Senin, 26 September 2011

Konversi minyak tanah ke gas usai sudah..



Konversi minyak tanah ke gas sebagai program pemerintah kali ini mungkin sudah dianggap selesai.. Tak ada lagi tender baru, tidak terdengar lagi wilayah mana berikutnya yang akan di jalankan program ini. Pemerintah sudah tidak fokus lagi dengan hal ini. Sudah terlalu sibuk dengan Nazzarudin dan urusan intern partai masing-masing. Belum lagi bom baru meledak kemarin.

Banyak program pemerintah sekarang jalan sendiri. Syukur-syukur sukses , mudah-mudahan lancar. Tenggat waktu dan titik mulai juga hari date line sudah dilupakan. Istilahnya kemarau biarlah berlalu.

Contohnya adalah program konversi minyak tanah ke gas di Banjarmasin yang telah selesai dilaksanakan 3 bulan lalu. Masyarakat yang awalnya menolak sudah memakainya. Ada yang unik dari kota ini. Dimana awalnya susah sekali untuk mendapatkan izin menjalankan konversi ini. Banyak masalah dan sebabnya. Diantaranya masyarakat yang cenderung menolak karena seringnya kebakaran yang didaerah mereka. Pendataannya yang kacau balau dan lama sekali, yaitu perlu 7 bulan untuk mendapatkan nama-nama yang harus mendapatkan kompor gas dan tabung gratis ini, sehingga semakin menghambat jalannya program ini. Padahal untuk wilayah lain rata-rata hanya perlu waktu 60 hari. Itu ditambah ketakutan yang besar dari penduduk Banjarmasin dan instansi terkait dengan kemungkinan ledakan atau terjadinya kebakaran yang diakibatkan program ini. Sehingga banyak usaha dan banyak rapat koordinasi dijalankan, sehingga akhirnya program ini bisa berjalan.

Sekarang hasil konversi minyak tanah ke gas sudah dinikmat imasyarakat Banjarmasin. Kebakaran tetap banyak, namun alhamdulillah belum ada yang berasal dari tabung gas. Dan honor konsultan apakah sudah dibayar oleh Pertamina. Ternyata belum. Ternyata bekerja dengan pemerintah sekarang susah. Banyak instansi saling terkait. Perusahaan yang satu tergantung hasil perusahaan yang lain. Salah satu jeblok hasilnya maka hancur semuanya. Sandera menyandera pekerjaan menjadi hal yang jamak. Dan akibatnya karyawan tidak jelas kapan menerima gajinya.

Kabar baru didengar tadi pagi.. Kerjaan mu di Banjarmasin belum tentu dibayar. Karena ada masalah di pekerjaan. Lemess jadinya. Jauh-jauh kerja ke kalimantan dan berbulan-bulan sengsara di negeri orang akhirnya pulang dengan tangan kosong.

Bluk nyuuh blak nangkarak .. namun hasilna nol besar,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar