Senin, 19 Desember 2011

dari JAKARTA BIENNALE#14.2011



Jakarta Biennale XIV 2011 mengangkat tema besar "Maximum City: Survive or Escape?" Dengan tema ini, kami ingin mengajak para seniman untuk merespons fenomena Kota Jakarta yang sudah sesak. Sebab di saat yang bersamaan masyarakat Jakarta juga menempuh jalannya sendiri dalam mencoba bertahan atau malah kabur dari semua kesesakan ini. Apakah nantinya terjadi paralelisme antara tanggapan seniman dengan sikap masyarakat Jakarta terhadap kotanya, itulah yang akan teruji dalam biennale ini.


Di jakarta ini jadi orang harus tahan banting. Jika tidak kuat lebih baik menyingkir. Karena kota inilebih kejam dari ibu tiri. Makan minum dan tidur semua berlangsung cepat. Pagi macet sore macet. Malam terang siang hiruk pikuk. Warga kaya di gedung mewah hidup bersebelahan dengan kaum miskin di tenda-tenda kumuh pinggir sungai. Budaya modern-rasional berdiri sejajar dengan yang tradisional-mistis. Begitu pula antara semangat komunal dan individual, paham sektarian-fundamentalis dan multikultursalis-liberalis

Kota yang sangar dan sumpek. Penduduknya mencapai 9 juta orang, tetapi bisa membengkak menjadi sekitar 12 juta orang jika memperhitungkan para pekerja dari pinggiran yang memenuhi Jakarta siang hari.

Jadi mana mau dipilih : bertahan di sini atau pulang kampung? Survive or Escape?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar