Rabu, 03 Agustus 2011

Mengenal Kota Madiun


Jika kita ke kota Madiun yang pertama terpikir adalah kata brem. Tape yang dioleh dengan rasa asemnya. Padahal begitu kita kesana yang akan selalu dijumpai disetiap pinggir jalan adalah warung nasi pecel. Di hampir setiap sudut kota akan dengan mudah di jumpai ini.

Jika kita dari jogyakarta kita bisa naik KRD Madiun Jaya. Dengan tiket Rp 24.000 Pada awalnya merupakan kereta api yang melayani rute perjalanan Kertosono - Madiun - Solo Balapan dengan layanan kelas ekonomi. Namun, dikarenakan rute Kertosono - Madiun memiliki load factor yang kecil, maka rute tersebut dihapuskan dan hanya menjadi Madiun - Solo, berakhir di Solo Balapan. Namun pada tanggal 1 Juli 2010, Kereta Api Madiun Jaya melayani rute Madiun - Solo - Yogyakarta dan mendapat sambutan yang antusias dari warga madiun.

Kota ini terletak diantara 2 gunung besar. sehingga lambang daerahnya berupa 2 gunung. Yaitu gunung Wilis dan Lawu.

Masih banyak peninggalan rumah-rumah yang berbentuk art deco atau rumah zaman Belanda. Jangan heran karena masa belanda warga kotanya tidak mau dipimpin oleh bupati, jadi terpisah dari kepemimpinan orang jawa.

Madiun merupakan suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut Ki Ageng Ronggo. Asal kata Madiun dapat diartikan dari kata "medi" (hantu) dan "ayun-ayun" (berayunan), maksudnya adalah bahwa ketika Ronggo Jumeno melakukan "Babat tanah Madiun" terjadi banyak hantu yang berkeliaran. Penjelasan kedua karena nama keris yang dimiliki oleh Ronggo Jumeno bernama keris Tundhung Medhiun. Pada mulanya bukan dinamakan Madiun, tetapi Wonoasri.

Sejak awal Madiun merupakan sebuah wilayah di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dalam perjalanan sejarah Mataram, Madiun memang sangat strategis mengingat wilayahnya terletak di tengah-tengah perbatasan dengan Kerajaan Kadiri (Daha). Oleh karena itu pada masa pemerintahan Mataram banyak pemberontak-pemberontak kerajaan Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun. Seperti munculnya tokoh Retno Dumilah.

Beberapa peninggalan keadipatian Madiun salah satunya dapat dilihat di Kelurahan Kuncen, dimana terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari selain makam para Bupati Madiun, Masjid Tertua di Madiun yaitu Masjid Nur Hidayatullah, artefak-artefak disekeliling masjid, serta sendang (tempat pemandian) keramat.

Sejak masa Hindia-Belanda, Madiun adalah suatu gemeente yang berpemerintahan sendiri (swapraja) karena komunitas Belanda yang bekerja di berbagai perkebunan dan industri tidak ingin diperintah oleh Bupati (yang adalah orang Jawa). Sebagai suatu kota swapraja, Madiun didirikan 20 Juni 1918, dengan dipimpin pertama kali oleh asisten residen Madiun. Kota Madiun terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Kartoharjo, Manguharjo, Taman, dan Jiwan.

Saat ini kota Madiun mulai berdandan, tapi saya rasa akan tetap sepi, walau Pusat Perbelanjaan mulai tumbuh karena penduduknya emang sedikit, ini beberapa pusat belanja di madiun sbb:

1. Plaza Madiun di Jalan Pahlawan
2. Matahari Plaza di Jalan Pahlawan
3. Sri Ratu 1 dan 2 di Jalan Pahlawan dan Jalan Kalimantan
4. Timbul Jaya Plaza di Jalan Pahlawan
5. DTC Madiun Four di Jalan DR.Soetomo
6. Presiden Plasa Utama di Jalan Jenderal Sudirman
7. Presiden Plasa(Bursa Handphone) di Jalan Alun-alun Timur
8. Mall Madiun Putra Indah di Jalan D.I Panjaitan
9. Maditos (Madiun Town Square) di Jalan Achmad Yani
10. Carrefour Madiun di Jalan S.Parman
11. Carrefour Manguharjo di Jalan Urip Sumoharjo
12. Pasar Besar Madiun di jalan Jenderal Sudirman
13. Pasar Joyo di Jalan Imam Bonjol
14. Pasar Sleko di Jalan Trunojoyo
15. Pasar Sambirejo di Jalan Raya Gorang Gareng
16. Pasar Logam Jaya di Jalan Slamet Riyadi
17. Pasar Ikan Putra di Jalan Pelita Tama
18. Pasar Burung Sri Jaya di Jalan Pelita Tama
19. Pasar Sukoasri di Jalan Mangun Karya

Banyak sekali monumen-monumen perjuangan di kota ini. namun kecil-kecil, selalu tertutup oleh pepohonan atau toko-toko dan tidak terawat. Di Kota ini terdapat pusat industri kereta api (INKA). Madiun dikenal memiliki Lapangan Terbang Iswahyudi, yakni salah satu pangkalan utama AURI, meski sebenarnya terletak di Kabupaten Magetan.

Jadi.. Kalau sempat mampirlah ke madiun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar