Jumat, 23 September 2011

Kemarau di Sidrap



Kemarau tahun ini memang panjang. Hari hari panas semakin terasa panjang jika kita ada diluar ruangan. Dan jika kita pernah berkunjung ke kota Sidrap di Sulawesi Selatan, dan merasakan panasnya kota ini ketika musim kemarau. Wuihhh.. benar-benar hot. Bukit-bukit dan gunung-gunung kering berdebu. Sungai-sungai tak berair, kering kerontang. Hutan-hutan berwarna coklat karena pohon meranggas. Sawah-sawah kering dan terancam puso. Danau Sidenrengnya kehabisan air sehingga kita bisa maju sampai ketengah danau. Belum lagi Danau Tempe yang semakin kecil karena airnya yang semakin habis menguap.

Panasnya alam ini diperparah jika muncul kupu kupu putih kecil yang menyerang di malam hari. Mereka datang dari sawah-sawah yang kering. Umurnya pendek hanya sehari, namun dari tubuhnya yang mati dan hancur ini akan menyebabkan gatal yang luar biasa jika menempel di kulit. Gatal Yang tidak bisa hilang oleh air atau obat . Kalau kupu-kupu ini mulai menyerang.. tidak ada tempat sembunyi. Salah satu nya jalan cuman matikan lampu. karena cahaya lampu akan mengundang mereka.

Walaupun begitu penduduknya tetap bersyukur. Walau sawah, sungai dan danau mengering. Dan juga belum lama ini penduduknya ditimpa musibah flu burung, ketika ayam ayam piaraan mereka banyak yang mati mendadak, sehingga peternak banyak merugi namun Sidrap adalah daerah yang sangat diberkahi oleh Allah.

Daerah ini adalah pusatnya peternakan ayam di sulawesi selatan. Pusatnya padi nasional dan pusatnya daging sapi di indonesia. Jika Kita mampir ke daerah pedalamannya tepatnya ke daerah Kecamatan Maritengngae dan Watang Pulu. Kita dapat melihat sapi-sapi yang kurus melahap rumput kecil di sepanjang sawah yang kosong dan retak. Jumlahnya ratusan. Hampir menutupi gunung itu. Sapi sapi disini selain dikembang biakan, digemukkan dan dijual, juga untuk menghasilkan pupuk organik. Iklim dan cuaca yang kering dan lembab sudah biasa. Jadi kemarau adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun. Hanya tinggal kita pintar dan siap menghadapinya.

Daerah lain rasanya perlu belajar dari kota ini dalam menghadapi kemarau yang panjang. Mungkin akibat pemanasan global ini kemarau akan terasa semakin panjang dan air menjadi susah didapat. Namun tugas kita adalah tetap hidup.

Mudah-mudahan ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) benar, bahwa awal musim hujan jatuh pada awal Oktober khususnya di Pulau Sulawesi ini.

Jangan menyerah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar