Jumat, 16 Desember 2011

Bikin Buku : Rahasia Menjadi Self Publisher

by : Abdi Husairi Nasution

Menerbitkan buku sendiri merupakan cita-cita setiap penulis maupun orang-orang yang suka nulis. Pengalaman pertama JK Rowling bisa dijadikan contoh betapa susahnya dia menerbitkan buku seri pertama Harry Potter-nya waktu itu. Setiap penerbit yang didatangi selalu beranggapan kalau cerita Harry Potter itu tak biasa, aneh, dan bakal tak diterima pasar karena tak mengikuti trend di masa itu. Dan mereka pun menolaknya. Hingga akhirnya ada satu penerbit yang berani menanggung risiko dan optimis kalau Harry Potter bakal disukai anak-anak dan banyak orang. Optimisme itu terbukti benar, Harry Potter pun menjadi buku Best Seller sepanjang massa, dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Andai JK Rowling punya modal sedikit, pasti dia akan menerbitkan sendiri Harry Potter-nya itu. Namun Rowling tak punya uang untuk itu. Apalagi kemudahan seperti yang diperoleh Vira Classic di atas belum ada. Waktu itu belum ada situs Nulisbuku.com untuk mengupload dan menjual naskah yang mau diterbitin secara indie, dan belum ada juga pixlr.com untuk membuat cover buku sendiri. Beruntung kita punya situs itu di masa sekarang. Paling tidak bisa membantu penulis-penulis yang ingin punya buku sendiri.

Namun, apakah cukup sampai di situ, tentu tidak. Selain butuh ongkos cetak, design lay-out, penentuan ukuran buku, dan sebagainya, kita juga butuh pendistribusian buku-buku itu pada pembaca (atau calon pembeli). Untuk masalah pendistribusian ini pun sebenarnya tak perlu dipikirkan dan tak ada masalah. Cara yang dilakukan Vira Classic merupakan salah satu alternatif, namun cara ini akan memakan waktu lama karena harus menunggu pesanan dari calon pembeli. Cara lain adalah bekerja sama dengan penerbit besar yang punya jalur distribusi cukup luas, dan mereka siap membantu, tinggal urusan fee yang perlu disepakati (kalau dilakukan sendiri bisa butuh biaya besar tentunya).

Cara-cara penerbitan buku secara indie tersebut sudah dilakukan di negara-negara maju di Eropa maupun Amerika jauh sebelumnya. Bahkan saat punya kesempatan mengunjungi Frankfurt Book Fair delapan tahun lalu, saya sempat nanya-nanya ke salah satu stand penerbit Rusia. Penerbitan mereka cuma punya 5 personil, yang cuma mengurusi royalti penulis, keuangan, design, editor, dan pendistribusian/penjualan. Untuk urusan design buku sudah mereka serahkan pada perusahaan out sourcing, demikian pula dengan editorial. Untuk urusan penyimpanan dan pendistribusian, mereka kerja sama dengan jaringan usaha penyedia kegiatan tersebut. Hebatnya, mereka sudah punya puluhan ribu judul buku yang terjual di berbagai negara.

Teman-teman saya juga sudah melakukan hal yang sama (menyusul saya tentunya). Teman-teman saya itu menerbitkan buku mereka sendiri dengan prosedur dan tahapan berikut (ini sudah menjadi prosedur standar seperti yang dilakukan Vira Classic dan Andi Gunawan).
1.Menentukan naskah yang akan diterbitkan
2.Menentukan lay-out naskah dan ukuran buku yang akan diterbitkan
3.Membuat ISBN - International Standard Book Number
4.Mencetak naskah setelah design selesai
5.Penentuan harga buku
6.Mendistribusikan buku pada pembaca

Bagaimana dengan biaya-biaya yang dibutuhkan untuk melakukan keenam tahapan itu? Untuk penentuan naskah yang mau diterbitkan bisa dilakukan sendiri, jadi gratis. Untuk urusan design bisa diserahkan pada orang lain atau dilakukan sendiri untuk menghemat biaya namun menyita waktu, kecuali kita ini pengangguran. Kalau dikerjakan orang lain tentu hasilnya akan lebih memuaskan dan design isi buku juga akan lebih menarik dan bagus. Namun perlu biaya, biasanya dikenakan biaya per lembar, rata-rata antara 5000 hingga 20.000 Rupiah per lembarnya, tergantung sang designer, kalau teman kita sendiri harga itu bisa ditekan (kalau tega).
Selesai pendesainan, kita perlu mencetak isi buku tersebut, kecuali kalau kita mau menjualnya dalam bentuk ebook, tak perlu susah-susahlah mencetak. Namun sebelum buku dicetak, kita perlu membuat ISBN terlebih dahulu. Untuk beberapa peenerbit indie suka nggak buat ISBN, ribet katanya. Berdasarkan informasi yang langsung saya kutip dari situs Wikipedia, ISBN atau International Standard Book Number (arti harfiah Bahasa Indonesia: Angka Buku Standar Internasional) adalah pengindentikasi unik untuk buku-buku yang digunakan secara komersial. Sistem ISBN diciptakan di Britania Raya pada tahun 1966 oleh seorang pedagang buku dan alat-alat tulis W.H. Smith dan mulanya disebut Standard Book Numbering atau SBN (digunakan hingga tahun 1974). Sistem ini diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 tahun 1970. Pengidentikasi serupa, International Standard Serial Number (ISSN) digunakan untuk publikasi periodik seperti majalah.

ISBN diperuntukkan bagi penerbitan buku. Nomor ISBN tidak bisa dipergunakan secara sembarangan, diatur oleh sebuah lembaga internasional yang berkedudukan di Berlin, Jerman. Untuk memperolehnya bisa menghubungi perwakilan lembaga ISBN di tiap negara yang telah ditunjuk oleh lembaga internasional ISBN. Perwakilan lembaga internasional ISBN di Indonesia adalah Perpustakaan Nasional yang beralamat di Jalan Salemba, Jakarta.

Nomor ISBN dapat diperoleh dengan menghubungi Perpustakaan Nasional dengan cara datang langsung atau melalui faksimil dengan ketentuan berikut
1.Mengirimkan atau membawa surat permohonan yang berisi judul buku beserta sinopsis buku yang akan diterbitkan.

2.Membayar biaya administrasi Rp 25.000/judul buku (di negar-negara tertentu seperti Malaysia tidak dikenai biaya apa pun)

Proses untuk memperoleh nomor ISBN tidaklah rumit, terlebih bila datang sendiri ke Perpustakaan Nasional hanya memerlukan waktu beberapa jam.
ISBN terdiri dari 10 digit nomor dengan urutan penulisan adalah kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi.

Namun, mulai Januari 2007 penulisan ISBN mengalami perubahan mengikuti pola EAN (European Article Numbering System), yaitu 13 digit nomor. Perbedaannya hanya terletak pada tiga digit nomor pertama ditambah 978. Jadi, penulisan ISBN 13 digit adalah 978-kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi. Prefiks ISBN untuk negara Indonesia adalah 979 dan 602. Contoh pola ISBN untuk buku-buku di Indonesia:

978-602-penerbit-kode buku-no identifikasi
979-979-penerbit-kode buku-no identifikasi
979-602-penerbit-kode buku-no identifikasi

Catatan: untuk dua pola akhir belum digunakan dan akan digunakan apabila prefiks 978 sudah penuh. Hal ini berlaku untuk semua negara dimana prefiks awal 979 menggantikan penempatan prefiks 978.

Untuk biaya cetak carilah yang termurah (sudah pasti), apalagi kalau design buku yang sederhana tentu akan lebih murah lagi ongkos cetaknya. Kalau isi buku berwarna butuh biaya cetak yang besar, apalagi kalau dicetak di atas kertas art paper, akan lebih mahal lagi. Saat ini biaya cetak berkisar antara Rp3.000 hingga Rp30.000 per buku. Asumsi harga ini tergambar dari harga-harga buku yang beredar di toko buku. Misalnya, kalau harga buku itu sekitar Rp21.000 maka ongkos cetaknya sekitar Rp3000 per buku. Kalau harga buku Rp210.000 maka ongkos cetaknya itu berkisar 30.000. Ketebalan buku juga sangat menentukan harga. Untuk menentukan harga buku ini ada penjelasan khusus (sabar ya).

Prinsipnya dalam dunia percetakan, biaya cetak akan semakin murah kalau cetaknya banyak. Rata-rata, penulis-penulis indie mencetak bukunya berkisar antara 500 hingga 2000 eksemplar (eks). Harga cetak 500 eks itu hampir sama dengan 1000 eks (beda tipislah). Jadi daripada nyetak 500 mendingan nyetak 1000 eks. Dan harga cetak 1000 eks itu lebih mahal daripada nyetak 2000 eks, jadi lebih baik nyetak 2000 eks. Kalau nyetak cuma 500 eks, harga buku jadi lebih mahal. Rata-rata setiap penerbit komersil untuk cetakan pertama, cetak bukunya berkisar antara 3000 hingga 10.000 eks (kecuali buku pelajaran yang bisa mencapai 30.000 eks untuk cetakan pertama).

Habis nyetak, yang perlu dipikirkan adalah penentuan harga jual buku. Salah satu cara yang paling sering digunakan antara lain ongkos produksi dikali tujuh (Biaya Produksi X 7). Ongkos produksi ini dihitung mulai biaya desain, cetak, dan wara-wiri (biaya transport). Pengalaman beberapa teman saya, untuk satu judul buku rata-rata mereka bisa menghabiskan dana sekitar Rp10-15juta. Kalau total biaya produksi yang dihabiskan sekitar Rp10 juta dan buku yang dicetak sebanyak 2000 eks berarti ongkos produksi sekitar Rp5000 setiap bukunya. Jadi, harga buku itu bisa mencapai: Rp35.000 (Rp5000 x 7). Keuntungan yang diperoleh dari menjual 1000 eks saja bisa mencapai Rp35juta, berarti dapat untung sekitar Rp25juta. Andai sisa 1000 eks lagi tak laku atau dijual murah, kita tetap masih untung. Bisa dibayangkan sebuah penerbit besar dapat keuntungan tiap tahunnya berapa?

Tahap terakhir adalah masalah pendistribusian. Saat ini masalah prndistribusian tak perlu dikhawatirkan, banyak penerbit besar yang bersedia mendistribusikan buku kita ke berbagai toko buku dan penjuru nusantara. Biasanya fee yang dibayarkan berdasarkan kesepakatan masing-masing. Sebuah distributor buku adakalanya meminta margin keuntungan paling tinggi sebesar 60 banding 40, 60% keuntungan buat mereka sedang 40% buat kita. Andai keuntungan mencapai Rp25juta maka Rp15juta buat mereka, sisanya Rp10juta buat kita. Berarti kita masih dapat untung 10juta untuk biaya produksi 10juta (lumayan kan). Itu kalau yang laku 1000 eks, kalau lebih dari itu tentu lebih banyak lagi. Kalau tak laku? Hmmm, namanya juga bisnis.

Keuntungan menggunakan jasa distributor buku itu antara lain kita tak perlu repot memikirkan biaya distribusi, transportasi, iklan, maupun gaji marketing, kita tinggal terima laporan hasil penjualan dan pembagian keuntungan. Bayangkan kalau kita harus mendistribusikan buku sendiri, tentu repot. Apalagi kalau kita tak punya jaringan atau transportasi, pasti lebih repot. Kalau mau menjual ke toko buku juga banyak persyaratannya, harus punya NPWP, SIUP, dan sebagainya. Belum lagi pembagian keuntungan yang hampir sama dengan jasa ditributor.

Cara-cara menjadi self publisher di atas merupakan satu alternatif kalau mau berorientasi profit. Kalau mau pakai cara Vira Classic juga boleh, tapi jangan harap bisa cepat dapat profit. Kalau untuk pemula bolehlah, malah sangat dianjurkan, hitung-hitung buat belajar bisnis di dunia perbukuan. Kalau sudah tahu, tak salahlah menjadi lebih profesional. Siapa tahu bisa seperti Gramedia .

Terima kasih..

Sisiku yang lain bisa diobok-obok di www.abdi-husairi.blogspot.com dan http://yandanesia.blogspot.com/

1 komentar:

  1. ohh gitu tohh...
    mumpung saya punya percetakan, bisa dipraktekkan tuh
    makasiyaa

    BalasHapus