Selasa, 08 Mei 2012

Journey to celebes:luwu timur : mencari gudang..


MENCARI GUDANG

Kami tidur di rumah makan kenalan bernama stevi. Sebuah warung kopi harum manis di jl.incoiro no.46. Rumah makan ini menyediakan makanan dan minuman biasa seperti rumah makan umunya. Namun jangan berharap banyak. Tidak  mirip rumah makan padang atau rumah makan yang kita bayangkan. Hanya  semacam cafĂ©. Tidak lebih. Namun yang menghidupi rumah makan ini adalah adanya catering untuk para karyawan Inco. Namun jika kita ingin merasakan rumah makan khas Luwu yang menyediakan berbagai makan tradisional disini Stevi ini mempunya sebuah restoran yang terletak di pinggir gunung. Tersembunyi diantara hutan pohon sagu. Rumah makan limboto.. lupa saya.. nanti saya cek lagi.
Dari Stevi ini kami berencana menyewa sebanyak 8 buah motor untuk opearsional di luwu timur ini. Setelah jelas perlu dan niat kami juga sekalian memberinya down paintmen untuk motor yang akan disewa, kami segera tidur. Gaya bacpaker lagi.. di bangku restorannya yang dingin karena ac dan cuaca diluar juga sedang hujan deras.

Disudut kafe ada tulisan.."Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, tetapi mereka yang tetap bangkit ketika jatuh". Hmm..
Sinyal hp bagus .. maka bisa internetan dan bikin status..

Pagi-pagi setelah diberi hidangan kopi susu hangat kami sarapan. Gratis.. Pukul 08.00 Para karyawannya sudah berdatangan. 2 orang wanita dan 1 pria. Yang pria langsung kedapur memasak dan menyiapkan  catering untuk dibawa ke Inco. Tidak semua makanan dimasak disini, namun ada juga yang dimasak di restoran pribadinya yang terlteak di  belakang gunung sebelum Sorowako. Jam 10.00 semua bungkusan catering siap dan semua masakan yang sudah matang  segera dimasukan ke dalam mobil kecil. Avansa.  Setevi pamit… kami juga pamit. Setelah sebelumnya sepakat untuk bertemu lagi 3 hari kedepan.
Tujuan sekarang adalah mencari basecamp di kota Malili dan sekitarnya.  Kami langsung cabut menuruni pegunungan verbeek. Jalan yang licin akibat hujan deras semalam membuat kami extra hati-hati. Hendra di belakang dengan santainya mengendarai satria barunya.
Jalan yang berliku-liku, serta hutan yang sepi membuat kami akhirnya tancap gas. Debu bercampur air menerpa muka kami yang sudah 2 hari ini tidak mandi.
Tabarano lewat.. Pembangkit listrik Karebbe lewat.. akhirnya Malili. Disini kami pelan karena mulai mencari –cari rumah atau ruko yang pantas untuk dijadikan gudang. Cerekang  lewat dan akhirnya Manurung.. Disini kami mulai Tanya-tanya “adakah rumah yang bisa disewa untuk dijadiakan gudang”.
Dan atas petunjuk yang punya ruko di Manurung kami berangkat ke pertigaan Lakawali. Disini ada rumah Toko yang luas namun sedang kosong. Kami pun bertemu dan mengajukan keinginan kami untuk menyewa tempat itu. Setelah tawar menawar.. akhir deal. Kami putuskan basecampnya disini.
Sebuah rumah took dengan luas 10mX20m.  Tinggi sedang.  Dasarnya dari kramik dan  ubin. Cocok sekali untuk dijadaikan gudang. Pemiliknya pensiunan polisi.

Ada kata-kata yang akan menjadi masalah pada kami saat deal-dealan ini.
“Kami akan sewa tempat Bapak selama 2 bulan. Nanti jika kami  merasa masih memerlukan tempat ini maka akan diperpanjang lagi selama 1 bulan lagi. Jika lewat satu hari misalnya dari tanggal yang disepakati, maka kami akan memperpanjang lagi selama 1 bulan.. Bagai mana pak? Tanya Dadang kepada pemilik rumah itu.

“ Maksud bapak Dadang jika lewat dari hari yang sudah disepakati maka akan dibayar dengan harga 1 bulan?” Tanya bapak itu.. Aneh saja dia. Kok ada orang yang mau bernego seperti itu.

“iya Pak.. jika misalkan hari ini sudah habis masa kontraknya, terus ternyata kami masih perlu maka kami akan memperpanjang lagi selama 1 bulan.” Tegas Dadang.

Saya juga meng iyakan . Karena dalam fikiran saya setelah kontrak habis dan jika diputuskan akan memperpanjang lagi pasti hitungan kontrak selama satu bulan. Nggak mungkin sehari.
“Oke.. setuju” Kata bapak itu.

Alhamdulillah akhirnya kami malam itu bermalam dibasecamp.  Motor dimasukan ke gudang dan kamipun mandi. Setelah makan di baso diseberang jalan kamipun beristirahat.  Tidur beralaskan tikar pandan, diberi bantal di lantai keramik yang dingin.  Nyamuk tidak sebanyak sidrap, cukup autan sebagai pengusir nyamuk dan Kami bertiga tidur dengan nyenyaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar