Rabu, 30 November 2011

Jakarta memerlukan bangku untuk sekedar duduk dan beristirahat



Kota Jakarta itu panas. Kita semua tahu. Namun tahukah bahwa anda betapa nelangsanya warga jakarta ketika berjalan. Panas, haus dan lelah setelah berjalan jauh, dan ketika mencoba duduk di pinggir jalan hanya sekedar untuk beristirahat malah diusir satpam penjaga gedung. Mau ke mall nanggung karena sama saja hasilnya.

Memang kita bisa beristirahat di warung kakilima di pinggir jalansambil minum segelas teh botol. Namun bagaimana jika ingn membuka bekal kita, apakah bisa numpang makan di warung makan. Saya rasa tidak boleh, kecuali kita membeli sesuatu disitu.

Padahal kita disarankan berhemat. Tapi zaman memang sudah berubah. Kita sekarang dipaksa untuk konsumtif. Dipaksa untuk selalu membeli sesuatu, bahkan hanya segelas air putih. Padahal jika bisa kita kurangi budaya konsumtif ini maka akan sedikit sampah yang kita buang. Sedikit biaya yang kita keluarkan dan semakin berguna rupiah yang kita punya.

Karena itu kita membutuhkan tempat untuk berteduh dan juga bangku untuk sekedar duduk. Apapun model dan bentuknya. Tidak perlu bagus dan mewah. Karena ketika capai dan lelah itu tiba para pejalan kaki perlu beristirahat dan sekedar duduk untuk memijat kakinya yang lelah. Jangan suruh mereka ke mall atau warung. Yang mereka perlukan hanya berhenti sebentar. Untuk mengambil nafas dan untuk menentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya dalam meneruskan hidup di kota yang sesak dan selalu terburu-buru ini.

Bangku dan tempat berteduh yang ada saat ini hanya halte bus. Itu pun bangkunya sudah semakin irit. Malah di depan Istana Negara tidak ada bangkunya sama sekali. Kita perlu lebih dari itu.

Saat ini, semenjak Monas diberi pagar, Jakarta menjadi sangat kejam. Tidak ada lagi tempat para pekerja beristirahat di siang hari. Hanya mesjid dan mushola yang selalu membukakan pintu untuk para pekerja beristirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar