Senin, 26 Desember 2011

Melihat Indonesia dari Makasar sampai Malili

Sebuah catatan perjalanan.




Makasar yang dulunya bernama Ujung pandang adalah pintu gerbang Indonesia timur. Disini semua pesawat dan kapal laut berlabuh. Mengisi bensin. Rehat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Entah itu ke menado , Maluku ataupun merauke. Disini pula perjalananku menelusuri Sulawesi selatan bermulai.

Perjalanan menggunakan sepeda motor ataupun kendaraan roda empat menyusuri Sulawesi selatan cukup melelahkan, pemandangan di perjalanan juga cukup membosankan. Antara Makasar sampai Parepare yang ada hanya jalan lurus dengan betonisasi buah karya yusuf kala yang belum selesai. Ide besarnya adalah membuat jalan panjang yang lebar dan mulus dari makasar sampai parepare agar daerah di pedalaman Sulawesi selatan turut serta terbangun. Terjamah dan terjangkau. Sehingga pembangunan di daerah terpencil bisa berlanjut.

Di awal awal pembangun jalan, tahun 2007, masih banyak terlihat pohon dan rumah disisi jalan. Rumah-rumah panggung khas bugis. Memang semenjak lepas dari maros suasana lapangnya jalan mulai terasa. Untung saya sempat merasakan rindangnya jalan di pare-pare sebelum hilang dan menjadi gersang seperti saat ini. Karena pembangunan harus jalan terus. Harus ada yang dikorbankan.

Sepanjang jalan, adalah biasa melihat penduduk bugis, mandi di pinggir jalan. Dengan menggunakan sarung yang diikat sampai ke leher jika ia wanita. Yang diikat dipinggang jika ia laki-laki. Mereka mandi seperti biasa kita mandi. Namun sambilberpakaian ,entah Cuma celana dalam atau ditutupi sarung. Setiap sore dan pagi rutin lah.. mandinya.

Ketika mampir di mesjid untuk shalat dan istirahat, baru menyadari. Tidak ada mesjid yang kecil di sepanjang jalan poros ini. Semua besar dan indah. Apakah ini membuktikan bahwa masyarkat Sulawesi selatan sudah sejahtera. Mungkin juga. Karena saya jarang menjumpai pengemis di perjalanan ini.

Makanan dan minuman adalah yang pertama dicari ketika istirahat. Hampir semua restoran menyajikan masakan laut. Mulai dari ikan bolu atau bandeng sampai ikan tongkol, tenggiri, udang dan lain-lain. Namun andalan hamper semua restoran adalah ikan bolu (dibaca bandeng). Dan yang membedakan orang bugis dengan orang jawa adalah, mereka orang bugis lebih menyukai kepala sedangkan orang jawa lebih menyukai ekor. Pas lah.

Satu lagi.. jangan kaget jika setiap makan disediakan jeruk nipis dan kuah sayur. Karena mereka mencampurkan hamper setiap masakan mereka dengan jeruk nipis. Walau itu air putih saja. Mungkin kebiasaan iini karena mereka harus menghilangkan amisnya ikan laut.

Pangkajene, Parepare, sidrap, soppeng, enrekang, makale, palopo, masamba, malili, sorowako. Semua sama. Jeruk nipis tidak pernah lupa.
Merangkum perjalanan ini. Pembangunan di Sulawesi terlihat maju apalagi ada rencana untuk membangun rel kereta api dari makasar sampai Malili. Dari daerah pantai di sepanjang perjalanan. Sampai daerah pegunungan . Padahal rasa-rasanya apa sih yang dicari di Sulawesi ini. Nikel di sorowako sudah menipis. Palopo masih belum memperlihatkan geliat ekonominya. Walau sidrap sudah maju dengan beras dan ayamnya, rasa-rasanya daerah lain disini masih tertinggal jauh. Walau ada tana toraja sebagai pintu ekonomi untuk pariwisata .

Sentra-sentra ekonomi masih belum bisa jauh dari makasar. Padahal potensi sentra ekonomi dan pembangunan di wilayah lainnya sangat banyak. Cocoa dan rumput laut berlimpah. Buah-buahan seperti langsat, rambutan dan duren banyak ditemui disini.

Namun karena presidennya masih orang jawa sehingga rasa-rasanya pembangunan tetap akan berkutat dipulau jawa. Mungkin aka nada saatnya jalan raya bertingkat-tingkat,karena jawa sudah padat. Dan jalan tol selalu padat pula. Sayang Habibie hanya sebentar jadipresiden,sayang juga Jusuf kala gagaljadi presiden. Suratan takdir memang lain. Rencana Tuhan kita tidak pernah tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar