jarang mencelakai ‘tuannya’. Hal ini mungkin secara asumtif berkait erat dengan patei-ongoh atau kiprahnya di masa lalu, sehingga semuanya diyakini sebagai “budak yang harus tunduk atas perintah tuannya” atau “kawan setia yang tahu membalas budi”. Mandau juga dapat menjadi sarana pengobatan, misalnya air cucian asahannya dapat mengobati semacam alergi gatal-gatal yang disebut “kalalah” atau “kicas-kihal” (sejenis tulah/kutukan). Dalam konteks kekinian, mandau telah menjadi sebuah pusaka tradisional yang cukup langka. Kelangkaan tersebut sangat disayangkan dikarenakan oleh ketiadaan pandai besi yang menurunkan ilmunya kepada generasi setelahnya.
Para pemilik mandau warisan leluhur juga dianggap kian berkurang. Sebagian sudah tidak dirawat lagi dan sebagian lain telah berpindah kepemilikannya kepada orang asing dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah alasan ekonomi. Biasanya yang memiliki dan merawat benda-benda tradisional adalah para tetuha adat atau para basir berkaitan dengan kepemimpinannya pada setiap upacara-upacara adat. Di samping itu, komponen material sebagai bahan utamanya juga sangat sulit ditemukan. Alhasil, kalaupun dibuat itu sudah pasti tiruan dan replika saja.
Tuesday, 30 November 2010
Daftar souvenir di Martapura
Jika kita ke Martapura rasanya tidak puas jika tida beli suvenir khas kalimantan. Ini adalah daftar belanja kalo mampir kesini.
BATU : Akik, patung, gelang, cincin
PERMATA : intan, topaz, zamrud
TASBIH : batu kecubung, pasir emas
OBAT KUAT: tongkat ali, tangkur buaya
BROS
SARUNG : samarinda, tenun biasa
KAOS
BATIK kalimantan: sarirang
KERAJINAN ROTAN: tas, topi, kopiah
TAS Kalimantan
Mandao : pedang, perisai, tombak
untuk harga, semua tergantung budget kita, banyak yg murah kok.
BATU : Akik, patung, gelang, cincin
PERMATA : intan, topaz, zamrud
TASBIH : batu kecubung, pasir emas
OBAT KUAT: tongkat ali, tangkur buaya
BROS
SARUNG : samarinda, tenun biasa
KAOS
BATIK kalimantan: sarirang
KERAJINAN ROTAN: tas, topi, kopiah
TAS Kalimantan
Mandao : pedang, perisai, tombak
untuk harga, semua tergantung budget kita, banyak yg murah kok.
Tuesday, 21 September 2010
oleh oleh dari madiun: grafiti
grafiti di depan jalan diponegoro ini menggambarkan masih takutnya masyarakat dengan kompor gas dan tabung 3 kgnya..
Thursday, 24 June 2010
Arena Bermain anak : oleholeh dari Luwu Timur
Pengalaman jalan-jalan di kabupaten Luwu Timur , sulawesi Selatan cukup berbekas. Kabupaten yang memiliki danau-danau indah seperti danau Matano dan danau Towutinya yang cukup terkenal luas. Juga dengan kota Sorowakonya yang sejuk dimana PT. INCO berpusat.
Di kabupaten yang terletak di ujung teluk Bone ini biasa dengan mudah dijumpai tempat arena bermain anak yang cukup menarik dan gratis di beberapa tempat. Ayunan, perosotan, halang rintang juga permainan anak umur sekitar lima tahun lainnya. Arena yang menempati tanah seluas kira-kira 5 x 6 meter ini sangat terawat, aman dan bersih. Semua terbuat dari bahan fiberglass dengan warna yang mencolok dan menarik.
Walau tidak terdapat di semua kota kecamatan, namun itu cukup berarti . Namun dengan penduduk sekitar 200.000an jiwa rasanya wilayah yang luas ini (luas wilayah 6.944,98 km2). terasa sepi apalagi jumlah anak dibawah umur 5 tahun yang tidaklah banyak maka arena bermain ini selalu terlihat sepi.
Beda dengan Jakarta, disini kita bisa dengan mudah menjumpai anak kecil disetiap tempat. Saat ini di Jakarta bukannya tidak ada tempat bermain seperti ini, di beberapa tempat di lingkungan perumahan juga bias temui,juga di taman lembang contohnya. Namun semuanya dibuat seadanya. Alakadarnya. Namun melihat besi-besinya yang terlihat tua dan karatan dan perososotan dari semen yang dibuat seadanya, rasanya justru membahayakan anak yang bermain.
Jika kita ke mal mal sekarang ini.saat liburan sekolah tiba. Akan banyak dijumpai permainan-permainan seperti ini. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Ada yang Rp15000 untuk 15 menit ada juga yang Rp 25.000 untuk 45 menit. Dan itupun antri untuk mendapatkannya.
Di ulang tahunnya kali ini, sebaiknya Jakarta berbenah diri lagi. Dandan lagi dengan menghidupkan taman-taman yang ada dengan permainan anak-anak seperti ini. Selain memperindah juga membuat nyaman warga yang punya anak-anak kecil. Seandainya di lapangan monas atau taman-taman lainnya di jakarta ada mungkin akan semakin menarikdan membuat jakarta semakin nyaman. Hal ini bagus sebagai tempat bermain anak-anak dan keluarga. Apalagi di jakarta saat ini susah sekali untuk menjumpai tempat seperti ini kecuali di sekolah-sekolah taman kanak kanak atau juga di tempat pendidikan anak usia dini PAUD.
Sudah saatnya Jakarta mengurus dirinya, keluarganya, anak-anaknya . Jangan bisnis terus
Subscribe to:
Posts (Atom)